M Kholili, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel (SA) Surabaya.

SURABAYA | duta.co – Kabar Pengurus Cabang PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Surabaya akan mengerahkan massa untuk membubarkan deklarasi KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) di Surabaya, mendapat tanggapan sinis dari seniornya, M Kholili.

Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel (SA) Surabaya, jurusan Tafsir-Hadits ini, menilai, bahwa ancaman pengurus PMII Surabaya itu sebagai langkah mundur organisasi kemahasiswaan.

“Geli saja membacanya. PMII itu organisasi kemahasiswaan, bukan organisasi tawuran. Mestinya PMII hadir sebagai penyeimbang dalam pemikiran. Bukan sedikit-sedikit mengancam demo, kok seakan-akan tidak ada kerjaan saja. Lama-lama mereka distigma sebagai kelompok defisit pemikiran,” jelas Kholili kepada duta.co, Selasa (15/9/2020).

Menurut Kholili, jika PMII ingin dikenal sebagai kelompok intelektual yang hebat, maka, harus membuat analisa kritis sebagai narasi konstruktif, bukan main demo yang menganggu kenyamanan dan kondusifitas berbangsa.

“Kalau hanya tahu demo, malu kita pada pendiri bangsa. Dan kasihan juga kader-kader PMII yang ingin mengenal lebih dekat dengannya (PMII),” jelas aktivis PMII tersebut.

Ditanya soal kehadiran KAMI, Kholili menilai wajar-wajar saja sebagai langkah untuk menyelamatkan Indonesia. Semua mafhum, bahwa, bangsa ini sedang ‘oleng’ diterjang masalah. Pemerintah butuh dan perlu kepedulian rakyatnya.

“KAMI hadir sebagai penyeimbang dalam berbangsa, walaupun secara pribadi, saya tidak begitu afirmatif terhadap kehadiran KAMI. Namun bangsa ini memang perlu orang-orang pemikir kritis, biar pemerintah ini waspada dalam melangkah dan memberikan keputusan, sehingga kebijakannya menjadi benar,” tegasnya.

Seperti diberitakan beritajatim.com Ketua Umum PC PMII Surabaya Nurul Haqqi, menolak keras adanya deklarasi KAMI di Surabaya dan berjanji akan menurunkan massa aksi untuk membubarkan, jika aksi deklarasi KAMI di Surabaya tetap dilakukan.

“Saya mengimbau kepada oknum-oknum penggiat dan patron gerakan deklarasi KAMI ini agar di Surabaya tidak melakukan deklarasi tersebut. Sekali lagi saya menyampaikan kepada seluruh komponen yang terlibat dalam deklarasi tersebut, agar membatalkan deklarasi tersebut sebelum kita selaku mahasiswa PC PMII Surabaya melakukan pembubaran aksi tersebut,” tegasnya.

PMII Surabaya, lanjutnya, saat ini juga menjadi mitra kritis pemerintah, dan tetap mengakui pemerintahan yang terpilih secara demokrasi dan secara aturan yang diatur oleh Undang-undang 1945 dan menolak adanya gerakan yang bermuara pada kegiatan makar.

“Kami tidak sepakat jika ada gerakan-gerakan yang kemudian bermuara pada kegiatan makar. Jika memang ada yang salah dengan pemerintah atau ada yang salah dengan birokrasi dalam penyelenggaraan negara silakan dikritik. Silakan disampaikan, karena itu yang biasa kita lakukan karena berpendapat di muka umum juga dilindungi oleh hukum. Namun, jika gerakan itu bermuara pada perpecahan bangsa dengan dalih menyelamatkan Indonesia, saya tidak sepakat,” pungkasnya.

Ada Distorsi Informasi

Prof Dr Rochmat Wahab, salah satu deklarator KAMI, mengaku heran dengan tudingan makar. Menurutnya, kehadiran KAMI ini justru untuk membantu pemerintah, di mana kita sadari, hari-hari ini, bangsa Indonesia tengah didera banyak masalah.

Prof Dr Rochmat Wahab saat memberikan sambutan di depan para kiai. (FT/MKY)

“Problem bangsa ini kian menumpuk. Butuh kebersamaan, butuh sumbang sih seluruh anak bangsa. KAMI hadir untuk ikut serta memberi solusi. Bukan makar. Justru kehadiran KAMI ini akan membawa manfaat bagi pemerintah. Ironisnya, ada distorsi informasi. Dibilang makar. Mestinya, mereka ini tabayun dulu, kalau memang belum mengenal KAMI,” jelasnya kepada duta.co.

Masih menurut Prof Dr Rochmat Wahab, adalah dosa (KAMI) sebagai bangsa, kalau hanya diam saja menyaksikan kondisi yang terpuruk. Adalah dosa, kalau KAMI hanya menunggu uluran tangan pemerintah. Adalah dosa, kalau KAMI hanya menunggu bantuan lunak pemerintah.

“Ayo bangkit! Bantu pemerintah untuk mengatasi seluruh masalah. Karena KAMI paham, bahwa, problem bangsa ini menumpuk, tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Sebagai rakyat, harus ikut bergerak menyelamatkan Indonesia. Paham bukan?,” jelasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry