Kepala SKK Migas Jabanusa Ali Masyhar (tengah) diapit Kepala Divisi Program SKK Migas Wisnu Prabawa Taher (kanan) dan Rangga Dinasti di sela media gathering SKK Migas Jabanusa di Surabaya, Rabu (30/1). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Sampai saat ini Indonesia masih mengimpor minyak. Hal itu terjadi karena kebutuhan minyak nasional belum diimbangi dengan produksi.

Saat ini kebutuhan minyak nasional sebesar 1,6 juta barel per hari sementara produksi pada 2018 lalu,  baru mencapai 756 barel per hari.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Ali Masyhar mengatakan memang ada gap antara kebutuhan dan produksi minyak.

“Karenanya ketika dollar (USD) naik semua yang berhubungan dengan minyak di Indonesia itu terpengaruh. Karena kita beli minyak dari luar itu pakai dollar,” ujar Ali Masyhar di Surabaya, Rabu (30/1).

Pemerintah kata Ali sudah berupaya untuk memperkecil gap antara produksi dan kebutuhan itu.

Sehingga nantinya tidak terlalu menggerus anggaran pemerintah untuk rakyat. Karenanya pemerintah dan SKK migas memiliki mimpi pada 2030 mendatang produksi minyak nasional bisa mencapai 1 juta barel per hari.

“Memiliki mimpi itu bagus, daripada tidak. Kalau tidak punya mimpi kita tidak melakukan apa-apa. Karenanya, sekarang kami berupaya untuk mencari investor untuk bisa mencari potensi minyak baru di Indonesia,” tandas Ali.

Prospek atau potensi migas di Indonesia ini masih cukup bagus. Sehingga banyak investor yang ingin masuk untuk melakukan eksplorasi (mencari sumber minyak baru).

Bahkan, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang sudah mulai eksis di Indonesia mencoba untuk melakukan eksplorasi baru. Ada yang sudah tahap eksploitasi ada yang belum.

“Seperti Lapindo Brantas Inc rencana pada 20 Februari mendatang akan melakukan produksi minyak pertama mereka di Metro Jombang. Ada beberapa lagi yang juga akan berproduksi milik KKKS yang lain,” tandas Ali.

Diakui Ali, SKK Migas Jabanusa saat beruntung karena banyak potensi yang bisa digali untuk menambah jumlah produksi migas.

Bahkan saat ini SKK Migas Jabanusa bisa memberikan kontribusi sebesar 35 persen migas dari total produksi migas nasional yang mencapai angka 756 barel minyak per hari. “Cukup besar lo, jangan main-main,” tukasnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Kepala Divisi Program SKK Migas Wisnu Prabawa menambahkan bahwa pada 2019 ini, SKK Migas memiliki 13 proyek onstream yang sangat strategis.

Proyek itu terdiri dari tiga minyak dan 10 gas.  “Ini akan menarik lagi bagi investor untuk ikut mengembangkannya,” tukasnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.