KOMODITAS : Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Difi A Johansyah (kiri) bersama Ketua Dewan Kopi Nasional Jawa Timur, Prof Dr KH. Muhammad Zaki saat acara Ngopi Bareng di Museum BI Surabaya, Senin (11/3). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Sampai saat ini kebutuhan kopi di Jawa Timur masih belum bisa terpenuhi secara maksimal.

Dari data yang ada, produksi kopi di provinsi ini masih 70 persen memenuhi kebutuhan kopi di Jawa Timur yang mencapai 1 juta kilogram per tahun.

Sehingga mau tidak mau harus mendatangkan kopi dari berbagai daerah bahkan hingga impor dari beberapa negara penghasil kopi.

Ketua Dewan Kopi Nasional Jawa Timur, Muhammad Zakki mengatakan sampai saat ini produksi kopi di Jawa Timur hanya 750 hingga 1.000 kilogram per hektar. Produksi ini karena pertaniannya masih sangat tradisional belum modern.

“Kalau sudah modern kita target bisa menghasilkan 1.500 kilogram kopi per hektarnya. Kita sedang berupaya melakukan ke arah sana,” ujar Zakki di sela acara Ngopi Bareng dengan Bank Indonesia di Museum BI Surabaya, Senin (11/3).

Konsumsi kopi yang sangat besar di Jatim ini memang belum diimbangi dengan produksi yang memadai. Karena itu Dewan Kopi Nasional Jawa Timur sedang berupaya untuk melakukan edukasi ke petani.

Di mana petani bukan sekadar menanam kopi terus memanen dan menjualnya ke tengkulak. Tapi harus melakukan pengolahan dari hulu hingga hilir.

“Kendalanya memang belum ada pengetahuan yang memadai dari para petani. Kita dari Dewan Kopi memang harus melakukan edukasi supaya petani kita menjadi pintar. Petani harus diberdayakan dan diberi pengetahuan sehingga mereka tahu cara memilih bibit unggul kopi, bertanam hingga cara memetiknya,” jelas Zakki.

Diakui Zakki Jawa Timur dikenal sebagai penghasil kopi dengan cita rasa yang sangat tinggi. Tidak pantas dengan lahan kopi yang sangat luas yang mencapai 30 juta hektar harus mendatangkan kopi dari luar daerah bahkan dari luar negeri.

“Kita ini miris. Apalagi kita diprediksi pada 2030 Indonesia akan menjadi importir kopi yang sangat besar. Jangan sampai ini terjadi,” tukasnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Difi A Johansyah mengaku salut dengan perubahan yang cukup dahsyat terutama gaya hidup kaum urban di kota besar seperti Surabaya. Mereka sudah mulai suka nongkrong di kedai kopi dengan untuk sekadar bersosialisasi.

“Dan saya salutnya banyak tempat nongkrong itu yang dikelola oleh kaum millennial. Itu menjamur banyak sekali. Mereka punya keahlian yang sungguh luar biasa,” tukasnya.

Dengan kondisi ini, tantangannya sangat luar biasa. Bahan baku kopi harus tersedia secara maksimal agar kebutuhan itu tidak dipenuhi dari daerah lain apalagi harus impor.

“Kabarnya ada yang mau masuk 150 kontainer kopi dari luar negeri. Tidak bisa disalahkan karena memang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” tandas Difi.

Karena itu, produksi harus ditingkatkan. Difi berpikir bagaimana perkebunan kopi itu bisa diremajakan dan dilperluas sehingga nantinya kebutuhan kopi dalam negeri bisa dipenuhi.

Bank Indonesia sendiri kata Difi ingin membuat perkembangan kopi yang berkesinambungan. “Selama ii pohon kopi kita itu adalah warisan Belanda, maka memang perlu dilakukan sesuatu perubahan,” ungkapnya.

Selain itu, ke depan harus membuat agar kualitas pengolahan kopi lebih baik lagi dan seragam. Sehingga nantinya tingkat penerimaan masyarakat lebih bagus. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.