SEMARANG | duta.co – Jumlah jam mengajar guru pada satuan-satuan pendidikan saat ini terlalu banyak. Akibatnya, realisasi tugas guru untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan pada peserta didik tidak maksimal.

Hal itulah yang menjadi sorotan Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang (DPKS) Dr Drs Budiyanto SH,M.Hum. Menurutnya karena beban mengajar terlalu banyak menjadikan para guru tidak dapat merealisasikan pendidikan karakter pada peserta didik secara maksimal.

“Maka jangan heran kalau saat ini muncul tanda-tanda nasionalisme generasi muda, terutama peserta didik tingkat dasar dan menengah makin tergerus, “kata Budiyanto dalam seminar kebangsaan yang diselenggarakan DPKS bersama DPR RI di hotel Muria Semarang, baru-baru ini.

Dalam siaran persnya, Minggu (24/10/2021) Budiyanto menuturkan, saat ini masih ada waktu dan kesempatan untuk melakukan penguatan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air atau nasionalisme melalui jalur pendidikan. Caranya dengan mengurangi alokasi waktu mengajar para guru agar tidak terbebani persoalan-persoalan administratuf saja.

Sehingga lanjutnya, guru memiliki waktu yang cukup untuk membangun karakter peserta didik. Para pengambil kebijakan harus berani melakukan terobosan dengan menyeimbangkan tugas mengajar dan mendidik yang dibebankan kepada para guru.

Dia menambahkan, guru jangan sampai mendapat 40 jam mengajar yang akhirnya guru hanya terpancang waktu untuk tugas mengajar saja. Sementara peran mendidik, membimbing atau membina murid-murid agar terbangun karakter jadi terabaikan.

Padahal, ujarnya, tugas-tugas pembentukan karakter sangat penting bagi para penerus bangsa. Selain itu, padatnya jam mengajar membuat guru kesusahan karena tidak punya waktu yang cukup untuk mengurus pangkatnya sendiri.

Anggota Komisi IX DPR RI Fadholi, mengatakan jam wajib mengajar bagi guru di Indonesia terlalu lama, termasuk yang terjadi seperti selakarang, hal ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan karakter anak.

Menurutnya, 40 jam wajib mengajar bagi guru terlalu padat. Sehingga, guru hanya berfokus pada kegiatan belajar mengajar saja tanpa mendidik karakter anak. “Perlu adanya peninjauan kembali jam belajar mengajar guru yang perlu dilaksanakan oleh guru, yaitu 40 jam. Ini kan terasa kesibukan guru hanya memberikan aspek kognitif,” ujarnya

Menurutnya, fokusnya guru kepada aspek kognitif akan menghilangkan aspek-aspek lainnya seperti pendidikan dan nasional. “Untuk itu akan kita sampaikan kepada kementerian yang terkait dalam hal ini, tentunya menteri pendidikan,” ujarnya. (rif)

Keterangan Foto: Seminar Kebangsaaan Dewan Pendidikan Kota Semarang bersama DPRRI di Hotel Muria (dok)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry