Annif Munjidah, SST., M.Kes – Dosen Prodi DIII Kebidanan

NALURI seksual merupakan sunnatullah yang kuat dan sangat penting bagi eksistensi manusia. Dalam dunia kesehatan, kebutuhan seksual ini termasuk dalam kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi.

Namun dewasa ini mulai muncul fenomena dimensi penyimpangan seksual yang disebut lesbian, gay, biseksual, transeksual (LGBT).  Lesbian ialah suatu orientasi seksual yang mana perempuan menyukai sesama perempuan. Lalu Gay adalah sebutan untuk seorang laki-laki yang menyukai sesama laki-laki.

Sementara Biseksual ialah sebutan seseorang yang dapat tertarik dengan laki-laki maupun perempuan. Lalu Transgender ialah seseorang yang memiliki penampilan atau perilaku berkebalikan dengan jenis kelaminnya.

Para pakar menyatakan penyimpangan seksual disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: gangguan hormon, potensi genetik, faktor lingkungan dan juga pendidikan seks yang keliru ( Ija Suntana. 2015).

Selama ini tidak sedikit pemberian edukasi tentang “seks” atau “alat kelamin” dan hal-hal yang terkait “organ” tubuh diberikan secara konseptual, dengan ruang lingkup yang sempit, yang malah menjadikan anak semakin penasaran,  dan mencari informasi seksual yang semestinya belum ia dapatkan. Bahkan dapat menjerumuskan anak ke dalam praktik dan penyimpangan seksual yang sebenarnya (Ani-ch. 2018)

Pendidikan seksual yang paling mendasar pada anak diarahkan kepada hakikat bagaimana anak mampu bersikap, berperilaku dan berpandangan hidup sebagai laki-laki dan perempuan sesuai kodrat yang diberikan Allah SWT. Selain dari pengarahan dari hakikat “seks” atau jenis kelamin itu sendiri. Tips dalam praktik pendidikan seksual pada anak dibawah usia 7 tahun.

  1. Membiasakan anak berpakaian dengan benar sesuai jenis kelamin. Dengan cara membiasakan anak berpakaian dengan benar sekaligus mengajari anak menutup aurat, dan memberi penekanan bahwa pakaian tidak boleh ketat dan transparan
  2. Orang tua harus tenang dalam menjawab pertanyaan anak. Bersikap gugup akan membuat anak akan ber respon berlebihan
  3. Berikan pertanyaan balik kepada anak, hal ini sebagai upaya orang tua dalam menenangkan diri sebelum menjawab pertanyaan anak, missal nya “adik tahu dari mana?”
  4. Jangan memarahi, atau bersikap cuek pada anak, usahakan pandangan mata sejajar dengan anak saat berkomunikasi
  5. Jawab pertanyaan anak secara sederhana, hindari penjelasan yang berlebihan terkait
  6. Gunakan kosa kata baku, misalnya dalam penyebutan alat kelamin dengan istilah “kemaluan” yang berarti memang sesuatu yang kalau dilihat orang lain, kita sendiri harus malu. Jangan menganalogkan dengan “apem”, “burung” dan lainnya.

Tips untuk anak yang berusia lebih dari 7 tahun-12 tahun

  1. Selipkan nilai-nilai dalam penjelasan, “ini baik”, “ini tidak baik”, “ini tidak pantas ditiru” dll
  2. Cukup jawab apa yang ditanyakan anak, jangan member contoh yang dapat memicu imajinasi anak
  3. Perhatikan ekspresi anak, jangan menjelaskan hal yang tdk ia tanyakan, tanda diamnya anak pertanda penjelasan kita sudah cukup, sampaikan pada anak kapan-kapan bisa tanya lagi, “jangan takut kalo ada pertanyaan bisa disampaikan lagi”
  4. Pada saat anak berusia 10 tahun, pisahkan kamar tidur nya dengan orang tua atau saudara kandung yang berbeda jenis kelaminnya.
  5. Ajarkan anak untuk meminta ijin jika masuk kamar orang tua
  6. Ajarkan anak mencuci celana dalamya sendiri, tekankan bahwa hal tersebut adalah hal privasi, yang harus dijaga dari orang lain
  7. Beberapa informasi wajib disampaikan orang tua terkait tanda kedewasaan anak (baligh) yakni: aspek kedewasaan, aspek reproduksi, aspek kesehatan, aspek aktivitas dan pergaulan. (Aci-Ch. 2018). *
Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry