
JAKARTA | duta.co – Belum kelihatan pelurusan pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut ‘Kabur ke Yaman’ saat groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II, Cilacap, Jawa Tengah pekan lalu. Atau memang tidak perlu ada. Yang jelas, kini, Presiden Prabowo tengah sibuk memimpin rapat terbatas (ratas) bersama jajaran Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/5/2026).
Agenda tersebut secara khusus membahas perlindungan tenaga kerja serta optimalisasi peran perguruan tinggi dalam pembangunan nasional. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet, Minggu (3/5/2026), menyampaikan rapat berlangsung dari sore hingga malam hari dan membahas sejumlah isu strategis.
Pertemuan ini diarahkan untuk merumuskan kebijakan yang mampu melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dalam pembahasan sektor ketenagakerjaan, Presiden Prabowo memberikan perhatian besar terhadap aspirasi serikat pekerja dari berbagai daerah. Aspirasi tersebut menjadi bahan pertimbangan penting dalam penyusunan kebijakan pemerintah yang berpihak pada buruh.
Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah yang sebelumnya telah menyampaikan sejumlah kebijakan pro-pekerja saat peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2026 di Monumen Nasional, Jakarta. Demikian kabar dari berbagai media mainstream.
Selain isu buruh, ratas juga menyoroti peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah. Pemerintah mendorong kampus untuk lebih aktif terlibat dalam pengembangan wilayah sesuai dengan potensi masing-masing.
Rapat terbatas tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, serta Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita.
Hadir pula para kepala staf TNI, yakni Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dan KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali, serta Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) M Herindra. Selain itu, rapat diikuti Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Sejumlah pejabat lain yang turut hadir, antara lain Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, serta Direktur Utama PT Pindad Sigit Puji Santosa.
Rapat ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat sinergi lintas sektor dalam merumuskan kebijakan yang adaptif terhadap tantangan nasional, khususnya dalam bidang ketenagakerjaan dan pendidikan tinggi.
Netizen ‘Umek’’ Soal Yaman
Dunia medsos masih ramai (umek) soal sindiran tajam Presiden Prabowo yang ditujukan kepada mereka yang sering menyebut Indonesia sebagai negara yang gelap atau memiliki prospek suram. Bahkan ada medsos yang ‘merekayasa’ pidato itu dengan komentar Mahfud MD dan Rocky Gerung. Di mana, keduanya setuju dengan anggapan anak-anak muda yang melihat Indonesia Gelap.
Rocky Gerung, tulis beritambang.com, tahun 2025 lalu, sudah menyebut keadaan Indonesia gelap tidak boleh dibatalkan hanya dengan mengatakan ‘Pak Prabowo adalah orang yang bisa kita percaya’. Dalam sebuah podcast, Rocky menilai kemampuan komunikasi Istana sangat buruk dan cenderung defensif.
“Untuk apa defensif toh faktanya ada di keadaan statistik ekonomi dan politik kita. Itu yang menyebabkan dirumuskannya suatu tagline Indonesia Gelap. Dan kegelapan itu dirasakan real oleh emak-emak, bahkan anak-anak SD tahu bahwa ada yang tidak benar dalam sistem pendidikan sehingga guru jarang datang dan mereka ditelantarkan,” tegas Rocky saat itu.
“Indonesia gelap itu bukan semacam keputusasaan, tapi sebagai protes kami gelap loh, terangi dong, mestinya nyalakan lampu bukan menghukum mereka seakan mereka tidak paham hak mereka,” tegas Rocky.
Seperti ditulis Heru Subagia, Pengamat Politik dan Ekonomi di website mudanews.com dengan Serangan Prabowo,Ke Orang-orang Pintar Bumerang Bagi Sang Jendral. Tulisan dalam rubrik OPINI itu menyoal ‘Kebencian Akut Sang Jendral Prabowo Ke Orang, Pintar, Alasannya Faktual Atau Halu?. “Untuk kesekian kalinya, Prabowo Subianto merasakan ketidaknyamanannya terhadap orang pintar sebagai pihak dilawannya,” begitu prolog tulisan yang dibuat Heru.
Dalam pidato resmi, tulisnya, Presiden RI Prabowo Subianto menyentil keras pihak yang dalam pandangannya tidak patriotik dan cinta tanah air. Situasi acara semakin mendadak tegang ketika pidatonya di Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II, Cilacap, Jateng, Rabu (29/4), Prabowo kembali menyinggung narasi ‘Indonesia Gelap’ dan ‘kabur aja dulu’ yang sempat ramai beberapa waktu lalu.
“Ada yang mau kabur. Ada yang mau kabur, kabur aja, kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan,” kata Prabowo dikutip ulang Heru.
Persoalan bukan tambah takut atau mundur untuk bersuara, mereka justru merespon apa yang dikatakan agenda “Perang Lawan Orang Pintar”. Sejumlah Kritik sengaja dilontarkan untuk menjawab Pidato Prabowo adalah pernyataan paling kejam dan eror bagi Bangsa Indonesia dan warganya sendiri.
“Pertama, menyoroti pernyataan Prabowo yang meminta pihak-pihak yang menganggap Indonesia dalam kondisi “gelap” atau mereka yang disebut “orang pintar” untuk “kabur ke Yaman. Apa yang diucapkan oleh Prabowo tersebut tidak hati-hati dan tidak rasional, bahkan pernyataan ini emosional dan kontra produktif bagi seorang pemimpin yang dipilih secara langsung di pilpres 2024. Dinilai p rovokatif dan menyakiti rakyatnya sendiri,” tegasnya.
Sudah menjadi catatan khusus, terangnya, bahwa, pernyataan ini muncul dalam konteks kekesalan Presiden secara berulang-ulang dan spontan diucapkan terhadap para pengkritik dan pengamat yang sering melontarkan kritik kepada pemerintah.
“Perlu dijawab oleh Prabowo sejauh mana seorang presiden mencerna dan menganalisis “Orang Pintar” hingga diwujudkan sebagai lawan. Seharusnya terbuka ruangan diskusi mengenai mengapa Presiden seolah memposisikan pengamat atau orang kritis sebagai musuh, alih-alih merangkul mereka sebagai bagian dari proses check and balance dalam demokrasi,” terangnya.
“Kedua, Prabowo sering melakukan pemahaman dan cara berfikir yang terbalik-balik. Terjadi apa yang disebutkan Kontradiksi kontruksi pemikiran. Presiden terpilih 58 persen di Pilpres 2024 kemarin , melekat ketidakkonsistenan retorika baik ucapannya dan tindakan sebagai Presiden, misalnya antara kutipan “ingin hidup 1000 tahun lagi” untuk melihat Indonesia makmur dengan prediksi masa lalu tentang “Indonesia bubar”,” urainya.
“Ketiga, Kritik terhadap lingkungan istana, Penulis berpendapat bahwa adanya penyumbatan informasi di sekitar Presiden menyebabkan informasi faktual dan kritis dari masyarakat tidak tersampaikan dengan baik. Istana dan komunikasinya harus dibredel dan digantikan orang-orang kepercayaan baru yang lebih pandai dan pintar menyeimbangkan kepentingan masyarakat dan juga kepentingan yang sangat urgent untuk bisa masuk langsung ke telinga Presiden,” tambahnya.
“Betul, ada penyaringan informasi ketat tetapi bukan justru informasi yang memberikan masukan dan kritik diplintir sebagai agenda makar dan menyerang harkat martabat Presiden. Alhasil, cara pandang Prabowo semakin dibenarkan oleh informasi yang sudah disesatkan oleh lingkungan dan istana,” demikian pandangan Heru.
Kritiknya ditutup dengan kalimat menarik: “Secara keseluruhan, bahwa posisi seorang presiden seharusnya mewakili seluruh rakyat Indonesia dan berharap masukan-masukan yang lebih progresif dapat diberikan kepada Presiden agar tidak terjadi kegaduhan komunikasi di masa depan,” katanya.
Terbaru, ada unggahan berupa lagu dari ‘Gadis Desa’ di medsos dengan tajuk ‘Kabur ke Yordan Gitaris Gadungan’. Ia tak segan-segan menilai adanya perubahan drastis ketika berada di kekuasaan. Kritik sudah dianggap perlawanan, suara rakyat sudah tidak dihiraukan.
Ia juga menyebut peristiwa 1998, di mana dia kabur ke Yordan. “Sekarang (Yang) beda suara kau anggap lawan, Yang tak sejalan suruh minggat ke Yaman,” kata gitaris perempuan itu. (mky, net, sumber mudanews.com)





































