SURABAYA | duta.co – Tidak sedikit ‘pemuji’ Presiden Prabowo Subianto berpindah haluan, menjadi ‘pembenci’. Semakin klimaks. Hari-hari ini publik digegerkan dengan pernyataan Presiden Prabowo yang dianggap aneh, alias tidak biasa.

“Saya sendiri heran, kok bisa jadi begini Prabowo. Dulu (dia) yang kita banggakan karena tidak memelihara dendam, sekarang pidatonya mengerikan. Sampai berani menyebut negara orang (Yaman). Yakin, bukan Prabowo yang dulu ini,” tegas KH Syaifudin Zuhri kepada duta.co, Jumat (1/5/26).

Dalam pantuan duta.co, kemarahan di jagat medsos sudah sulit dibendung. Komentar negatif terkait pernyataan Presiden Prabowo terus bertebaran. Dari 10 kritik keras, misalnya, kira-kira hanya 2 yang membelanya, itu pun tidak masuk akal. Semua ini hanya terfokus pada acara groundbreaking proyek hilirisasi, Kawasan Industri Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).

Sebagaimana dikutip detik.com, Prabowo mengatakan: “Terus kita dibikin apa lagi? Indonesia gelap. Matanya buram Indonesia gelap. Indonesia terang. Ada yang mau kabur? Kabur aja. Kok kabur aja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman ya? Silakan. Mau kabur ke mana?” ucapnya diunggah berbagai media, termasuk detik.com.

Komentarnya saur manuk. Dan, ini sangat  berbahaya bagi masa depan Indonesia. Bukan cuma masalah menyebut negara Yaman, tetapi kacamata politik Prabowo sudah bergeser jauh. Seperti ditulis Heru Subagia, Pengamat Politik dan Ekonomi di website mudanews.com. Judulnya menarik: Serangan Prabowo,Ke Orang-orang Pintar Bumerang Bagi Sang Jendral.

Tulisan dalam rubrik OPINI itu menyoal ‘Kebencian Akut Sang Jendral Prabowo Ke Orang, Pintar, Alasannya Faktual Atau Halu?. “Untuk kesekian kalinya, Prabowo Subianto merasakan ketidaknyamanannya terhadap orang pintar sebagai pihak dilawannya,” begitu prolog tulisan yang dibuat Heru.

Dalam pidato resmi, tulisnya, Presiden RI Prabowo Subianto menyentil keras pihak yang dalam pandangannya tidak patriotik dan cinta tanah air. Situasi acara semakin mendadak tegang ketika pidatonya di Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II, Cilacap, Jateng, Rabu (29/4), Prabowo kembali menyinggung narasi ‘Indonesia Gelap’ dan ‘kabur aja dulu’ yang sempat ramai beberapa waktu lalu.

“Ada yang mau kabur. Ada yang mau kabur, kabur aja, kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan,” kata Prabowo dikutip ulang Heru.

Persoalan bukan tambah takut atau mundur untuk bersuara ketaa merespon apa yang dikatakan agenda “Perang Lawan Orang Pintar”. Sejumlah Kritik sengaja dilontarkan untuk menjawab Pidato Prabowo adalah pernyataan paling kejam dan eror bagi Bangsa Indonesia dan warganya sendiri.

Pertama, menyoroti pernyataan Prabowo yang meminta pihak-pihak yang menganggap Indonesia dalam kondisi “gelap” atau mereka yang disebut “orang pintar” untuk “kabur ke Yaman. Apa yang diucapkan oleh Prabowo tersebut tidak hati-hati dan tidak rasionaal, bahkan pernyataan ini emosional dan kontraproduktif bagi seorang pemimpin yang dipilih secara langsung di pilpres 2024. Dinilai p rovokatif dan menyakiti rakyatnya sendiri,” tegasnya.

Sudah menjadi catatan khusus, terangnya, bahwa, pernyataan ini muncul dalam konteks kekesalan Presiden secara berulang-ulang dan spontan diucapkan terhadap para pengkritik dan pengamat yang sering melontarkan kritik kepada pemerintah.

“Perlu dijawab oleh Prabowo sejauh mana seorang presiden mencerna dan menganalisis “Orang Pintar” hingga diwujudkan sebagai lawan. Seharusnya terbuka ruangan diskusi mengenai mengapa Presiden seolah memposisikan pengamat atau orang kritis sebagai musuh, alih-alih merangkul mereka sebagai bagian dari proses check and balance dalam demokrasi,” terangnya.

Kedua, Prabowo sering melakukan pemahaman dan cara berfikir yang terbalik-balik. Terjadi apa yang disebutkan Kontradiksi kontruksi pemikiran. Presiden terpilih 58 persen di Pilpres 2024 kemarin , melekat ketidakkonsistenan retorika baik ucapannya dan tindakan sebagai Presiden, misalnya antara kutipan “ingin hidup 1000 tahun lagi” untuk melihat Indonesia makmur dengan prediksi masa lalu tentang “Indonesia bubar”,” urainya.

Ketiga, Kritik terhadap lingkungan istana, Penulis berpendapat bahwa adanya penyumbatan informasi di sekitar Presiden menyebabkan informasi faktual dan kritis dari masyarakat tidak tersampaikan dengan baik. Istana dan komunikasinya harus dibredel dan digantikan orang-orang kepercayaan baru yang lebih pandai dan pintar menyeimbangkan kepentingan masyarakat dan juga kepentingan yang sangat urgent untuk bisa masuk langsung ke telinga Presiden,” tambahnya.

“Betul, ada penyaringan informasi ketat tetapi bukan justru informasi yang memberikan masukan dan kritik diplintir sebagai agenda makar dan menyerang harkat martabat Presiden. Alhasil, cara pandang Prabowo semakin dibenarkan oleh informasi yang sudah disesatkan oleh lingkungan dan istana,” demikian pandangan Heru.

Kritiknya ditutup dengan kalimat menarik: “Secara keseluruhan, pembicara menekankan bahwa posisi seorang presiden seharusnya mewakili seluruh rakyat Indonesia dan berharap masukan-masukan yang lebih progresif dapat diberikan kepada Presiden agar tidak terjadi kegaduhan komunikasi di masa depan.” (mky, sumber mudanews.com)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry