SURABAYA | duta.co – Menarik dan lucu! Catatan Nanik Sudaryati, dari syukuran HUT ke 11 Partai Gerindra,  di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Selasa (5/2/2019) menarik diikuti. Banyak aksi lucu baik dari Prabowo Subianto maupun wartawan. Dalam acara itu, Ketua Umum Partai Gerindra ini mengundang 30 wartawan.

Padahal, semua tahu, Prabowo sedang ‘uring-uringan’ dengan media karena media terlalu miring, pihak sebelah. Hadir di Hambalang saat itu, sejumlah elite Partai Gerindra seperti Sekretaris Jenderal Ahmad Muzani, Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Djoko Santoso, dan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Rachmawati Soekarno Putri.

Kisah wartawan paling menarik. Mereka ikut makan malam di Pendopo, selesai makan diajak keliling ke rumah Prabowo termasuk menyisir kantornya, sekaligus mencari konsultan dari Rusia yang baru saja menjadi materi pidato Presiden Jokowi. “Eh, ternyata nggak nemu.. ha… ha…,” demikian celetuk wartawan.

Setelah Prabowo mengantar para tamu pulang, ia kembali menemui wartawan yang sudah menunggu lesehan di ruang kantornya. Diskusi baru dimulai, padahal jarum jam sudah menunjuk angka 22.00 dan berakhir pukul 01 dini hari.

Diskusi penuh dengan curhat, karena selama ini Prabowo dimusuhi media. Tetapi juga curhatan wartawan yang sebetulnya sering nulis sesui dengan fakta, tapi oleh bosnya baik redaktur atau Pimred tidak dimuat atau malah dibelokkan. Pokoknya saling curhat.

Tiga jam lamanya, penuh gelak tawa. Yang mengejutkan, Prabowo tiba-tiba berakting marah, menggebrak meja. “Prak!,” semua tegang.

Prabowo langsung bilang. “Ayoo pada takut semua ya? Saya ngomong keras sebetulnya supaya kalian tidak ngantuk, itu saja,” kata Pak Prabowo dengan senyum penuh kemenangan  sambil menari-nari. Seketika wartawan tergelak-gelak dan geleng-geleng kepala.

Seorang wartawan wanita dari sebuah TV lalu bertanya, kenapa Prabowo tidak sering tampil melucu, padahal aslinya lucu. Tetapi selalu tampil garang, sehingga persepsi masyarakat Pak Prabowo gampang marah dan impulsif?

Apa jawabnya? “Baru saja saya ketemu tokoh wanita namanya (sensor-red), terus bilang ke saya. Pak Prabowo kalau debat jangan tampil melucu dong, kan Pak Prabowo negarawan. Nah, itu usul dia, jadi saya bingung nih ikut siapa?” jelas Prabowo sambil menirukan gaya kemenyek wanita yang menasehatinya.

Beda ladi dengan wartawan perempuan dari media cetak besar, ia malah meminta Prabowo tampil seperti sekarang aja, dengan apa adanya. “Nanti Bapak capek kalau harus ngikuti orang suruh ini, suruh itu. Lha bapak ini kan mantan tentara, ya kalau ngomong harus tegas, masak tentara ngomong lembek-lembek,” kata wartawati yang memang sudah lama kenal akrab Prabowo dan akhirnya disambut sepakat wartawan lain.
Dalam diskusi itu Prabowo mengaku sebetulnya sangat menyukai dunia jurnalistik dan menghargai karya wartawan. Apalagi dia pernah menjadi wartawan. “Jelek-jelek gini aku ini mantan wartawan, bahkan  pernah menjadi Pimred lho,” katanya.

Saat semua orang terkejut termasuk Nanik sudaryati, karena ini bisa jadi bagian cerita yang terlewat selama Nanik sudaryati mengenal Prabowo. “Iya bener! Di Inggris lagi,” katanya serius.

Saat semua masih bengong, Prabowo melanjutkan: “Iya jadi wartawan di media sekolah saat aku kelas 12 (kelas 3 SMA), makanya aku tau bagaimana mengedit naskah dan bisa menulis,” katanya bangga, dan disambut tepuk tangan wartawan.

Karena sedikit banyak mengenal dunia jurnalistik itulah, Prabowo heran dengan fungsi wartawan yang seharusnya menyampaikan kebenaran dan menjadi pilar keempat bangsa, tapi belakangan justru melihat fungsi itu tidak terjadi.

“Masak kalian lihat 10 juta orang  hadir di Monas  gak ditulis, gak diliput , giliran ada yang liput ditulis hanya 15 ribu yang hadir,” keluh Prabowo.

Namun seketika seorang wartawan mengaku sampai marah di kantornya menggebrak meja, karena tulisannya diubah dari jumlah jutaan ke ribuan oleh atasannya.

Prabowo pun menyadari bahwa wartawan hanya pekerja, sedangkan pemiliknyalah yang melakukan intervensi kebijakan redaksi melalui para Pimred dan petinggi media. Meski hanya sebagai karyawan, Prabowo berharap wartawan juga punya idealisme dan indepedensi.

Menyinggung soal propaganda Rusia, Prabowo tertawa ngakak, diakuinya dia bersama Pak Hasjim (Adiknya) memang banyak berbisnis di kawasan Rusia dan sekitarnya, tapi itu dulu, katanya.

“Kalau sekarang ya saya nggak punya konsultan. Jangankan dari asing, dari Indonesia saja nggak punya,” tuturnya.

Berbagai cerita seru mengalir demikian cair tadi malam, apalagi wartawan boleh bertanya apa saja. Dan meski sudah dini hari, Prabowo masih terus menantang untuk yang masih kuat berdiskusi, dan ternyata para wartawan yang malah tidak kuat begadang.

Pertemuan diakhiri dengan ngevlok masing-masing wartawan. Bahkan ada beberapa wartawan yang mengaku istrinya sangat ngefans sama Pak Prabowo minta Pak Prabowo menyapa istri mereka yang berada di rumah, Prabowo pun diberi nama istri mereka dan ia disuruh menyapa. Masyaallah !!!

Tak hanya itu ada wartawan yang datang  dan mau menikah, ternyata malam itu membawa pacarnya, juga ngevlok minta Prabowo mendoakan di video tersebut. “Semoga setelah pertemuan tadi malam, kalau toh wartawan tidak bisa menyuarakan banyak hal kebenaran yang disampaikan  Pak Prabowo, karena hambatan dari pemilik, tapi secara pribadi mereka tidak akan menipu nuraninya, bahwa apa yang dikatakan Prabowo tidak ada satu pun  yang hoax, Prabowo bukan pemimpin yang anti kritik,” jelas Nanik Sudaryati. (net)