
JOMBANG | duta.co — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, resmi dibuka pada Kamis (27/8/2026). Pembukaan muktamar digelar di Lapangan Untung Suropati dan dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Sejumlah jajaran Kabinet Merah Putih dan tokoh nasional juga tampak hadir dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU. Di antaranya Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani turut hadir dalam agenda tersebut. Selain itu, terlihat pula Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Sejumlah Kiai Sepuh dan tokoh nasional juga tampak hadir, di antaranya KH Nurul Huda Jazuli, KH Said Aqil, KH Hasib Wahab Pengasuh Pesantren tambakberas, mantan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin, mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, serta Sinta Nuriyah Wahid, istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Mengerucut 3 kandidat Terkuat
Persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU periode mendatang memasuki babak paling krusial. Suksesi kepemimpinan PBNU dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam, 29 Agustus 2026.
Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) secara khusus merilis 3 nama terkuat antar lain, petahana KH Yahya Cholil Tsaquf alias Gus Yahya, pemimpin muda NU dan pesantren KH Imam Jazuli atau Kiai Imjaz, dan tokoh senior NU KH Abd Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
Ketiganya diprediksi akan melaju menjadi Ketum PBNU sampai babak pemilihan di Muktamar ke-35 NU.
Diam-diam Nama Kiai Imam Jazuli Melambung
Masuknya Kiai Imam Jazuli dalam jajaran tiga nama terkuat dan diperhitungkan dalam bursa kepemimpinan PBNU, setidaknya memberikan kejutan beberapa pihak.
Menurut Wildan, Kiai Imam Jazuli menjadi salah satu figur pemimpin muda di abad kedua NU yang dalam beberapa hari terakhir semakin menguat dalam bursa utama Ketum PBNU. Dia menawarkan positioning yang berbeda: kandidat independen representasi kekuatan NU dan pesantren, Bertekad membangun persatuan, gagasan dan aksi transformasi pesantren dan peta jalan abad kedua NU yang relevan dengan tantangan zaman.
Kekuatan Kiai Imam Jazuli terletak pada kombinasi tiga modal utama sehingga namanya terus melaju sampai fase pemilihan.
Pertama, ia kiai muda yang memiliki basis pesantren dengan ribuan santri. Kedua, ia mempunyai pengalaman pendidikan Islam tradisional sekaligus akademik internasional. Ketiga, ia mempunyai jejaring NU, ribuan pesantren dan kedekatan dengan semua tokoh politik nasional, khususnya PKB.
Karakter kepemimpinan Kiai pengusaha ini relevan dengan tantangan yang akan dihadapi NU dan dunia pesantren pada masa mendatang. Organisasi sebesar NU membutuhkan pemimpin yang memiliki akar tradisi kuat sekaligus kemampuan membaca perubahan secara strategis.
Muktamar sejatinya bukan sekadar menentukan siapa yang menjadi Ketua Umum PBNU. Lebih jauh, Muktamar merupakan momentum konsolidasi jam’iyah. Karena itu, siapa pun yang terpilih harus mampu mengakhiri sekat-sekat kontestasi, konflik internal dan mengembalikan seluruh energi organisasi kepada khidmat untuk umat. Di titik inilah Kiai Imam Jazuli dapat dibaca sebagai figur pemersatu.
Dengan usia yang relatif muda dibanding sejumlah tokoh senior yang masuk dalam bursa, Kiai Imam Jazuli memiliki ruang untuk membangun komunikasi dengan berbagai generasi. Ia dapat menjadi titik temu antara kelompok yang menginginkan regenerasi dengan kalangan yang tetap menempatkan tradisi dan otoritas para kiai sepuh sebagai fondasi utama NU.
Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya mencari figur yang mampu memperoleh dukungan, melainkan mencari sosok yang setelah terpilih mampu mengajak seluruh kandidat dan pendukungnya kembali duduk bersama, membangun kepemimpinan kolaboratif.
Dan pada titik inilah nama KH Imam Jazuli kini berada di tengah 3 pusaran kekuatan. Ia menjadi penentu kekuatan NU dan pesantren, pemersatu kandidat yang gagal melaju ke pemilihan dan komitmen untuk mengembalikan marwah organisasi dan otoritas ulama.
Harapan dan Komitmen Bersama

Muktamar ke-35 semestinya bukan sekadar siapa yang memimpin NU, melainkan untuk siapa NU dipimpin, kepada siapa NU bertanggung jawab, dan apakah NU cukup berdaulat untuk menentukan jalannya sendiri?.
Muktamar ke-35 memang agenda rutin lima tahun jam’iyyah NU. Tetapi sejarah akan mengingatnya sebagai muktamar yang menentukan apakah NU memasuki abad keduanya dengan wajah baru atau hanya membawa problem lama ke zaman baru.
Jika pertanyaan itu dijawab dengan jujur, maka abad kedua NU dapat dimulai dengan sebuah fondasi baru, yaitu NU yang mandiri secara ekonomi, merdeka secara politik, berdaulat secara kelembagaan, bermartabat dalam diplomasi, dan kokoh secara tradisi dan spiritual.
Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih di Muktamar ke-35 adalah Ketua Umum bagi seluruh warga NU. Dan apabila NU benar-benar ingin memasuki abad kedua dengan wajah baru tanpa kehilangan ruh perjuangannya, maka yang dibutuhkan bukan sekadar pemimpin yang memenangkan pemilihan.
NU membutuhkan pemimpin yang mampu membuat semua pihak merasa ikut menang. Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) bukan ajang mencari menang-kalah, melainkan forum permusyawaratan ulama untuk menjaga kehormatan dan kemenangan bersama seluruh warga NU.
Indonesia membutuhkan NU yang teguh menjaga khitah, berani merawat independensi, dan tetap menjadi rumah besar umat. Karena NU adalah cermin Indonesia, Muktamar yang bermartabat akan memantulkan harapan bagi bangsa. Proses berintegritas akan melahirkan pemimpin bermartabat. Sebaliknya, proses yang kehilangan nilai dan menghalalkan semua cara hanya akan menghasilkan kemenangan tanpa kehormatan. (Din)





































