
BANGKALAN | duta.co – Presiden Prabowo Subianto menyoroti apa yang disebutnya sebagai anomali dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia menyebut selama tujuh tahun terakhir ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 5% per tahun. Namun, pertumbuhan itu belum sepenuhnya tercermin pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Logikanya, Indonesia tambah kaya 35%. Akan tetapi, kenyataannya, setelah tujuh tahun, masa penduduk miskin bertambah? Negara tambah kaya, rakyat tambah miskin. Ini kan sesuatu yang aneh, anomali,” ujarnya dalam acara Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026, di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6).
Ia juga mengingatkan adanya tekanan terhadap kelas menengah. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi belum dinikmati secara merata. “Ini juga harus kita waspadai bahwa yang tambah kaya ternyata hanya segelintir orang. Akhirnya harus kita lihat. Ini berarti sistem kita keliru,” ujarnya.
Rakyat Makin Menjerit
Presiden Prabowo mengakui, bahwa, pertumbuhan bisa jadi merupakan ketimpangan. Buktinya, rakyat makin menjerit. Bagi rakyat kecil, pelemahan rupiah (sekarang ini) bukan sekadar isu makro ekonomi yang dibahas ekonom di televisi atau seminar kampus. Ia hadir dalam bentuk harga sembako yang naik, biaya hidup yang semakin berat, dan penghasilan yang tidak lagi mampu mengejar kebutuhan harian. Masyarakat bawah hidup dalam tekanan ekonomi yang semakin nyata, sementara elite kekuasaan sering tampak tenang seolah situasi masih sepenuhnya terkendali.
Fenomena ini memperlihatkan adanya jarak psikologis yang semakin lebar antara pemerintah dan realitas kehidupan rakyat. Di saat masyarakat sibuk bertahan menghadapi tekanan ekonomi, ruang publik justru dipenuhi seremoni politik, pencitraan pembangunan, dan narasi optimisme yang sering kali terasa jauh dari realitas sosial sehari-hari. “Terus terang, hidup sekarang makin sudah. Melebihi saat covid,” tegas salah seorang warga .Surabaya kepada duta.co, Selasa (23/6/26).
Pelemahan rupiah memiliki efek berantai yang sangat luas terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Indonesia masih memiliki ketergantungan besar terhadap barang impor, bahan baku industri, hingga sektor energi tertentu. Ketika rupiah melemah, biaya produksi meningkat dan pada akhirnya harga barang di tingkat masyarakat ikut terdorong naik.
Kelompok yang paling merasakan dampaknya tentu masyarakat kelas menengah bawah. Buruh, pekerja informal, pedagang kecil, nelayan, petani, dan masyarakat dengan penghasilan tetap menjadi kelompok paling rentan menghadapi kenaikan biaya hidup. Sementara penghasilan mereka relatif stagnan, harga kebutuhan pokok terus bergerak naik secara perlahan namun pasti.
Ironisnya, di tengah tekanan tersebut, pemerintah sering lebih sibuk menjaga stabilitas narasi dibanding menghadirkan solusi yang benar-benar dirasakan masyarakat secara langsung. Rakyat diminta tetap optimis, bersabar, dan percaya terhadap kondisi ekonomi nasional, sementara kehidupan sehari-hari mereka justru semakin berat. “Kalau dikatakan Indonesia tambah kaya, yang kaya siapa? Kalau yang bilang itu pejabat, berarti pejabat yang tidak mendengar jeritan rakyat,” katanya. (net)





































