
SURABAYA – “Alhamdulillah! Semoga cepat tuntas,” demikian disampaikan mantan Sekjen PP IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), HM Maksum Zuber kepada duta.co, Jumat (5/12/25) dini hari, usai membaca dua undangan dengan kop surat Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang, ditujukan kepada Mustasyar, Syuriyah (Rais Aam) bersama Tanfidziyah (Ketua Umum PBNU).
Artinya, tegas HM Maksum Zuber, jalan menuju islah terbuka lebar. “Umat yang dibawah ini sangat prihatin menyaksikan kondisi PBNU sekarang. Seluruh warga NU di bawah, ini bingung melihat konflik yang terjadi di elit PBNU. Apa iya soal tambang,” tegas pembina IPNU-IPPNU Jember ini.
Menurut Maksum, jalan terbaik adalah islah, sebagaimana saran para kiai sepuh. Apa yang difatwakan para kiai sepuh adalah yang jalan menuju damai. Jangan ada pihak yang menolak. “Kalau menolak islah, pertanyaan untuk apa? Bukankah semua itu dilakukan dalam rangka pengabdian. Ber-NU itu, pengabdian,” tambahnya.
Dengan turun tangannya PP Tebuireng bersama Mustasyar PBNU, ia yakin seluruh masalah akan terurai dengan baik. “Kita tunggu hari Sabtu (6/12) besok. Rais Aam dan Ketua Umum masuk dalam daftar undangan, walau pun waktunya berbeda. Tapi masih satu hari, Sabtu. Semoga segera selesai,” harapnya.
Sebelumnya, HM Maksum Zuber ingin membuat Posko Islah. Hasilnya akan diserahkan kepada PBNU, bahwa, inilah aspirasi warga nahdliyin. “Dengan adanya upaya mempertemukan semua pihak, maka, terbitnya undangan PP Tebuireng ini membuat kami-kami merasa plong,” pungkasnya.
Seperti beredar di media sosial, bahwa, PP Tebuireng mengundang unsur Mustasyar, Syuriyah, dan Tanfidziyah PBNU bersilaturahmi di Ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur Sabtu (6/12/2025). Undangan tersebut disampaikan melalui dua surat terpisah dengan nomor surat yang sama: 2312/I/HM/00 01/PENG/XII/2025. Intinya untuk menindaklanjuti pertemuan para sesepuh NU di PP Al-Falah, Ploso, Kediri, Ahad 30 November 2025.
Kedua undangan yang menyertakan 1 lampiran itu, ditandatangani Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz, dan KH Umar Wahid sebagai sohibul hajat. “Menindaklanjuti pertemuan para sesepuh Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso pada Ahad 30 November 2025, dengan ini kami bermaksud mengundang panjenengan,” demikian sebagaimana yang beredar di medsos Kamis (6/12/2025).
Dalam Lampiran pertama, tertulis ‘Silaturrahim Mustasyar dengan Rais Aam PBNU’. Di daftar undangan, tertera nama 13 orang Mustasyar PBNU; 3 orang dari Syuriyah PBNU, yaitu KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, dan KH Anwar Iskandar; serta 2 orang dari Tanfidziyah PBNU, yaitu H Saifullah Yusuf dan H Gudfan Arif.
Sementara dalam lampiran pada undangan kedua, tertulis ‘Silaturrahim Mustasyar dengan Ketua Umum’. Di daftar undangan, tertera 30 orang Mustasyar PBNU; 3 orang dari Syuriyah PBNU, yakni KH Muadz Thohir, KH Abdul Ghofur Maimoen, dan KH Ahmad Said Asrori; serta dua orang dari Tanfidziyah PBNU, yaitu Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf dan H Amin Said Husni.
Silaturahmi memang digelar di hari dan tempat yang sama, Ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng. Namun dalam dua undangan itu, dibagi dalam dua waktu yang berbeda. Pertemuan yang mengundang KH Miftachul Akhyar diselenggarakan pada pukul 10.00-12.00 WIB, yang mengundang KH Yahya Cholil Staquf diadakan pada pukul 13.00-15.00 WIB.
Validitas undangan itu, benar. NU Online yang menghubungi sohibul hajat KH Umar Wahid (Gus Umar) mengonfirmasi kebenaran surat itu. “Benar,” katanya.
“Saya meminta pertemuan tersebut dilaksanakan di Pesantren Tebuireng. Salah satu yang harus kita ingat adalah para pendiri NU: Kiai Hasyim, Kiai Bisri, dan beberapa kiai lain itu mendirikan NU dengan satu tujuan yang mulia, dengan tujuan kepentingan umat,” ujarnya lewat telepon, kepada nu.or.id.
Lebih lanjut, Kiai Umar mengharapkan bahwa pertemuan tersebut akan membawa kesejukan; tidak hanya untuk nahdliyin, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. “Mungkin sebagian besar rakyat Indonesia berharap bahwa NU ini bisa tatap menjadi jangkar. Kita berharap NU bisa jadi jangkar, orang mau agamanya apa, suku bangsanya apa, semuanya ingin NU tetap menjadi jangkar karena sejarah membuktikan bahwa NU sudah bisa menjadi jangkar. Masa gara-gara urusan begini, urusan sepele dibanding dengan kebesaran NU, kita jadi ribut,” jelasnya. (mky,nuo)






































