
“BIMA juga menganut prinsip populisme dalam membangun citra positif pesantren. Mereka menjadikan pesantren sebagai lembaga yang inklusif, terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun budaya.”

Oleh Dr. H. Aguk Irawan Lc., MA.
DALAM beberapa tahun terakhir, animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke pesantren mengalami penurunan signifikan. Fenomena ini tidak lagi terbatas pada kalangan tradisional. Namun, itu tidak terjadi dengan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon.
Tahun ini, BIMA diserbu santri baru sebanyak 2.522 , bahkan hampir setengahnya diisi BIMA 3, yang izinnya baru saja keluar, yaitu sebanyak 1.013 santri. Latar belakangan mereka beragam, mulai dari keluarga-keluarga urban, kelas menengah, hingga profesional muda. Pertanyaannya, bagaimana BIMA mampu mendulang animo besar masyarakat di tengah “krisis” pesantren dalam mencari santri baru?
Dalam pantauan media, hampir seluruh Pesantren mengalami “krisis” santri baru dan ini bukan perkara baru. Masyarakat dahulu memang enggan melirik pesantren sebagai opsi pendidikan, karena berbagai citra pesantren yang terkesan kurang relevan dengan perkembangan zaman. Namun, itu masa lalu yang hanya ada dalam kenangan. Kini pesantren telah berubah sepenuhnya.
Salah satu lembaga yang menonjol dalam geliat ini adalah Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) di Cirebon, di bawah asuhan KH. Imam Jazuli, Lc., M.A. BIMA bukan sekadar pesantren biasa. Di tengah gempuran arus globalisasi dan disrupsi teknologi, pesantren ini hadir dengan visi pendidikan berorientasi kelas internasional.
BIMA tidak hanya ingin mendidik santri untuk menjadi manusia saleh secara ritual, tetapi juga mencetak generasi pemimpin masa depan yang mampu bersaing di kancah global. Ini merupakan langkah progresif yang jarang ditemukan di lembaga-lembaga pendidikan serupa.
Salah satu keunikan BIMA adalah kemampuannya mengawinkan kearifan lokal, adat, dan tradisi dengan sains dan teknologi modern. Inilah bentuk inovasi pendidikan yang bukan hanya berorientasi ke depan (future-oriented), tetapi juga berpijak kuat pada akar budaya bangsa.
Di satu sisi, BIMA mengajarkan nilai-nilai pesantren klasik, tetapi di sisi lain mereka merancang kurikulum yang selaras dengan tuntutan zaman melalui pendekatan post-modernisme. Tidak heran jika hanya dalam beberapa tahun, BIMA diserbu oleh santri baru.
Tak hanya itu, BIMA juga menganut prinsip populisme dalam membangun citra positif pesantren. Mereka menjadikan pesantren sebagai lembaga yang inklusif, terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun budaya.
Alasan mendasar mengapa populisme menjadi pilihan adalah karena pesantren selama ini selalu dinomorduakan dalam pandangan publik. Karenanya, BIMA mengusung prinsip “top of mind,” sebagai usaha kolektif para pengurus BIMA membuat pesantren ini selalu hadir dalam kesadaran kolektif publik sebagai pilihan utama pendidikan.
Salah satu faktor yang membuat masyarakat berbondong-bondong ke BIMA adalah keberhasilannya mengubah citra pesantren dan outputnya bisa banyak menembus ke berbagai perguruan tinggi terbaik, baik nosional maupun internasional. Selian itu, pesantren yang dulu diasosiasikan dengan kesan klasik, monoton, dan keras dalam metode belajar-mengajar kini tampil dengan wajah yang berbeda.
Di BIMA, pesantren bukan lagi tempat yang kering hiburan atau penuh tekanan. Mereka berhasil menghadirkan lingkungan belajar yang menyenangkan, penuh rekreasi, wisata edukasi, bahkan aktivitas hiburan yang sarat makna. Tidak jarang konser musik dipentaskan. Di samping sebagai hiburan, juga untuk mendidik kraetifitas, inspirasi, para santri.
BIMA membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tinggi tidak harus membuat peserta didik merasa terbebani. Justru dengan suasana yang happy, santri lebih mudah menyerap ilmu pengetahuan dan nilai-nilai akhlak yang diajarkan. Pendekatan seperti ini sejalan dengan teori pendidikan modern yang menekankan kebahagiaan sebagai faktor penting dalam keberhasilan belajar.
BIMA juga telah menjadi pionir bagi pesantren-pesantren lain yang ingin melakukan transformasi serupa. Keberanian mereka mengadopsi teknologi, mengintegrasikan budaya lokal dengan wawasan global, serta menyusun kurikulum yang adaptif terhadap perubahan zaman, menjadikannya role model pesantren post-modern.
Masyarakat yang semakin kritis dan selektif dalam memilih pendidikan anak-anaknya melihat BIMA sebagai solusi. Mereka tidak hanya mendapatkan ilmu agama, tetapi juga soft skills dan hard skills yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
BIMA telah membuktikan bahwa pesantren bukan hanya lembaga konservatif, tetapi juga laboratorium peradaban yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin dunia. Negara-negara maju di Eropa, Amerika, dan Asia menjadi pilihan mereka baik untuk menimba ilmu maupun pengalaman. Seorang pemimpin harus berjiwa besar dan berwawasan besar, dimana hal itu hanya diperoleh dari pengalaman.
Pesatnya animo masyarakat terhadap BIMA adalah sinyal kuat bahwa pesantren dapat menjadi garda terdepan dalam menjawab tantangan pendidikan abad 21. Pesantren kini bukan hanya benteng moral, tetapi juga center of excellence dalam inovasi pendidikan.
BIMA, dengan visinya yang futuristik dan pendekatan populisnya, berhasil menegaskan bahwa pesantren tidak sekadar menjaga tradisi, tetapi juga membentuk masa depan. Atribut pesantren menjadi semakin kompleks, tidak sekedar melestarikan tradisi tetapi juga mereproduksinya menjadi sesuatu yang kontekstual.
Inilah momentum bagi pesantren-pesantren lain untuk belajar dari BIMA. Jika ingin tetap relevan, pesantren harus menjadi ruang belajar yang membahagiakan, inovatif, dan terbuka terhadap dunia tanpa kehilangan akarnya. Keilmuan, teknologi, serta kebudayaan dioleh menjadi spirit pengelolaan pesantren di masa depan.(*)





































