Direktur  PT OMPS Tbk, Alan Priyambodo Krisnamurti (tengah) berbincang dengan Sekretaris Perusahaan Rubbyanto P.H. Handaja (dua dari kanan) saat melihat tempat pemotongan kapal di Kamal Bangkalan, Madura, Kamis (14/11). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Pasar besi tua di Jawa Timur masih sangat besar. Lokal masih menyuplai sekitar 30 persen dari total kapasitas peleburan besi tua di Jawa Timur yang mencapai 2 juta ton per tahun. Sisanya masih mengandalkan ekspor dan dari biji besi.

Sebanyak 30 persen itu disediakan beberapa usaha besi tua yang ada di Jawa Timur. Salah satunya dari PT (Optima Prima Metal Sinergi (OMPS) Tbk.

“Kita hanya sekitar 15 persen dari total kebutuhan perusahaan peleburan besi tua. Sisanya dari usaha perorangan,” ujar Direktur   PT OMPS Tbk, Alan Priyambodo Krisnamurti saat mengunjungi tempat pemotongan kapal di Kamal Bangkalan, Kamis (14/11).

OPMS memang menjadi perusahaan pertama dan satu-satunya yang bergerak dalam bidang besi tua. Bahkan OPMS sudah melantai di pasar bursa saham atau menjadi perusahaan terbuka.

Alan mengatakan perusahaan peleburan baja di Jawa Timur memang masih mengandalkan impor. Padahal harganya jauh lebih mahal dan kualitas belum tentu terjamin.

Selain itu, juga mengandalkan biji besi yang harganya juga jauh lebih tinggi, namun bisa merusak lingkungan karena penambangan.

“Biji besi mengandalkan tambang. Tidak ramah lingkungan, selain harganya juga mahal. Itulah mengapa perusahaan peleburan baja memilih besi tua dari kaoal-kapal lokal yang ada,” jelas Alan.

Biasanya perusahaan besi tua membeli kapal-kapal bekas terutama kargo yang usianya di atas 25 tahun.

Kapal-kapal itu bukan tidak bisa dioperasionalkan tapi karena asuransi sudah tidak mau lagi mengovernya. Sehingga pemilik kapal biasanya menjualnya kepada usaha besi tua.

“Jadi kalau asuransi tidak mau cover, tidak ada yang mau sewa kapal itu. Karena tidak ada yang nanggung barang-barang yang dikirim kalau terjadi apa-apa saat di jalan,” tuturnya.

Kapal-kapal tua itu di Indonesia jumlahnya sangat banyak. Alan mengatakan jumlahnya 10 persen dari total kapal yang ada di Indonesia yang diperkirakan jumlahnya mencapai 36 ribu unit.

“Indonesia negara maritim, jadi jumlah kapal sangat banyak. Sehingga peluang usaha besi tua juga sangat banyak,” tukasnya.

OPMS Target Pendapatan Rp 110 Miliar

Setelah melepas sebagian saham melalui initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada September lalu, OPMS terus memperkuat bisnisnya.

Terbaru, perseroan membeli tiga kapal bekas yang diperkirakan akan menghasilkan  7.300 ton besi tua atau scrap untuk bahan baku baja.

Alan Priyambodo mengatakan, pembelian kapal bekas ini merupakan upaya perusahaan untuk merealisasikan target penjualan pada tahun ini yang mencapai 24.000 ton besi scrap hasil pemotongan dari kapal-kapal bekas.

“Setelah IPO kami memiliki ruang yang lebih luas untuk mengeksekusi rencana-rencana bisnis, termasuk pembelian tiga kapal ini. Kami yakin aksi korporasi yang dilakukan perusahaan akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan hingga akhir tahun,” ujar Alan.

Pembelian tiga unit kapal itu untuk menambah kinerja perusahaan agar bisa mencapai target sebesar Rp 110 miliar di tahun ini.

“Sebagai perusahaan pionir bisnis besi scrap di Indonesia, kami optimistis pasar kami masih terbuka luas. Apalagi kebutuhan terhadap baja juga masih akan tinggi sejalan dengan agenda pembangunan infrastruktur pemerintah,” tambahnya.

Sekretaris Perusahaan Rubbyanto P.H. Handaja menambahkan pembelian tiga kapal bekas ini merupakan kapal dengan jenis Kapal Muatan (KM) Mentari Perdana dengan berat 4.188 gross tonnage (GT), KM Mentari Sentosa seberat 4.980 GT, dan KM Mentari Persada seberat 7.312 GT.

Saat ini, tiga kapal tersebut telah dikirim dari sekitar Pelabuhan Tanjung Perak menuju Kamal, Madura, yang akan menjadi lokasi pemotongan kapal bekas menjadi besi scrap oleh OPMS. Satu dari tiga kapal tersebut sudah sampai di daratan, sementara dua lagi saat ini masih di lautan.

“Tiga kapal bekas yang kami beli sudah menjalani semua prosedur yang kami terapkan dalam setiap pembelian kapal hingga akhirnya kapal dikirim dan dilakukan pemotongan,” kata Rubby.

Menurut Rubby, perusahaan memiliki instruksi kerja pengiriman kapal yang mesti diterapkan dalam setiap proses pembelian kapal.

Setelah negosiasi disetujui antara OPMS dengan pihak penjual, perusahaan akan segera melakukan inspeksi kapal dengan menakar kondisi dan potensi bahan baku baja yang dihasilkan dari kapal tersebut.

Dengan rampungnya inspeksi kapal, perusahaan lalu melakukan pengiriman kapal ke Madura. Setelah kapal tiba dan kemudian bersandar, proses pemotongan kapal mulai dilakukan.

“Butuh proses yang cukup panjang hingga akhirnya kapal bekas yang kami beli dapat dipotong dan kemudian diproses untuk menjadi bahan baku baja yang siap dijual ke pasaran,” papar Rubby. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry