Oleh: Dr Sama’ Iradat Tito SSi MSi*

SUARA dapat mempengaruhi pikiran dan tubuh. Suara acak dianggap kebisingan atau hiruk-pikuk, sementara suara terorganisir dianggap sebagai musik; itulah sebabnya musik selalu menjadi bagian mendasar dari kehidupan kita. Dari ketukan drum yang paling sederhana hingga orkestra yang kompleks, musik ada di sekitar kita. Bukan rahasia lagi bahwa ketika seseorang melantunkan bunyi tertentu baik dari kitab suci, melafalkan ayat Tuhan hingga musik klasik akan dapat mempengaruhi pikiran dan tubuh pendengarnya. Hal tersebut berhubungan pula dengan penyembuhan penyakit dan emosi manusia.

Semua objek di semesta berosilasi pada frekuensi resonansinya. Sel-sel dalam tubuh manusia memiliki medan elektromagnetiknya sendiri, sehingga setiap sel responsif terhadap frekuensi dan getaran tertentu. Misalnya, frekuensi penyembuhan 528 Hz telah diteliti dan dieksplorasi oleh ahli biokimia genetik yang saat ini menggunakannya di laboratorium mereka untuk memperbaiki DNA yang telah rusak.

Anda mungkin pernah mendengar tentang penyanyi opera yang memecahkan gelas anggur. Suara yang dibuat oleh gelas anggur saat anda mengetuknya dengan sendok adalah frekuensi resonan – frekuensi di mana gelas bergetar paling efisien. Jika anda dapat mencocokkan nada ini dan menjerit cukup keras, Anda dapat memecahkan kaca. Anda tahu, berteriak dengan nada yang sama seperti gelas anggur akan menyebabkan gelas juga bergetar. Ini dikenal sebagai resonansi dan terjadi karena suara menggeser molekul udara di dekatnya, yang menabrak kaca seperti gelombang tak terlihat, dan jika amplitudo cukup besar, kaca hancur. Frekuensi tergantung pada jenis kaca, tetapi berpusat di sekitar 550 Hz.

Pada tahun 1934, Dr Royal Rife meneliti dan mempelajari mikroorganisme dan menemukan bahwa virus dan bakteri memiliki frekuensi getaran yang berbeda-beda. Dr. Royal Rife menggunakan gelombang turun-naik secara konstan (oscillator waves) dengan kecepatan tinggi dari frekuensi tertentu, alat yang digunakan disebut Mortal Oscillator Rate (MOR). Alat ini ternyata tidak sampai mematikan sel tubuh manusia, hal ini dikarenakan sel tubuh manusia jauh lebih kuat dan tahan dibandingkan dengan mikroba tersebut. Dr. Royal Rife mencoba terhadap pasien kanker. 14 dari 16 pasien yang rawatnya dinyatakan sembuh dalam waktu  3 bulan dan dua lainnya sembuh setelah lebih dari 3 bulan. Berikut beberapa hasil penelitian Dr. Royal Rife tentang pemaparan frekuensi terbaik terhadap virus : (1)  Adenovirus (virus yang menyebabkan infeksi di paru-paru, lambung, dan usus) : 333 Hz, 523 Hz, 786 Hz (2) AIDS dan Kaposi’s sarcoma: 249 Hz, 418 Hz (3) CMV (sitomegalovirus dikenal sebagai virus kelenjar ludah atau herpes tipe 5 manusia) : 126 Hz, 597 Hz, 1045 Hz, 2145 Hz (4) Virus Coxsackie (menghasilkan penyakit menyerupai polio non-paralitik): 136 Hz, 144 Hz, 232 Hz, 380 Hz, 422 Hz, 424 Hz, 435 Hz, 921 Hz, 923 Hz (4) Echo Virus (menyebabkan jenis meningitis) : 620 Hz (5) Virus Epstein-Barr (virus herpes yang menyebabkan mononukleosis : 105 Hz, 172 Hz, 253 Hz, 660 Hz, 663 Hz, 669 Hz, 744 Hz, 825 Hz, 1032 Hz, 1920 Hz (6) Virus Meningococcus (virus yang menginfeksi selaput yang menyelimuti otak dan sumsum tulang belakang): 720 Hz (7) Virus Papilloma (menyebabkan tumor jinak memiliki cabang atau tangkai): 907  Hz (8) Varicella (virus herpes yang menyebabkan cacar air pada masa kanak-kanak dan herpes zoster [herpes zoster] pada dewasa): 345 Hz, 668 Hz, 716 Hz, 738 Hz (9) Verruca (kutil kulit yang disebabkan oleh virus) :  644 Hz, 767 Hz, 953 Hz.

Pada tahun 2013, para peneliti di Fakultas Teknik Universitas Arizona telah dianugerahi kontrak $ 243.000 oleh Pusat Teknik Sipil Angkatan Udara untuk menghancurkan bahan kimia menggunakan proses sono-kimia baru, yang menggunakan gelombang suara untuk memecah molekul kompleks dan beracun menjadi bahan yang aman. Hal ini didasari Angkatan Udara memiliki persediaan besar hampir 11 juta liter busa pemadam api, yang mengandung senyawa organik yang merusak lingkungan.

Jika anda telah membaca sejauh ini, anda akan tahu apa yang saya maksudkan. Ya, para ilmuwan mungkin suatu hari dapat menghancurkan virus hanya dengan menggunakan suara. Bahkan, penelitian baru secara matematis menentukan frekuensi di mana virus sederhana dan akrab dapat dihancurkan dengan menggunakan gelombang suara.

Menurut salah satu peneliti, cangkang protein dari sebuah virus adalah ‘kapsid’ yang seperti cangkang kura-kura dan jika kapsid terkena getaran resonansinya, virus dapat dinonaktifkan.

Kesulitannya adalah dalam menemukan frekuensi yang tepat di mana kapsid beresonansi tetapi penelitian sedang berlangsung untuk mengetahui cara termudah untuk melakukan ini.

Keuntungan terbesar menggunakan suara untuk menghancurkan virus adalah bahwa virus yang mengembangkan resistensi terhadap obat-obatan tidak akan mampu melakukannya dengan getaran suara. Selain itu, sel-sel normal tidak akan terpengaruh oleh gelombang suara karena sel-sel memiliki frekuensi resonansi yang jauh lebih rendah daripada virus.

Virus Corona dipercaya mengalami evolusi spontan melalui mutasi. Mutasi dapat menimbulkan perubahan kecil pada hemaglutinin dan antigen neuraminidase pada permukaan virus. Hal ini disebut antigenic drift, yang secara perlahan menimbulkan banyak variasi galur sampai salah satu dapat menginfeksi manusia yang kebal terhadap galur yang telah ada sebelumnya. Varian baru ini kemudian menggantikan galur yang lebih tua karena galur tersebut dengan cepat menyapu populasi manusia sering menimbulkan epidemi. Namun, karena galur yang ditimbulkan oleh hanyutan tersebut akan cukup serupa dengan galur yang lama, sebagian orang akan masih imun terhadap virus tersebut.

Hal yang perlu diantisipasi juga adalah evaluasi spontan virus melalui reassortment, mereka akan memperoleh antigen yang sama sekali baru misalnya reassortment antara galur unggas dan galur manusia, hal ini disebut perpindahan antigen. Apabila virus terhadap manusia memiliki antigen yang sama sekali baru maka setiap orang dapat terkena infeksi, dan virus baru tersebut akan menyebar secara tidak terkontrol dan menimbulkan pandemi.

Intinya adalah, ini adalah bidang baru, dan akan membutuhkan waktu sebelum sains dapat membuktikan dirinya. Menilik kata kata Charles Darwin bahwa “ini bukan mengenai spesies terkuat dan juga spesies yang terpintar yang akan bertahan namun ini adalah mengenai spesies yang bisa beradaptasilah yang akan menang”.

*Penulis adalah dosen Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Islam Malang dan peneliti dalam bidang Ekologi manajemen, hama penyakit dan biofisika.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry