PAPARAN : Heru Prasanta Wijaya Presdir PT HRL Internasional memaparkan tentang visi sebagai perusahaan herbal  berskala internasional. (duta.co/imam)

SURABAYA  | duta.co -Besarnya  permintaan herbal di dunia membuat Heru Prasanta Wijaya Presdir PT Heru Reksa Lestari (HRL) Internasional tertantang. Pasalnya kesuburan tanah Indonesia dan keanekaragaman hayati melimpah dan dikenal gudangnya herbal, satu potensi besar yang harus dikembangkan serius menjadi komoditas unggulan ekspor.

Selama ini belum potesi pasar herbal Indonesia justru banyak di eksploitasi oleh negara tetangga Malaysia yang mengambil pasak bumi di Kalimantan. Sementara produk herbal lain masih dikelola sporadic perseorangan, bukan skala korporasi. Sehingga ketika ada permintaan besar, tidak bisa memenuhinya.

“Produk herbal inilah  yang menjadi masa depan Indonesia. Mau mengandalkan komoditas mining (tambang) sudah tidak bisa lagi karena hamper habis. Di dunia ini hanya Indonesia dan Brazil produsen herbal karena kontur tanahnya cocok,” jelasnya kemarin.

Sementara Negara China  jelas Heru Prasanta Wijaya meski gencar dan dikenal dengan pengobatan tradisional herbalnya, tananya tidak cocok untuk tanaman herbal. Karenanya China butuh banyak produk herbal dari sejumlah negara termasuk Indonesia.  Peluang inilah yang memacu kegelisahan PT HRL  dengan memaksimal potensi tanaman herbal Indonesia .

“Selain dikembangkan agar tidak punah sekaligus untuk produk komersial komoditas ekspor. Saat ini ada empat area tanam herbal yakni di Pacet, Gresik, Cikampek, Blora dan Tawangmangu. Kita butuh areal seluas mungkin untuk tanaman herbal  dengan berbagai macam tanaman yang permintaannya tinggi. Seperti kencur, kunyit, cabai jawa,” jelasnya.

Heru Prasanta Wijaya menjelaskan saat ini ada permintaan cabai jawa dari China sebesar 300 ton per bulan. Karena besarnya permintaan tersebut sementara produksi belum mencukupi belum bisa ditangani. Selain cabai jawa, banyak produk herbal lain yang dibutuhkan dalam jumlah besar karena kebutuhan pengobatan di China sendiri  lebih condong menggunakan pengobatan tradisional herbal.

“Di China saat ini sedang gencar penelitian tentang herbal. Misalnya di  Pusat Research Beijing  terdapat ribuan ahli research yang secara khusus meneliti tentang herbal untuk pengobatan masa depan. Belum lagi  di Tradisional China Medicine (TCM)  dunia juga gencar sekali. Satu saat hasil penelitian mereka inilah, pasti akan membutuhkan bahan baku herbal,” tegas Heru Prasanta Wijaya.

Untuk itu, PT HRL Internasional mengajak berbagai pihak, mulai Perguruan Tinggi, Pemerintah daerah dan pihak lain untuk sama-sama mengembangkan dan memaksimalkan potensi herbal Indonesia. Karena sebenrnya  potensinya sangat terbuka luas, didukung kesuburan tanah yang ada, tinggal mengelola dan mengembangkan menjadi komoditas ekspor.

“Diantara produk tanaman herbal yang dilakukan HRL siap panen dalam setahun mendatang. Untuk sementara  kita produksi bahan baku  herbal untuk komoditas ekspor. Kalaupun ada produk yang sudah digunakan masih untuk internal yakni teh herbal  untuk healthy drink,” tegas Heru Prasanta Wijaya.

PT HRL internasional bergerak di bidang pertanian terpadu, menghindari pemakaian bahan sintetis dengan visi menjadi perusahaan berskala internasional memadukan sains, teknologi dan ekologi. Lewat pengembangan  Taman Herbal, PT HRL memiliki lebih 130 koleksi tanaman herbal, beberapa diantaranya sudah langka.

PT HRL mengembangkan produk  the celup herbal membantu mengendalikan gula darah dibuat dari tanaman Tithonia Difersifolia. Selain itu juga membuat teh celup daun annoa muricata L, moringga, Centella Asiatica atau tumbuhan pegagan yang berkhasiat meningkatkan memori, konsentrasi dan mental. (imm)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.