Proses co-firing di pembangkit listrik milik PT PJB. DUTA/dok

SURABAYA l duta.co – Potensi pengembangan biomassa di Indonesia untuk pembangkit listrik sangat besar. Namun, hingga kini pemanfaatannya masih sangat rendah.

Dari data yang ada dan dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensinya mencapai 443 ribu megawatt (MW) namun pemanfaatannya baru 1,9 persen terutama untuk pembangkit listrik.

Padahal banyak keuntungan yang didapat dengan memanfaatkan biomassa ini untuk pembangkit listrik terutama ramah lingkungan.

Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Ary Bachtiar Krishna mengatakan bahan bakar biomassa ini bisa mengurangi efek pemanasan global karena CO2 netral.

Apalagi saat ini isu lingkungan menjadi pembicaraan hangat terutama untuk pembangkit listrik yang selama ini menggunakan batubara.

Dikatakan Ary, Indonesia itu memiliki cadangan batubara terbanyak ke-19 atau sekitar 2,2 persen dari seluruh cadangan batubara dunia.

Tapi sekitar 80 persennya batubara Indonesia termasuk low dan medium rank coal dengan nilai kalori kurang dari 5 ribu  kilo kalori per kilogram.

“Sehingga pembauran dengan biomassa akan meningkatkan kualitas pembakaran,” ujarnya dalam webinar Efektivitas dan Potensi Biomassa Prtogram Co-Firing Pembangkit yang digelar PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), Kamis (24/9/2020).

Bahan baku untuk biomassa ini kata Ary sangat banyak di Indonesia. Ada beberapa daerah  yang memang mendedikasikan daerah sebagai hutan tanaman energi. Banyak lahan yang menanam kayu-kayu yang bisa dibuat untuk biomassa.

“Bahkan, dengan menggunakan biomassa itu tidak hanya ramah lingkungan tapi juga bisa berdampak sosial sangat tinggi karena memberdayakan masyarakat sekitar,” tandasnya.

Salah satu yang memanfaarkan biomassa untuk pembangkit listrik adalah PT PJB. PT PJB sudah menerapkan bauran energi baru terbarukan (EBT) biomassa ini di 11 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Kepala Bidang Pengembangan Teknologi Kelistrikan PT PJB, Ardi Nugroho mengatakan PJB tidak 100 persen menggunakan biomassa dari limbah kayu untuk pembangkitnya. Melainkan dibaurkan dengan batubara atau co-firing.

“Karena setting boiler kami masih untuk batubara. Sehingga tidak bisa sepenuhnya dialihkan. Bahkan, penggunaan biomassa itu masih kecil perbandingannya dengan penggunaan batubara,” katanya.

Ardi menambahkan bahwa sampai saat ini pemanfaatan biomassa di PJB masih melihat potensi daerah di mana pembangkit itu berada. Jika di satu daerah potensinya pengolahan kayu, maka akan menggunakan sampah kayu itu untuk bahan baku biomassanya.

“Kalau potensi daerah itu ada yang lain dan bisa dijadikan biomassa maka kita akan menggunakannya. Tentunya setelah melalui proses kajian dulu sejauh mana efektivitasnya dan sejauh mana tidak merusak boiler kami,” jelasnya.

Diakui Ardi, PJB pun akan semakin gencar menerapkan biomassa ini untuk pembangkit listrik. Karena di beberapa belahan dunia sudah menggunakan biomassa ini. Bahkan, negara-negara di Eropa sudah puluhan tahun menggunakannya.

“Kenapa Indonesia yang memiliki banyak potensi biomassa tidak menggunakan itu. Apalagi, bagi kami menggunakan biomassa jauh lebih efektif dan efisien,” tukasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry