Pak Dul duduk tenang saat diukur tekanan darahnya oleh Kader Kesehatan Jiwa. DUTA/endang

SIDOARJO | duta.co – Waktu di ponsel menunjukkan angka 07.45 WIB, Senin (20/10/2025). Balai Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, masih sepi. Hanya ada kursi dan meja yang sudah tertata rapi. Di tembok aula ada banner kuning bertuliskan “Kegiatan Posyandu Jiwa, Desa Kalitengah, Kec. Tanggulangin, Kab Sidoarjo”.

Ada seorang Kader Kesehatan Jiwa (Keswa) bernama Eka Rita yang sudah hadir. Dia sibuk menyiapkan berkas-berkas di meja serta sesekali membetulkan kursi yang belum rapi.

Di pojokan kursi panjang kayu, duduk seorang pria bercelana kain cokelat dan kemeja kuning. Rambutnya sebagian besar memutih. Jari tengah dan telunjuk tangan kirinya menjepit rokok yang sudah menyala tersisa separuh. Dia hisap rokoknya, sesekali diselingi minum air kemasan gelas yang ada di samping kanannya.

Rokok habis, dia berdiri, meregangkan tangan dan pinggangnya. Dia pun berjalan ke sana ke mari. Dia datang sejak pukul 07.00 WIB. Padahal pemeriksaan akan dimulai pukul 08.30 – 09.00 WIB.  Kelihatan kalau sudah mulai jenuh menunggu.

Pukul 08.45 WIB, Balai desa mulai ramai. Karena di hari itu bersamaan dengan imunisasi balita sehingga banyak orang tua yang membawa balitanya ke tempat itu.

Pria itu bernama Ahmad Dulfitri, panggilannya Pak Dul. Dia  berpindah tempat duduk dari kursi pojok ke kursi kayu panjang di tengah. Dia mendekati tempat registrasi Posyandu Jiwa ketika Eka Rita memanggilnya. “Pak Dul, sini,” kata Eka. “Sehat Pak?” tanya Eka.

Pak Dul tersenyum. “Alhamdulillah sehat Bu,” ujarnya. “Yawes, duduk dulu ya, sabar tunggu semua hadir,” kata Eka. Pak Dul menggangguk dan kembali duduk di meja kayu panjang. Kali ini di sebelah pojok timur.

Satu persatu kader berdatangan. Selain Eka Rita, hadir pula kader Alfa Purwati dan Annisa. Juga dua perawat jiwa dari Puskesmas Tanggulangin yakni Dian Noviana dan Nikmatus.

Begitupun dengan pasien, satu persatu hadir. Selain Pak Dul, ada Santi Wahyuningsih, ada Sukamto yang datang mewakili anaknya Fijar dan beberapa pasien lainnya. Hari itu sekitar sepuluh orang yang hadir dari 23 pasien dengan gangguan jiwa yang ada di Desa Kalitengah.

Sebelum pemeriksaan, Pak Dul sempat bercerita kalau dia setiap bulan datang ke Posyandu Jiwa ini. Dia datang dengan sepeda onthel. Rumahnya di belakang Balai Desa, sangat dekat. “Ambil obat, ben iso turu bengi (biar bisa tidur malam,red),” katanya dalam Bahasa Jawa.

Dari keterangan kader Eka Rita, Pak Dul sekarang sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah. Sebelumnya, lelaki yang masih sendiri di usia 50 tahun itu hanya bisa diam dan seperti orang linglung.

Benar adanya. Pak Dul banyak bercerita. Dia dulu tinggal di Surabaya dan bekerja bagian ‘ngeplong’ kertas di percetakan. Entah mengapa lambat laun ingatannya mulai berkurang. Dia mengaku sering lupa hingga akhirnya dia harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur.

Beberapa bulan di RSJ Menur, Pak Dul harus pulang. Dia pun dibawa pulang kakak perempuannya, Munasih, yang tinggal di Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.

Pengobatan terus dilakukan keluarga. Beruntung, salah satu keponakannya ada yang jadi tentara. Dialah yang membiayai pengobatan Pak Dul, terutama untuk menebus obat-obatan yang harganya tidak murah. Setiap bulan Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta dikeluarkan. Asalkan pamannya tidak lagi ‘linglung’. Asalkan pamannya bisa lebih tenang, tidak meresahkan orang lain.

Beruntung, sejak 2022 ada Posyandu Jiwa di Desa Kalitengah. Sehingga, Pak Dul bisa berkonsultasi dengan tenaga medis, bisa cek kesehatan dan tentunya bisa mendapatkan obat secara gratis. Obatnya pun tidaklah murah.

Karena petugas sudah lengkap, Pak Dul bergegas ke meja registrasi. Dia menghentikan celotehannya. Dia menuliskan namanya di lembar absensi. Disusul oleh Santi Wahyuningsih. Mereka berdua cekatan menulis sendiri nama dan alamat serta tanda tangan.

Lalu, Pak Dul bergerak ke tempat penimbangan badan. Setelahnya bergeser ke bagian tensimeter dan hasilnya normal.  Lepas itu dia membawa buku kuning yang berisi rekam medisnya untuk diserahkan ke perawat yang bertugas.

Perawat menanyakan beberapa hal tentang kondisi Pak Dul saat itu. “Saya sehat Bu,” kata Pak Dul. “Alhamdulillah ya Pak Dul, ini obatnya jangan lupa diminum rutin,” kata Perawat Novi sambil menyerahkan obat. Obat itu berupa vitamin dan pemenang.

Pak Dul beranjak dan tak lupa mengambil PMT (pemberian makanan tambahan) di meja lainnya. Hari itu dia mendapatkan satu kotak PMT, isinya bubur kacang hijau, telur rebus, keripik, kue dan air mineral. Dia pun beranjak ke sepeda ontelnya. Dan bergegas pulang.

Bisa Kembali Produktif

Warga dengan gangguan jiwa seperti Pak Dul di Desa Kalitengah ini jumlahnya sekitar 23 orang. Sejak adanya Posyandu Jiwa ini, mereka bisa lebih mandiri dan produktif.

Pak Dul sendiri kini sudah bisa bekerja membantu kakaknya mengurus kos-kosan. Tugasnya membersihkan dan menjaga kos. Dia mengaku dibayar. Bahkan jika masih ada waktu dia juga mengerjakan pekerjaan lain sesuai dengan apa yang disuruhkan orang padanya. Jika ada yang menyuruhkan bersih-bersih pekarangan, dia mendapatkan upah Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Jumlah itu kata Pak Dul, lumayan untuk buat jajan dan keperluan pribadi. “Kalau makan ya ke kakak. Saya bisa makan empat kali sehari,” katanya tertawa.

Pak Dul diajak becanda Abu Ammar saat Posyadu Lansia di Balai Desa Kalitengah. DUTA/endang

Tidak hanya Pak Dul, warga lainnya yang mengalami kondisi serupa kini juga diberdayakan. Mereka diberi kegiatan yang bisa menghasilkan uang. Di Kalitengah, program pemberdayaannya dengan budidaya aloevera atau lidah buaya. Bukan hanya penanaman tapi hingga ke pengolahannya, menjadi keripik, sirup hingga sabun kecantikan.

Untuk bisa seperti Pak Dul sekarang ini memang tidak mudah. Butuh waktu dan kerja keras berbagai pihak. Pemerintahan Desa Kalitengah, dibantu Pertamina Gas (Pertagas) sejak lama sudah mengedukasi masyarakat baik yang memiliki keluarga dengan gangguan jiwa maupun yang tidak, bagaimana memperlakukan keluarga dengan gangguan jiwa.

Edukasi itu terutama tentang peran keluarga dan warga untuk mendukung kesembuhan pasien dengan gangguan jiwa itu. Caranya berbagai macam, salah satunya dengan tidak mengesampingkan dan tidak menelantarkannya.

Kepala Desa Kalitengah, Iftatus Solichah mengaku pemberdayaan warga dengan gangguan jiwa ini menjadi prioritas. Hal itu dilakukan agar mereka bisa hidup normal dan bisa mandiri. “Tentunya kami dibantu pihak lain salah satunya Pertagas,” ungkapnya.

Dari 18 desa yang ada di Kecamatan Tanggulangin, ada enam desa yang bisa menggelar Posyandu Jiwa ini. Jumlah pasiennya antara 20 hingga 25 orang per desa. Termasuk di Desa Kalitengah. Sementara desa yang hanya sedikit penderita tidak bisa menggelar Posyandu Jiwa ini.

Koordinator Kader Kesehatan Jiwa, Kecamatan Tanggulangin, Abu Ammar mengaku dari 18 desa itu total ada sekitar 253 penderita gangguan jiwa. Usia penderita tertua 90 tahun dan termuda 15 tahun. Terbanyak di usia 40 hingga 44 tahun. Memang usia produktif paling banyak dari total penderita. Kata Abu Ammar hampir 40 persen.

“Penyebabnya banyak. Pada umumnya masalah keluarga. Banyaknya tekanan dari keluarga. Karena kondisi jiwa seseorang itu tidak sama, kalau yang kuat ya biasa saja, tapi yang tidak kuat jadinya depresi. Lama-lama bisa jadi parah, menyendiri hingga mengamuk,” katanya.

Sebelumnya banyak keluarga yang menutupi jika ada anggotanya yang mengidap gangguan jiwa. Mereka merasa malu sehingga cenderung menutupinya. Karena terkadang ada yang sudah meresahkan orang lain, mau tidak mau meminta pertolongan.

“Kami datangi, kami beri penjelasan, edukasi dengan baik agar keluarga mau menerima dan mencari pertolongan. Lambat laun semua bisa diatasi,” katanya.

Tidak hanya itu, Abu Ammar menjelaskan jika ada pasien yang harus dirujuk, maka kerjasama dengan berbagai pihak. “Kami antisipasi agar pasien tidak mengamuk,” katanya.

Diakui Abu Ammar, untuk penanganan pasien secara komprehensif, pihaknya meminta bantuan ke desa, Babinsa, Babinkamtipmas, Satpol PP hingga ke bidang Kesra hingga ke Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK).

Bagian dari Program Simfoni Kidung Tanggulangin

Terbentuknya kader Kesehatan Jiwa di Kecamatan Tanggulangin itu berkat campur tangan PT Pertamina Gas Operation East Java Area (Pertagas OEJA). Perusahaan gas milik Pertamina (Persero) itu memiliki program berkelanjutan yang diberinama Simfoni Kidung Tanggulangin.

Program ini memiliki banyak kegiatan. Salah satunya adalah penanganan secara komprehensif pasien dengan gangguan jiwa yang ada di Kecamatan Tanggulangin.

Kader Kesehatan Jiwa ini ada di 18 desa yang ada di Kecamatan Tanggulangin. Jumlahnya hingga kini sekitar 60 orang.  Awalnya, Pertamina Gas OEJA  memberikan pelatihan bagi para kader bagaimana melakukan pendampingan pada pasien ODGJ. Pelatihan itu dilakukan sejak 2022 lalu dan terus berlanjut hingga kini.

Program ini adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun masyarakat yang inklusif dan berdaya. Pelatihan itu dilakukan berkesinambungan di beberapa desa. Tidak sendiri, Pertamina OEJA menggandeng Kecamatan Tanggulangin, Dinas Kesehatan Sidoarjo dan Puskesmas Tanggulangin berhasil mengajak masyarakat untuk membentuk Kader Kesehatan Jiwa ini.

Yedo Kurniawan, Head of External Relation Operation East Region Pertamina Gas, mengatakan pelatihan ini bertujuan untuk membekali kader dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendampingi ODGJ.

“Para peserta tidak hanya diajarkan tentang kondisi kesehatan jiwa, tetapi juga diberikan pelatihan mengenai cara berkomunikasi efektif, memberikan dukungan emosional, dan membangun jaringan sosial bagi pasien,” kata Yedo dalam sebuah kesempatan pelatihan di Desa Gagangpanjang beberapa waktu lalu.

Peran kader memang sangat besar. Kader inilah ujung tombak penanganan ODGJ secara komprehensif. Merekalah yang mendekati pasien dan keluarganya agar tidak pernah malu untuk membawa sanak keluarga yang mengalami ODGJ, tidak malu untuk mencari pengobatan. Mereka pula yang mendekati keluarga  agar selalu mendukung anggotanya yang ODGJ, tidak dikucilkan dan tidak dibuang.

Kader ini rela tidak dibayar. Mereka sita perhatian di tengah kesibukan pekerjaan masing-masing. Di tengah tugas mengurus keluarga masing-masing, mereka selalu punya waktu dan tenaga untuk membantu pasien dan keluarga ODGJ.

“Ya, ini tugas mulia. Tidak semua orang bisa dapat kesempatan mencari pahala seperti ini. Saya menjalani dan mensyukurinya,” kata Eka Rita.

Sebagian Kader Kesehatan Jiwa Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. DUTA/endang

Eka Rita menceritakan pernah diminta keluarga ODGJ membawa anaknya ke RSJ Menur. Saat itu, si pasien sering mengamuk. Sehingga banyak yang tidak berani untuk merujuknya.

“Anak itu senangnya cangkrukan di warung kopi. Pas di warkop saya tantang untuk ngopi di tempat yang agak bagus. Dia mau. Karena kalau diajak berobat gitu, ngomongnya tidak sakit. Saya sehat. Memang secara fisik tidak ada yang sakit, tapi jiwanya yang sakit. Dan biasanya keluarga yang minta rujuk itu karena sudah tidak kuat mehan beban,” jelasnya.

Dengan bantuan banyak pihak seperti Babinsa dan Babinkamtipmas, Eka Rita bisa membawa di pasien ke RSJ Menur. “Saya khawatir dia mengamuk di mobil. Tapi ternyata dia diam. Dari pengalaman itu, ternyata pasien ODGJ itu kalau sudah di mobil, akan diam. Sehingga lebih mudah untuk merujuk lagi,” tuturnya.

Tidak hanya tenaga, pada kader ini dengan sukarela untuk mengeluarkan uang demi kebersamaan dan keberlangsungan Posyandu Jiwa. Diakui Abu Ammar, kadang mereka harus ‘urunan’ untuk sekadar membeli konsumsi saat kumpul-kumpul. “Ya kami sudah berkecimpung di sini dan dipercaya menjadi kader Keswa, ya harus dilanjutkan apapun risikonya,” tandas Abu Ammar.

Karena itu, para kader yang sangat sabar membimbing pasien dan keluarganya berharap apa yang dilakukan ini membawa berkah dan pahala, serta pasien merasakan kembali hidup normal. “Kalau pasien bisa tenang, keluarganya pasti senang dan kami para kader ini bisa riang,” tandas Abu Ammar. *endanglismari

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry