MENUJU PONPES SEHAT : Para Kader Santri Husada dari Pondok Pesantren Al Hikam Bangkalan hasil binaan tim Unusa. DUTA/istimewa

Ke depan tidak akan ada lagi  stigma yang menyebutkan santri di pondok pesantren selalu ‘penyakitan’. Dengan adanya Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren), kesehatan para santri bisa dimonitor dan  bisa segera ditangani ketika mengalami masalah kesehatan.

—-

Komitmen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) untuk menghidupkan kembali Poskestren, terus dilakukan. Tujuannya, agar ponpes bisa lebih sehat dan bersih yang muaranya adalah kesehatan dari seluruh santri dan pengurus ponpes itu sendiri. Jika santri sehat, para gurunya juga sehat, maka proses pendidikan akan berjalan lancar.

Sayangnya, tidak semua ponpes memiliki Poskestren. Kalaupun memiliki, itu hanya sebagai simbol tanpa memiliki fungsi berarti. Alias tidak difungsikan.

Padahal Poskestren ini penting bagi ponpes yang memiliki santri lebih dari 2 ribu orang. Karena dari hasil penelusuran tim Unusa, ponpes dengan jumlah santri 2 ribu orang, dalam sehari, ada 20 hingga 30 orang yang mengalami sakit. Dengan keluhan yang bermacam-macam.

“Selama ini kalau sakit hanya dibawa ke puskesmas terdekat. Tidak ditangani sendiri. Padahal kalau ke puskesmas ada biayanya. Mengapa Poskestren tidak didirikan, difungsikan dan dihidupkan lagi,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Dr dr Handayani.

Itulah mengapa Unusa berkomitmen untuk mendirikan Poskestren ini. Bukti berdirinya Poskestren gagasan Unusa itu  ada di Ponpes Al Hikam Bangkalan  milik KH Nuruddin A Rahman.

Peresmian sudah dilakukan minggu lalu. Dan Poskestren ini menjadi salah satu uji coba untuk mendirikan Poskestren di ponpes yang lain.

Selama tiga bulan, tim Unusa yang terdiri dari dosen dan mahasiswa FK dibantu dari Fakultas Teknik (FT) bahu membahu untuk mendirikan Poskestren itu.

Proses awal dikatakan dr Handayani, ketika Unusa diberikan hibah dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) untuk membuat Poskestren.

Perwakilan dari Unusa dan Ponpes Al Hikam foto bersama saat peresmian Poskestren. DUTA/istimewa

“Kita pilih Al Hikam karena sudah menjadi binaan kita dan di sana belum ada Poskestrennya,” ungkap dr Han, panggilan dr Handayani.

Setelah itu, tim membuat forum group discussion (FGD) yang diikuti tim Unusa, puskesmas dan kecamatan setempat. Tujuannya mengetahui bagaimana membentuk Poskestren, apa saja yang dibutuhkan dan sebagainya. Dari sana bisa disusun program kerja untuk dijalankan.

Bentuk Kader Santri Husada

Langkah pertama yang secara nyata dilakukan adalah memberikan pelatihan kader santri husada. Mereka yang dilatij adalah siswa SMP, SMA dan SMK yang jumlahnya 50 anak.

Pelatihan utama adalah prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Misalnya dari hal yang sangat sederhana yakni mandi minimal dua kali sehari, mencuci rambut dua kali seminggu, memotong kuku. Juga menjaga kebersihan kamar, tempat tidur, hingga kamar mandi.

Juga diajarkan menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya, tidak boleh menggantung baju-baju sembarangan, meminimalisir penampungan air dan sebagainya.

“Tujuannya agar terhindar dari berbagai penyakit. Terutama demam berdarah,” tandas dr Handayani.

Dekan FK Unusa dr Handayani menyematkan PIN pada Kader Santri Husada. DUTA/istimewa

Selain itu diajarkan bagaimana menjaga asupan makanan  yang mengandung gizi lengkap, cukup protein, kalori, karbohidrat dan sebagainya. “Sampai bagaimana cara masaknya kita ajarkan,” ungkap dr Handayani.

Juga diajarkan bagaimana menjaga kesehatan diri, dengan olahraga, tidak merokok, menggunakan masker ketika sakit, membuang ingus pakai tisu dan sebagainya.

Selain itu diajarkan pelatihan P3K, dengan harapan ketika ada eekannya sesama santri sakit, bisa segera ditangani. Jika memang butuh pertolongan medis bisa langsung dirujuk.

“Intinya kita ingin kader-kader itu nantinya menularkan ilmu yang sudah didapat ke teman-teman lainnya. Sehingga PHBS itu benar-benar berjalan maksimal,” jelas dr Handayani.

Setelah pelatihan, para santri pun distimulasi dengan menggelar lomba-lomba. Lomba kebersihan antar kelas, antar kamar, hingga kebersihan kamar mandi. Juga digelar lomba membuat poster bertema kesehatan.

Pihak Ponpes Al Hikam merespon penuh tim Unusa. Pihak ponpes menyediakan satu ruangan khusus yang dulunya  ruang UKS.

Ruangan itu dijadikan Poskestren dengan penambahan fasilitas lain yang dibutuhkan. Misalnya timbangan badan, alat ukur badan hingga tensi. Juga disediakan komputer yang berfungsi sebagai pusat data medis santri.

Ke depan, Poskestren itu akan dilengkapi dengan petugas khusus seperti perawat dan dokter.

“Minimal perawat yang bertugas tiap hari. Kalau dokter, bisa seminggu dua kali. Tujuannya agar bisa melakukan tindakan preventif dan preventif. Kalaupun sudah ada yang sakit, bisa langsung ditangani,” tutur dr Han.

Jika Poskestren di Ponpes Al Hikam ini bisa berjalan sesuai yang diharapkan, tim Unusa akan melakukan standarisasi. Hal ini penting, agar ketika ada ponpes lain yang akan mendirikan Poskestren sudah ada standar yang sama.

Karenanya, setelah program ini sukses, selanjutnya tim Unusa akan membuat Poskestren Plus. Di mana nantinya dokter-dokter lulusan FK Unusa bisa magang atau bekerja di Poskestren-Poskestren yang sudah ada terutama yang sudah menjalin kerjasama dengan Unusa.

“Kita akan kerjasama dengan banyak prodi di Unusa. FK sebagai leadernya, tapi ada prodi lain yang nantinya membantu,” tandas dr Handayani.

Terus Lakukan Pemantauan

Kendala lain yang saat ini sedang dipikirkan adalah bagaimana Poskestren ini bisa terus berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Karena beberapa ponpes yang memiliki Poskestren tidak memfungsikan lagi karena adanya kendala biaya.

Unusa pun akan melakukan pemantauan secara berkala ke Poskestren yang sudah dibentuk. Bahkan, nantinya akan menyusun formula agar Poskestren itu bisa berjalan.

“Selama ini yang menjadi kendala adalah biaya. Pondok tidak ada biaya untuk menggaji perawat atau dokter. Ini akan sulit dicapai kalau tidak ada solusi,” ungkap dr Handayani.

Dikatakan dr Handayani ponpes harus menarik iuran dari santri setiap bulannya dengan nilai yang tidak memberatkan.

Misalnya Rp 5 ribu per santri per bulan. Jika jumlah santri 2 ribu orang, itu cukup untuk memberikan insentif untuk perawat dan dokter yang datang untuk melakukan pemeriksaan serta membeli obat-obatan yang dibutuhkan.

“Dari pada harus ke Puskesmas, lebih baik ditangani dulu di Poskestren milik pondok sendiri,” tukas dr Handayani.

Sementara bagi pondok-pondok pesantren yang kecil-kecil, nantinya bisa bergabung dengan yang ada di sekitarnya untuk membentuk Poskestren. Targetnya setiap Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) minimal harus ada satu  Poskestren.

Nantinya ponpes yang masih dalam satu MWC, bisa bergabung untuk memanfaatkan Poskestren yang ada. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry