LEGENDA: Candi Prambanan yang menyimpan cerita legenda Bandung Bondowoso, ksatria sakti yang harus membangun seribu candi dalam semalam. Poros Tengah di Pilgub Jatim diibaratkan sedang 'mantek aji' Bandung Bondowoso. (ist)

SURABAYA | duta.co – Parpol poros tengah sedang dinamis di pentas jelang Pilgub Jatim 2018. La Nyalla Mattalitti yang mendapat tugas dari Ketum Partai Gerindra lagi mati-matian menggalang koalisi Parpol. Namun sampai deadline 20 Desember 2017 hasilnya belum menggembirakan. Nyalla merasa ‘dipingpong’ Ketum PAN Zulkifli Hasan. Zulkifli sendiri sudah menelepon Suyoto, ketua DPW PAN yang juga bupati Bojonegoro, agar bersiap maju Pilgub Jatim.

Mochtar W Oetomo (ist)

Pengamat politik dari Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W Oetomo mengibaratkan upaya poros tengah seperti Bandung Bondowoso. Harus menyelesaikan seribu candi dalam satu malam.

“Kelihatannya muskil bahkan saat itu seluruh rakyat Kerajaan Baka sengaja keluar rumah bukan untuk menyemangati Bandung Bondowoso. Tapi justru bersiap-siap untuk meledek kegagalannya,” ungkap Mochtar kepada duta.co, Rabu (20/12).

Namun siapa sangka menjelang fajar, Bandung Bondowoso bisa menyelesaikan 999 candi sehingga membuat jantung seluruh rakyat Kerajaan Baka berdenyut dengan cepat. “Artinya, politik itu begitu dinamis dan fluktuatif, bahkan turbulen. Sehingga hitungannya tidak lagi bulan dan minggu tapi perubahan bisa saja terjadi dalam hitungan jam. Apa yang tak mungkin bisa saja menjadi mungkin,” kelakar Mochtar.

Dia mengingatkan, Pilgub DKI Jakarta dulu juga injury times munculnya pasangan AHY-Sylvi. Kemudian siapa sangka di Pilgub Jabar, Gerindra merekom Sudrajat, dan rekom Golkar Jabar kepada Ridwan Kamil dievaluasi.

“Bisa jadi La Nyalla gagal memenuhi surat tugas sesuai batasan hari. Tapi itu bukan akhir cerita. Karena masih ada waktu sampai tanggal 10 Januari batas masa pendaftaran. Gerindra masih bisa merajut komunikasi politik dengan Parpol lain. Toh NasDem, PPP, PAN  dan PKS hingga saat ini belum turunkan ‘rekom’ resmi,” jelasnya.

Menurut dia, kebanyakan yang dipikirkan orang adalah jika poros tengah wujud. Hanya sedikit orang yang memikirkan apa dampaknya jika poros tengah tidak terwujud hanya karena gagal terbentuk koalisi parpol.

“Akankah menjadi amarah Bandung Bondowoso yang mengutuk Roro Jonggrang jadi batu? Mudah-mudahan saja tidak menjadi gejolak baru dan Pilgub Jatim tetap akan berjalan dengan aman dan menghibur masyarakat,” pungkas Mochtar.

 

Harus Intens Komunikasi

Terpisah, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdusshomad mengatakan jika serius maju mewujudkan poros emas di Pilgub Jatim, komunikasi DPP khususnya Partai Gerindra  dengan PAN serta PKS harus semakin intens. Sebab, waktu juga terus mendekati pendaftaran. Dua calon yang diajukan juga harus bisa menarik serta memiliki daya magnitute bagi koalisi dan memiliki peluang kompetitif dengan paslon yang sudah ada.

“Kalau akhirnya poros emas tidak bisa diwujudkan, maka Gerindra akan mengalami kerugian besar. Sebagai partai pemegang 13 kursi parlemen di Jatim, jika bergabung ke salah satu poros yang sudah ada itu artinya Gerindra hanya akan menjadi follower dan tidak ikut menentukan serta tidak akan mendapat coatile effect elektoral signifikan di Pileg dan Pilpres,” beber Surokim.

Diakui Surokim, jika PAN cenderung memilih bergabung ke salah satu paslon yang sudah ada, itu artinya terbuka peluang Gerindra sendirian. “Kalau momentum tidak kunjung datang Gerindra bisa menuai akibat dari politik delay yang dimainkan DPP dan itu bisa jadi kerugian,” tambah Dekan Fisip UTM.

Apalagi politik last minute untuk dapat momentum rebound tidak selalu bisa datang manis di kala waktu sudah semakin mepet, bahkan bisa jadi ketinggalan kereta karena bagaimanapun Gerindra tetap membutuhkan koalisi untuk mengusung calon tidak mungkin sendirian.

“Kesempatan itu terus mengecil karena politik delay yang dimainkan DPP, sementara perkembangan politik di tingkat lokal sangat dinamis. Gerindra sebagai partai komando jika tidak gesit berpacu dengan waktu akan ketinggalan kereta,” kelakar Surokim.

 

80% PAN Jatim ke Gus Ipul atau Khofifah

DPW PAN Jatim sendiri lebih memilih mendukung salah satu pasangan calon yang sudah muncul yakni pasangan Gus Ipul-Anas atau pasangan Khofifah-Emil.

“Potensi membuat poros baru di Pilgub Jatim tinggal 20 persen sebab 80 persen suara parpol-parpol di Jatim di luar PAN dan Gerindra sudah ikut poros Gus Ipul atau Khofifah. Kemungkinan besar PAN juga akan ikut bergabung dalam poros yang sudah ada sebab komunikasi politik dengan paslon maupun Parpol sudah terjalin baik.” Demikian kata bendahara DPW PAN Jatim Agus Maimun, Rabu (20/12).

Di antara kendala membentuk poros baru di Pilgub Jatim, kata Agus adalah belum adanya titik temu antara para kandidat calon dengan bakal calon pasangan maupun dengan koalisi partai pengusung.

“PAN Jatim punya banyak calon seperti Pak Masfuk, Kang Yoto dan Anang Hermansyah tapi calon pasangannya tidak mau padahal partai pengusung sudah siap mengusung atau sebaliknya, bakal calonnya mau tapi tak dikehendaki partai pengusung, variabel penentunya banyak,” ungkapnya.

Sementara ditanya soal dukungan terhadap La Nyalla Mattalitti, dengan lugas Agus Maimun menyatakan bahwa partai memiliki mekanisme untuk mengusung calon. Namun hingga saat ini La Nyalla enggan silaturrahim dan membangun komunikasi politik dengan DPW PAN Jatim. Padahal DPP sebelum mengeluarkan rekom paslon sudah tentu minta masukan DPW.

“La Nyalla hanya melakukan komunikasi personal dengan sejumlah pengurus sehingga itu tak masuk mekanisme internal partai. Kalau dia serius harusnya silaturrahim dengan DPW dan memaparkan visi-misi di hadapan kader PAN Jatim. Itu juga pernah dilakukan Pakde Karwo saat mau maju Pilgub Jatim 2008 dan 2013 lalu,” sindir politisi asli Tuban.

Dukungan PAN Jatim untuk Pilgub Jatim 2018, secara resmi akan diberikan saat pendaftaran paslon di KPU Jatim yang dijadwal dilaksanakan pada 8-10 Januari 2018. “Dengan Gus Ipul, PAN sudah bekerja sama cukup lama dan selama ini komunikasinya berjalan baik. Begitu pula dengan Emil Dardak, PAN punya sejarah di Trenggalek. Tunggu saja, tinggal didefinitifkan antara 8-10 Januari nanti,” ujar Agus Maimun. ud

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.