
“Mencari Sosok yang Mampu Merangkul Rumah Besar Nahdlatul Ulama di Muktamar ke-35 NU”
Oleh: Abdur Rahman El Syarif *)
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10)
Ketika NU Memerlukan Peneduh
SEMAKIN dekat Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, dinamika organisasi kian terasa. Pertemuan-pertemuan berlangsung semakin intens, komunikasi antardaerah semakin aktif, dan berbagai pandangan mengenai arah kepemimpinan terus berkembang. Semua itu merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan sebuah jam’iyah besar yang telah memasuki hampir satu abad perjalanan.
Namun di tengah dinamika tersebut, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan bersama. Pertanyaan itu bukan sekadar, “Siapa yang paling layak memimpin?” melainkan, “Karakter kepemimpinan seperti apa yang paling dibutuhkan Nahdlatul Ulama untuk memasuki abad keduanya?”
Pertanyaan ini penting, sebab organisasi sebesar NU tidak hanya memerlukan seorang pemimpin yang mampu mengelola administrasi atau memenangkan kontestasi. NU memerlukan sosok yang mampu menjaga ruh persaudaraan, memelihara marwah jam’iyah, dan mengarahkan seluruh potensi organisasi menuju kemaslahatan umat.
Dalam konteks inilah, Poros Maslahah tidak berbicara tentang nama, melainkan tentang nilai. Ia tidak menunjuk siapa yang harus dipilih, tetapi mengajak seluruh warga Nahdliyin merenungkan karakter seperti apa yang layak dipercaya memikul amanah besar tersebut.
Kepemimpinan dalam Islam adalah Amanah Persatuan
Al-Qur’an memberikan petunjuk yang sangat mendasar mengenai kehidupan bersama. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesunguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa persaudaraan bukan sekadar keadaan yang harus dijaga, melainkan amanah yang harus terus dipelihara. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin dalam Islam tidak berhenti pada kemampuannya mengambil keputusan, tetapi juga pada kemampuannya merawat ukhuwah di tengah perbedaan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang ukmin terhadap mukmin lainnya laksana bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Dalam syarah para ulama, hadis ini menggambarkan bahwa masyarakat Islam tidak dibangun oleh dominasi satu bagian atas bagian lain, tetapi oleh kekuatan saling menopang. Jika satu bagian meruntuhkan bagian lain, maka bangunan itu sendiri akan melemah. Demikian pula dalam kehidupan jam’iyah: kepemimpinan yang sejati bukanlah yang memperbesar satu kelompok, melainkan yang memperkokoh seluruh bangunan.
Lima Karakter Kepemimpinan Maslahah
1. Meneduhkan Sebelum Menggerakkan
Ada pemimpin yang mampu menggerakkan organisasi dengan cepat. Namun ada pula pemimpin yang kehadirannya terlebih dahulu menghadirkan ketenangan. Nahdlatul Ulama memerlukan keduanya, tetapi yang pertama harus didahului oleh yang kedua.
Dalam tradisi pesantren dikenal ungkapan:
فاقد الشيء لا يعطيه
“Seeorang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan mampu memberikannya.”
Pemimpin yang hatinya dipenuhi kegelisahan akan sulit menghadirkan keteduhan bagi orang lain. Sebaliknya, pemimpin yang jernih batinnya akan mampu meredakan ketegangan bahkan sebelum berbicara panjang. Keteduhan bukan tanda kelemahan, melainkan buah dari keluasan jiwa.
2. Menyatukan Sebelum Memimpin
Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang eguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 103)
Ayat ini tidak meniadakan perbedaan pendapat, tetapi mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh berubah menjadi perpecahan.
Karena itu, pemimpin NU pada abad kedua hendaknya menjadi perekat seluruh unsur jam’iyah. Ia hadir bukan sebagai representasi satu kelompok, melainkan sebagai rumah bersama bagi seluruh warga Nahdliyin.
Dalam kaidah fikih siyasah disebutkan:
تصرّف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة
“Kebijakan eorang pemimpin terhadap rakyat harus senantiasa berorientasi pada kemaslahatan.”
Kemaslahatan itu hanya akan lahir apabila seluruh unsur merasa dirangkul, didengar, dan dihargai.
3. Mendengar Sebelum Memutuskan
Allah SWT memuji orang-orang beriman dengan firman-Nya:
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
“Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syūrā [42]: 38)
Musyawarah bukan sekadar prosedur organisasi. Ia adalah adab kepemimpinan. Seorang pemimpin yang baik tidak merasa semua jawaban berasal dari dirinya. Ia membuka ruang bagi hikmah yang mungkin datang dari siapa saja.
Imam al-Syāfi’i pernah berkata:
رأيي صواب يحتمل الخطأ، ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب.
“Pendapatku benar, tetapi mungkin mengandung kekeliruan; pendapat orang lain keliru, tetapi mungkin mengandung kebenaran.”
Kerendahan hati intelektual seperti inilah yang menjadikan musyawarah hidup dan keputusan diterima dengan lapang dada.
4. Melayani Sebelum Memerintah
Rasulullah ﷺ bersabda:
سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka.”
Walaupun status sanad hadis ini diperselisihkan, makna yang dikandungnya sejalan dengan banyak ajaran Islam tentang kepemimpinan sebagai pelayanan (khidmah), bukan privilese.
Dalam praktiknya, para ulama Nusantara telah memberi teladan. Banyak kiai besar memilih hidup sederhana, dekat dengan santri dan masyarakat, serta mengukur keberhasilan bukan dari luasnya pengaruh pribadi, tetapi dari bertambahnya manfaat bagi umat.
Pemimpin NU yang dibutuhkan hari ini adalah mereka yang menjadikan jabatan sebagai sarana mengabdi, bukan sebagai tujuan untuk diagungkan.
5. Mewariskan Sebelum Meninggalkan
Setiap kepemimpinan akan berakhir. Yang membedakan seorang pemimpin dengan yang lain bukan lamanya masa jabatan, tetapi apa yang tetap hidup setelah ia selesai memimpin.
Para muassis NU tidak hanya meninggalkan organisasi. Mereka meninggalkan manhaj, tradisi keilmuan, adab, dan kader-kader yang meneruskan perjuangan. Karena itu, pemimpin yang baik selalu berpikir melampaui zamannya. Ia mempersiapkan generasi berikutnya, menguatkan kelembagaan, dan membangun budaya organisasi yang sehat.
Warisan terbaik bukanlah monumen, melainkan manusia-manusia yang siap melanjutkan amanah.
Menjadi Rumah yang Teduh
Nahdlatul Ulama telah bertahan hampir satu abad bukan karena tidak pernah mengalami perbedaan, tetapi karena selalu memiliki kemampuan untuk mengelola perbedaan itu dalam bingkai ukhuwah.
Muktamar ke-35 adalah kesempatan untuk kembali menunjukkan kepada umat bahwa NU tetap setia kepada jati dirinya: jam’iyah para ulama yang memimpin dengan hikmah, bermusyawarah dengan adab, dan berkhidmah dengan penuh kasih.
Karena itu, ketika para muktamirin kelak memberikan amanah kepemimpinan, hendaknya yang menjadi pertimbangan utama bukanlah siapa yang paling kuat membangun dukungan, melainkan siapa yang paling mampu menjaga rumah besar ini tetap teduh bagi seluruh warganya.
Sebab sejarah sering kali tidak mengingat siapa yang paling lantang berbicara. Sejarah lebih lama mengingat mereka yang berhasil menenangkan hati, merajut kembali persaudaraan, dan meninggalkan warisan kemaslahatan bagi generasi sesudahnya.
Semoga Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 menjadi momentum lahirnya kepemimpinan yang tidak hanya memimpin organisasi, tetapi juga merawat jiwa jam’iyah. Kepemimpinan yang tidak sibuk membangun kubu, melainkan membangun kepercayaan; tidak memperlebar jarak, tetapi mempererat persaudaraan. Itulah ruh Poros Maslahah: menghadirkan pemimpin yang meneduhkan, bukan membelah, demi NU yang semakin kokoh memasuki abad keduanya.
Jakarta, 31 Juli 2026




































