
(Menyongsong Muktamar NU ke-35 dengan Meneguhkan Amanah, Adab, dan Keutuhan Jam’iyyah)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif
MUKTAMAR Nahdlatul Ulama ke-35 yang akan diselenggarakan pada 27–31 Agustus 2026 di Tambak Beras, Jombang, merupakan momentum yang sangat berharga bagi seluruh warga Nahdliyin. Muktamar adalah ruang musyawarah untuk memperkuat arah perjuangan jam’iyyah, mempererat ukhuwah, serta memperbarui komitmen terhadap cita-cita yang diwariskan oleh para muassis. Dalam suasana seperti inilah setiap warga NU diajak menghadirkan kejernihan berpikir, keluasan hati, dan kejujuran dalam memandang diri sendiri.
Pernyataan KH. Yasin Nawawi pada acara Pelantikan Idarah Wustha DI Yogyakarta beberapa waktu lalu mengenai baiat, kemursyidan, dan posisinya terhadap JATMAN menghadirkan ruang perenungan yang layak disikapi dengan kepala dingin. Terlepas dari adanya kemungkinan perbedaan pandangan, terdapat pelajaran yang sangat berharga mengenai keberanian menjaga integritas batin dan konsistensi terhadap keyakinan yang diyakini benar.
Dalam tradisi tasawuf, maqam ṣidq merupakan fondasi perjalanan seorang salik. Kejujuran tidak berhenti pada ucapan yang benar, tetapi menjelma menjadi kesesuaian antara keyakinan, hati, dan tindakan. Karena itulah Allah SWT berfirman:
“Yā ayyuhalladzīna āmanū ittaqullāha wa kūnū ma’aṣ-ṣādiqīn.” “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119).
Ayat tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam. Kejujuran merupakan lingkungan spiritual yang harus dibangun bersama. Seorang mukmin diperintahkan untuk berada di tengah komunitas yang menjunjung tinggi kejujuran, sebab kejujuran melahirkan kepercayaan, sedangkan kepercayaan menjadi fondasi kokohnya sebuah jam’iyyah.
Dalam perspektif itulah, keberanian mengakui kegelisahan batin memiliki nilai moral yang tinggi. Seseorang memilih memikul konsekuensi dari keyakinannya sendiri, sekalipun keputusan tersebut tidak ringan. Sikap seperti ini mengingatkan bahwa amanah organisasi memerlukan keselarasan antara kapasitas, tanggung jawab, dan kesiapan spiritual.
Tradisi pesantren sejak dahulu mengajarkan bahwa jabatan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Amanah tidak lahir dari ambisi, melainkan dari kesediaan mengabdi dengan penuh keikhlasan. Karena itu, rasa belum layak terkadang menjadi pertanda hadirnya sikap wara’ dan kehati-hatian dalam memikul tanggung jawab.
Nilai inilah yang selama ini menjadi ruh Nahdlatul Ulama. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari berulang kali menanamkan pentingnya menjaga adab dalam berjamaah, memelihara persaudaraan, serta mengedepankan kemaslahatan umat. Dalam Muqaddimah Qānūn Asāsī Nahdlatul Ulama, beliau mengingatkan bahwa persatuan merupakan kekuatan terbesar umat Islam, sedangkan perpecahan menjadi sebab melemahnya kehidupan bersama. Setiap amanah jam’iyyah harus dijalankan dengan keikhlasan, musyawarah, serta akhlak yang mulia agar organisasi tetap menjadi sarana mengabdi kepada agama dan bangsa.
Semangat tersebut berkelindan dengan firman Allah SWT: “Wa’taṣimū biḥablillāhi jamī’an wa lā tafarraqū.” “Berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103).
Ayat ini tidak menghapus adanya perbedaan pendapat. Al-Qur’an justru memberikan pedoman agar setiap perbedaan dikelola dalam bingkai persaudaraan. Ukhuwah menjadi pagar yang menjaga agar ikhtilaf tetap menghadirkan rahmat dan kebijaksanaan.
Dalam konteks JATMAN, pembahasan mengenai kemursyidan, baiat, maupun legitimasi organisasi memang memiliki dimensi historis, keilmuan, dan kelembagaan yang perlu dipahami secara utuh. Perbedaan pandangan hendaknya menjadi ruang dialog yang sehat, bukan pintu lahirnya saling menegasikan. Tradisi NU sejak awal tumbuh melalui forum bahtsul masail, musyawarah, dan penghormatan terhadap sanad keilmuan. Jalan inilah yang patut terus dirawat.
Muktamar NU ke-35 menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali budaya adab dalam berorganisasi. Setiap keputusan seyogianya lahir dari kejernihan hati, keluasan ilmu, dan orientasi kepada kemaslahatan umat. Persaingan memperoleh amanah hendaknya berubah menjadi perlombaan dalam memberikan pengabdian terbaik. Perbedaan pilihan tetap berada dalam bingkai ukhuwah Nahdliyah yang tidak boleh terputus oleh dinamika sesaat.
Sesungguhnya kekuatan Nahdlatul Ulama tidak bertumpu pada figur semata. Kekuatan itu tumbuh dari kepercayaan yang dibangun selama satu abad melalui sanad keilmuan, keteladanan para kiai, tradisi musyawarah, dan keikhlasan para pengabdinya. Warisan inilah yang menjadikan NU tetap kokoh menghadapi berbagai perubahan zaman.
Karena itu, refleksi atas pernyataan KH. Yasin Nawawi selayaknya mengantarkan kita kepada muhasabah bersama. Setiap amanah memerlukan kejujuran spiritual. Setiap jabatan memerlukan legitimasi moral. Setiap organisasi memerlukan konsistensi terhadap aturan jam’iyyah. Setiap perbedaan memerlukan keluasan hati untuk tetap menjaga persaudaraan.
Apabila nilai-nilai tersebut menjadi ruh Muktamar NU ke-35, insya Allah forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama akan menghadirkan keberkahan bagi seluruh warga jam’iyyah. Dari Tambak Beras akan lahir keputusan-keputusan yang memperkuat persatuan, meneguhkan khidmah, serta menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara.
Sebagaimana pesan para ulama, kemenangan terbesar dalam sebuah muktamar bukanlah kemenangan seseorang atau sekelompok orang. Kemenangan sejati adalah ketika ukhuwah tetap terpelihara, amanah dijalankan dengan penuh tanggung jawab, dan Nahdlatul Ulama semakin kokoh sebagai rumah besar yang menaungi seluruh warganya dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah..
Wallāhu A’lam bi ash-Ṣawāb.




































