
JAKARTA | duta.co – Di luar dugaan. Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menunjuk Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur sebagai lokasi Muktamar ke-35 NU, diyakini sebagai tanda-tanda turunnya Ridho Allah SWT. Sebab sebelumnya, soal lokasi ini, sempat mengerucut di dua tempat, antara DKI Jakarta dan PP Lirboyo.
Jatuhnya pilihan di Ponpes Tambakberas, sekaligus mengakhiri debatable perihal lokasi. “Keputusan ini min fadli robbi. Keutamaan dari Allah SWT. Keputusan yang mendapat Ridho Allah SWT. Baik Rais Aam PBNU dan Ketua Umum PBNU, berkenan dan telah menyepakati Tambakberas sebagai lokasi Muktamar ke-35 NU. Kita tata niat dengan baik, sehingga jalannya muktamar betul-betul untuk kepentingan umat, kepentingan jamiyah,” tegas KH Mohammad Hasib Wahab Chasbullah (Gus Hasib), putra almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah yang notabene Ketua Majelis Pengasuh di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Menurut Gus Hasib, Ponpes Tambakberas sangat siap. Pihaknya yakin, Muktamar ke-35 NU ini akan berlangsung sejuk. Kekeluargaan dan kondusif. “Ada barokah dari para muassis (pendiri) jamiyah ini. Bahkan para santri akan menyambutnya dengan gembira. Santri tidak libur, biar mereka paham bagaimana NU menggelar muktamar. Mereka juga bisa membantu para peserta muktanar, sehingga berjalan dengan baik,” tegasnya.
Soal fasilitas jangan tanya. Dalam kajian panitia, ternyata Ponpes Tambakberas dinilai paling siap dan paling lengkap fasilitasnya. “Di samping itu, Muktamar ke-35 ini menjadi momen penting mengembalikan tradisi asli NU. Seluruh nahdliyin, terkhusus peserta muktamar pasti teringat kerjakeras Mbah Wahab, Mbah Hasyim dan Mbah Bisri dalam mendirikan NU,” tegas sumber duta.co, Rabu (8/7/26).
Dengan begitu, lanjutnya, muktamar benar-benar digelar di pesantren, bukan gedung konvensi. Ini sesuai ruh awal berdirinya NU tahun 1926 untuk menguatkan kembali napas pesantren dalam gerak Jam’iyah. “Kami menyebutnya titik nol, memasuki abad kedua. Guyub, rukun, kondusif sebagaimana awal berdirinya NU,” tembahnya.
Kembali ke Akar Sejarah
Semua mafhum, Ponpes Tambakberas bersama Tebuireng adalah cikal bakal NU. Gagasannya lahir dari KH Abdul Wahab Chasbullah atas restu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Kalau Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, ini sama artinya “pulang ke rumah pendiri”. “Posisi Tambakberas diterima luas, baik kalangan Lirboyo maupun non-Lirboyo. Di tengah dinamika, Tambakberas dinilai paling siap menjadi penengah untuk menjaga persatuan nahdliyin. Terimakasih Tambakberas,” jelas warga nahdliyin di media sosial.
Pesantren itu memang lengkap. Di lahan ±5 hektare, Tambakberas punya sedikitnya 50 Ribath, 19 Lembaga Formal, dan 3 Perguruan Tinggi. Didukung 15.000 santri dan 1.500 ustadz-ustadzah, Tambakberas menjadi lokasi terlengkap. Apalagi pengalaman menggelar event besar sudah teruji. Lokasinya strategis dan dekat akses Tol. Kapasitas ini menjawab kebutuhan 5.000-6.000 peserta resmi.
Muktamar akan membawa spirit ‘Yalal Wathan’. Lagu wajib ‘Yalal Wathan’ yang digubah dari karya Almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah jelas menjadi simbol Muktamar ke-35 NU berlangsung teduh, damai, jujur, dan bebas dari kepentingan pemodal. Murni Cinta dan khidmah kepada jamiyah. Semoga! (net)





































