SEMINAR: Seminar Nasional  bertema “Masa Depan Pesantren di Era Digital dalam Perspektif Sosial Budaya Politik & Ekonomi” dengan pemateri KH. Agus Sunyoto dan Mujahid Ansori didukung penuh oleh pengasuh Ponpes Mathali’ul Anwar KH. Abu Suyuf Ibnu Abdullah. (duta.co/dok)

SUMENEP | duta.co – Salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) berbasis NU, Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Pangarangan Sumenep Madura Jawa Timur, mengadakan hajatan akbar dengan menghimpun alumninya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Mathali’ul Anwar Indonesia (F-KAMMAI) menyelenggarakan Kongresnya ke -II.

Acara dipusatkan di Gedung Islamic Center, Jalan Raya Lenteng, Batuan. Kongres dikemas dengan Seminar Nasional  bertema “Masa Depan Pesantren di Era Digital dalam Perspektif Sosial Budaya Politik & Ekonomi” mendapat dukungan penuh pengasuh Ponpes Mathali’ul Anwar KH. Abu Suyuf Ibnu Abdullah.

“Saya sebagai pengasuh sangat mendukung acara ini dan semoga ada tindak lanjut dari Kongres II ini. Karena saya juga  berkeinginan agar pondok juga suatu saat memiliki Perguruan Tinggi sebagai jembatan untuk memperkaya keilmuan keislaman tetapi tetap berbasis ciri khas keilmuan pesantren,” katanya.

Selain itu jelas KH. Abu Suyuf Ibnu Abdullah Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Pangarangan Sumenep Madura tetap dengan cirikhasnya. “Saya tetap menekankan kepada semua santri dan alumni agar untuk selalu mengedepankan ahklaq,” katanya menambahkan.

Sementara itu, KH. Agus Sunyoto pemateri Seminar menyatakan, diakui atau tidak bahwa sekarang manusia sudah hidup di era digital, bukti pendukungnya adalah semuanya disibukkan dengan Media sosial (Medsos).

“Artinya jika tidak pandai menjaga dan membentengi diri dengan pengetahuan, maka akan tragis nasib kita,” jelasnya.

Karenanya ujar  KH. Agus Sunyoto ilmu pengetahuanlah kunci utama dalam mengebalkan diri dari ancaman dunia barat. Selain itu, pondok pesantren lah lumbung ilmu ilmu islam.

“Pesantren sangat pas dalam membentengi diri, sebab pendidikan sekolah umum banyak menganut ajaran dari dunia barat, dan beruntung di Indonesia banyak pesantren,”paparnya.

Pesantren ini lanjut KH. Sunyoto, yang merupakan penulis buku Atlas Wali Songo menambahkan, bahwa pendidikannya sangat berbeda dengan di sekolah umum. Bila di pesantren banyak pelajaran tentang kehidupan nyata, maka diluar banyak mata pelajaran yang absurd.

Sedangkan Mujahid Ansori  salah satu ketua perguruan tinggi islam di Sumenep menyampaikan, pesantren benteng utama dan barometer pendidikan di dunia. Sebab banyak yang melirik dan mengadakan penelitian terhadap sistem pendidikannya yang unik dan khas.

“Satu ciri khas yg dominan dalam ponpes santri diajari berkehidupan mandiri dengan mengedepankan akhlaqul karimah baik disaat berdomisili di pesantren maupun sudah terjun di masyarakat,” jelasnya.

Mujahid menambahkan pesantren aset berharga dalam membangun bangsa terutama menjadi basis penguatan potensi masyarakat baik sosial, budaya, politik dan ekonomi. Sebab para santri ponpes juga digembleng berbagai disiplin ilmu tidak hanya ilmu keislaman tetapi juga ilmu terapan yang memungkin kelak langsung diaplikasikan dalam masyarakat.

“Maka ketika pondok pesantren berupaya menyiapkan diri SDM para santrinya untuk ikut berkiprah di era digital adalah sebuah keniscayaan dan ini adlah langkah cerdas antisipatif dlm membaca kebutuhan zaman,” jelasnya.

Usai seminar para Alumni F- KAMMAI melajutkan kongres ll memilih ketua masa bakti 3 tahun kedepan. Menurut ketua pelaksana kongres Kiai Ali Wasik yang juga merupakan alumni pesantren ini mengatakan bahwa diharapkan pengurus baru ini nantinya benar mampu berkontribusi lebih nyata bagi kemajuan agama, bangsa, dan negara. (imm)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.