TRENGGALEK | duta.co — Berbagai upaya dilakukan Polres Trenggalek dalam menciptakan situasi aman, nyaman dan kondusif selama bulan suci Ramadan. Seperti halnya Polsek Pule, di bawah komando Iptu Suraji, gencar merazia petasan atau mercon pada setiap pedagang penjual kembang api.

Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo S melalui Kapolsek Pule, AKP Suraji mengatakan, setiap bulan suci Ramadan hingga lebaran, banyak pedagang dadakan yang meraup untung dengan menjual kembang api. Namun tidak menutup kemungkinan mereka juga menjual barang berbahaya seperti mercon atau petasan dengan daya ledak tinggi.

”Kita imbau kepada para pedagang, agar tidak menjual jenis petasan atau mercon yang meledak. Barang tersebut, selain membayakan diri sendiri juga bahaya pada orang lain,” Iptu Suraji, Jumat (18/5/2018).

Menurutnya, di area pasar Pule saat jelang buka puasa dan selesainya salat tarawih, nampak beberapa pedagang kembang api sudah menyiapkan barangnya untuk dijual. Untuk mengantisipasi peredaran mercon, personel Polsek Pule gencar melakukan razia ke pedagang.

“Semua ini demi kenyamanan dan keamanan kita bersama. Banyak masyarakat yang resah akibat ledakan petasan tersebut. Selain mengganggu jalannya salat tarawih, juga sangat berbahaya. Tindakan tegas pasti kami lakukan terhadap pedagang yang secara sengaja menjual mercon,’’ tegasnya.

Imbauhan ini, lanjutnya, agar tidak menjual jenis petasan atau mercon yang meledak, karena mengingat letusan yang diakibatkan mercon sangat berbahaya dan bisa menyebabkan korbanya terluka.

“Polri telah mengingatkan terhadap produksi, penjualan, dan penggunaan petasan itu dilarang keras. Yang diperbolehkan adalah kembang api berukuran di bawah 2 inci,’’ tandasnya.

Iptu Suraji menambahkan, petasan atau mercon seberapa ukurannya memang dilarang. Kalau kembang api boleh, tapi di bawah 2 inci. Sedangkan penggunaan kembang api berukuran di atas 2 inci harus dengan izin khusus.

“ Di atas 2 inci itu harus izin khusus, itupun misalnya ada perayaan tertentu dan cara meledakkannya pun sudah dengan sistem komputerisasi. Karena harus ada juru ledaknya, harus bersertifikat, jadi tidak main-main,’’ pungkasnya. (sup/ham)

Tinggalkan Balasan