Keterangan foto /www.nuntium.id

JAKARTA | duta.co – Menarik! Koordinator Center for Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman menilai, sikap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kepada Megawati (Ketua Umum PDIP) bukan sekadar bentuk penghormatan pribadi.

Menurutnya, cium tangan tersebut bisa dimaknai sebagai manuver politik atau bahkan sinyal pergeseran dukungan. Tampak dengan jelas, Kapolri mencium tangan Megawati Soekarnoputri, saat berkunjung ke kediaman keluarga mendiang Jenderal Hoegeng Iman Santoso Senin (23/6/2025).

Gestur itu memicu beragam tafsir politik di tengah dinamisnya peta kekuasaan nasional. Jajang menilai, tindakan Kapolri bukan sekadar bentuk penghormatan pribadi. “Kalau cium tangan itu dianggap sebagai rasa hormat kepada Ketua Umum PDIP, maka bisa juga ditafsirkan sebagai ucapan halus: ‘Selamat tinggal Jokowi’,” ujar Jajang kepada awak media ini, Kamis (3/7/2025).

Keterangan foto lapan6online.com

Jajang juga menyoroti inkonsistensi kebijakan Kapolri yang sebelumnya melarang tilang manual, namun tetap terjadi di lapangan. Hal itu ia sebut sebagai “gimik” semata. Menurutnya, publik sudah cukup akrab dengan simbol-simbol semacam itu dari institusi kepolisian. “Kapolri dulu melarang tilang manual, tapi praktiknya tetap jalan. Ini memperkuat persepsi publik bahwa banyak kebijakan Polri hanya sebatas tontonan,” tegasnya.

Lebih jauh, Jajang menyoroti relasi politik antara Megawati dan institusi Polri yang dulunya tidak akrab. Di masa lalu, kata dia, seorang Kapolri tak akan berani terlalu dekat dengan Megawati. Namun kini, situasinya berbalik.

“Publik tahu, Megawati pernah vokal mengkritik Polri di bawah kepemimpinan Listyo. Tapi kini, peta politik berubah. Cium tangan itu sinyal kuat bahwa Kapolri mulai menjauh dari lingkar Jokowi dan mulai merapat ke kekuatan politik lain,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry