Anggota Pembinaan Mental Karate (PMK) Kyokushinkai Karate-Do Indonesia saat berlatih. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Pembinaan Mental Karate (PMK) Kyokushinkai Karate-Do Indonesia terus konsisten menempa generasi muda melalui seni bela diri full body contact.

Di balik sistem latihan berintensitas tinggi, perguruan ini berfokus membentuk mental baja, kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, dan karakter luhur para karateka.

Kota Surabaya kini berkembang menjadi salah satu basis penting dengan jumlah anggota terbesar di Jawa Timur. Aktivitas pembinaan berpusat di sejumlah dojo terkemuka, seperti Dojo Graha Family dan Dojo Kupang Jaya, di samping tempat latihan utama di GOR Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Senior instruktur PMK Kyokushinkai, Shihan Hartanto Chandra, menegaskan bahwa kekuatan fisik yang dibangun melalui latihan keras bukanlah sarana untuk mengajarkan kekerasan, melainkan instrumen disiplin yang krusial.

“Memang diperlukan kedisiplinan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat keras atau kasar. Padahal, tujuannya murni untuk kedisiplinan. Itu yang jauh lebih utama,” ujar Shihan Hartanto.

Ia juga menekankan perlunya sinergi dengan orang tua agar memahami esensi latihan dalam membangun ketangguhan mental atlet menghadapi kompetisi.

Hal senada disampaikan oleh pelatih dan pembina senior, Sensei Lukman Hadi, yang telah bergabung sejak awal dekade 1970-an. Menurutnya, fisik, stamina, dan teknik merupakan pilar utama yang bermuara pada pembentukan mental dan kepatuhan positif.

Solusi Nyata Mengatasi Bullying

Menariknya, dorongan anak-anak muda untuk bergabung sering kali bermula dari pengalaman sosial negatif di sekolah, seperti kasus bullying.

Rinjani Aurellia (15), karateka asal SMP Negeri 10 Surabaya, menceritakan transformasinya setelah berlatih selama empat hingga lima tahun. Dari awalnya mencari kepercayaan diri akibat tekanan sosial, kini ia mampu mengontrol emosi dan berkomunikasi dengan lebih baik.

Pengalaman serupa dirasakan oleh orang tua murid, Desi. Ia memutuskan mendaftarkan ketiga anaknya—yang sempat menjadi korban bullying dan nyaris mengalami pelecehan—setelah menyadari pentingnya kemampuan membela diri di ruang publik. Keputusan tersebut membuahkan hasil signifikan: anak-anaknya kini tumbuh lebih percaya diri, disiplin, mampu mengontrol emosi, bahkan sukses menorehkan prestasi di berbagai kejuaraan nasional.

Kurikulum Terpusat dan Aksi Sosial

Sensei Arief Sugiarto selaku pembina di Dojo Kupang Jaya menjelaskan bahwa kurikulum terpusat diterapkan guna memetakan bakat atlet secara seimbang, baik pada nomor Kumite (pertarungan) maupun Kata (seni jurus).

Selain menempa fisik dan mental di dalam dojo, nilai kepribadian para karateka turut diasah melalui kegiatan kemasyarakatan, seperti bakti sosial ke YPAC Surabaya untuk menumbuhkan empati terhadap sesama dan penyandang disabilitas.

Perguruan ini sendiri berakar dari sejarah panjang yang dirintis oleh mendiang Hanshi Nardi T. Nirwanto, S.A.—pionir Kyokushin di Indonesia yang berguru langsung pada Grand Master Masutatsu Oyama di Tokyo—yang merintis embrio organisasi ini di Kota Batu pada tahun 1967.

Melalui pembinaan prestasi dan regenerasi yang berkesinambungan, PMK Kyokushinkai terus berkomitmen mencetak generasi muda yang tidak hanya tangguh di arena, tetapi juga mampu menaklukkan diri sendiri dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari. ril/lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry