Oleh M Sholeh Basyari*

APRIL ini adalah bulan pergerakan bagi aktivis maupun alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di usia matang 66 tahun (1960-2026), breeding ground PMII setidaknya melahirkan tiga Matra berikut: pemimpin (leader), pemikir (intelektual, thinker) dan pemain (player).

Tiga Matra tersebut saling melengkapi. Seorang leader butuh player sebagai operator kerja-kerja kepemimpinan politiknya. Leader yang baik niscaya dibackup oleh tim pemikir yang handal.

Pada tataran praksis, matra leader PMII mewujud menjadi pimpinan Daerah (gubernur, bupati, walikota), anggota parlemen (DPRD dan DPRRI), juga tentu saja pimpinan partai politik.

Tak beda dengan matra intelektual pemikir, sejumlah alumni di matra ini mengisi posisi di sejumlah struktur kampus: rektor, dekan, maupun kepala madrasah. sementara, para player “membantu” kelancaran  sahabat-sahabatnya yang bergerak di matra kepemimpinan ataupun kampus.

Matra ini memobilisasi serta mengawal tahapan kepemiluan mulai dari:  KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan), hingga pimpinan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di semua tingkatan.

Matra player juga sangat aktif sebagai pendamping desa, PKH (Program Keluarga Harapan), bahkan sebagai unit penting penyaluran Kartu Indonesia Pintar, kuliah (KIP-K).

Tulisan berikut, mengulas sisi intelektual alumni PMII dan posisinya dalam peta pemikiran Islam (Indonesia) secara umum.

Peta Pemikiran

Dibanding Matra leader (politik) dan player, peminatan sebagai thinker di jagad pergerakan bisa disebut minim. Di era kepengurusan  Fathan Subchi, PB IKA PMII  berhasil mendudukan 33 alumni Pergerakan sebagai Rektor UIN, IAIN dan STAIN.

Dengan posisi ini, artinya  secara substantif, tanggungjawab dan jangkar utama pemikiran keislaman kita berada di pundak alumni kaum pergerakan.

Meski menarik, kesuksesan menundukkan 33 alumni sebagai rektor lebih dilihat sebagai keberhasilan politik, dan bukan sebagai keberhasilan breeding ground keilmuan dan pemikiran.

Selain di kampus, peta pemikiran keislaman Indonesia, jejak PMII mudah di temukan. Di Jogja dan Jakarta, PMII membangun LKiS dan JIL sebagai Breeding Ground pemikiran. Penguasaan ilmu-ilmu sosial aktivis pergerakan naik leverage-nya dengan dua lembaga tersebut.

Tentu, puncak karir keilmuan aktivis pergerakan adalah PBNU. Kiai Hasyim Muzadi dan Kiai Said Aqil Siradj adalah paragon terbaik dan ideal alumni. Dua mantan Ketum PBNU ini, secara konfidensi mencantumkan di CV-nya sebagai alumnus PMII. Berbeda dengan Ulil Abshar Abdalla, pendiri PMII Lipia yang pada banyak kesempatan tidak me-mention kiprahnya di PMI.

Hingga usia ke-66 ini, bisa disebut secara keilmuan, tiga tokoh tersebut sebagai jangkar utama keilmuan Islam, tidak hanya bagi PMII dan NU, melainkan juga bagi Indonesia. Berikut adalah sejumlah pemikiran dan karya tiga pemikir utama PMII;

Said Aqil Siradj

Karya terbesarnya “Allah dan Alam Semesta dalam Perspektif Tasawuf Falsafi”.  Buku ini adalah terjemahan dari Disertasinya di  Program Doktor Universitas Ummul Qura’, Makkah.

Jejak intelektual PMII juga terlacak dari warisan pemikiran Mahbub Junaidi. Mahbub adalah aktivis HMI pendiri PMII. Mahbub adalah aktivis cum sastrawan. karyanya antara lain: Angin Musim (novel, 1985), Kolom Demi Kolom (1986), Humor Jurnalistik (1986), Asal Usul (1996).

Di samping karya orisinilnya, Mahbub juga produktif sebagai penerjemah. Berikut di antara terjemahannya: Di Kaki Langit Gurun Sinai karya Muhamed Haikal (1979),

Seratus Tokoh yang Berpengaruh dalam Sejarah karya Michael Hart (1982), 80 Hari Keliling Dunia karya Jules Verne (1983), Cakar-Cakar Irving karya Art Buchwald (1982), Lawrence dari Arabia karya Philiph Knightly (1982), dan Binatangisme karya George Orwell (1984).

Pemikiran Ulil Abshar Abdalla

Kiprah Ulil juga kuat di jagad pemikiran Islam indonesia. Hal berikut adalah bukti kiprah tersebut. Pada tahun 2003, sekelompok ulama Islam Indonesia dari Forum Ulama Umat Islam (FUUI) mengeluarkan fatwa kematian untuk Ulil, sebagai respon atas tulisannya yang bertajuk “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”.

Pada tahun 2015, Ulil menentang keputusan pemerintah yang menyatakan bahwa Ahmadiyyah dan Syiah adalah aliran sesat. Ia menyebut jika kedua aliran tersebut adalah golongan dari Islam.

Menariknya pemikiran kritis Ulil, anti klimaks. Pada tahun 2025, Ulil membuat pernyataan kontroversial yang menyebut Greenpeace sebagai “wahabi lingkungan” karena organisasi tersebut vokal tentang isu aktivitas pertambangan di Raja Ampat.

Tantangan Pemikiran dan Keilmuan PMII

PMII secara khusus dan dunia Islam secara umum, mewarisi “peradaban kalah”.Hal ini sebab dan dimulai dari: ketika kiblat peradaban dan keilmuan Islam runtuh (1258m), seiring dengan jatuhnya Baghdad oleh hulagu Khan.

Paska itu, keilmuan menyebar secara konfrontatif. Keiilmuan tidak lagi netral, tetapi diselubungi oleh nilai ideologi dan keyakinan.

Dalam “madzhab baghdad”, ilmu dah agama dintegrasikan. Ketika Abbasiyah runtuh dan peradaban serta keilmuan “dipindah” ke Barat oleh Musa bin Maemun (mahasiswa yahudi yang belajar di Baitul hikmah), ilmu dipisah dari agama.

Sekularisasi ilmu dari agama yang terjadi saat ini, sedikit banyak merupakan warisan dari kekalahan kita mempertahankan madzhab baghdad: integrasi ilmu dengan  agama.

Hingga era digital saat ini, setidaknya terdapat empat gelombang pemikiran keilmuan dalam peradaban manusia. Empat gelombang itu secara periodik adalah: era Hermes, era Yunani, era Abbasiyah dan era Barat (modern).

Dalam rentang waktu yang memanjang dari nomaden, Sebelum Masehi (SM), setelah Masehi hingga modern, “peradaban PMII” nyempil di pojok sejarah.  Tetapi, justru sebab di(ter) pojok, militansi menghasilkan sesuatu.

Jika era Hermes, ilmu dan sains diintegrasikan, maka pada periode Yunani, sekularisasi ilmu dengan sains diberlakukan. Sebaliknya ketika keilmuan dan pemikiran berada di tangan pemikir muslim era Abbasiyah, sains dan agama disatukan kembali persis pada era Hermes. Pada era ini, corak integrasi agama dan sains mewujud dalam sosok;  Alkhawizmi, Albiruni serta Ibnu Sina.

Meski oleh Ghozali integrasi sains dan agama, ditolak. Bagi Ghozali, Ulumuddin adalah mulia, sementara ulumuddunya hanya melahirkan ulama suu’.

Penutup

Tantangan terbesar keilmuan alumni PMII yang duduk sebagai rektor maupun intelektual bebas adalah mengintegrasikan kembali keilmuan agama dengan sains, teknologi, enginering dan matematika (STEM). Dengan STEM, Abbasiyah memimpin dunia hampir empat abad.

*M Sholeh Basyari adalah Doktor Islamic Studies UIN Jogja,Alumnus PMII Lipia dan wasekjen PB Ika PMII.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry