Foto anataranews.com

SURABAYA – H Nur Hadi ST, pengusaha otomotif asal Sidoarjo mengaku semakin bangga — menjadi warga NU – begitu mendengar KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) cicit pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, berkenan dipilih menjadi Ketua Umum PBNU.

“Bukan cuma saya, banyak Ketua PCNU berharap demikian. Kita sudah capek menyaksikan NU jadi bulan-bulanan politik dengan cara arogan. Terakhir, adalah konflik di sekitar PBNU yang melelahkan. Sebagai jamaah kita hanya bisa ngelus dada,” demikian Abah Nur panggilan akrab H Nur Hadi ST kepada duta.co, Selasa (21/4/26).

Menurut Abah Nur, PBNU membutuhkan sosok yang ‘selesai’ dengan diri sendiri. Bukan sosok yang kemaruk, sibuk menumpuk saldo. PBNU butuh sosok yang mengayomi, sosok pemersatu, bukan senang padu (gegeran). “Dulu, PWNU Jawa Timur juga demikian. Alhamdulillah, begitu dipimpin Gus Kikin, PWNU Jawa Timur menjadi kompak. Bahkan bisa menyuguhkan pemikiran ke PBNU jelang Muktamar-35 lewat Muskerwil kemarin,” jelasnya bangga.

Masih kata Abah Nur, Gus Kikin telah sukses memberikan contoh kebersamaan antarpengurus NU. Saat pelantikan PWNU Jatim, seluruh Ketua PWNU di Indonesia datang. Begitu juga saat Harlah 1 Abad NU di Malang, seluruh Ketua PWNU se-Indonesia hadir. “Ini sangat membanggakan. Kami orang kecil, orang NU yang berada di kampung, sangat bangga menyaksikan kekompakan pengurus NU,” tegasnya.

Abah Nur Hadi ST (dua dari kiri)

Dalam pandangan Abah Nur, sosok Gus Kikin itu paling tepat sebagai Ketua Umum PBNU menggantikan KH Yahya Cholil Staquf. Gagasannya untuk NU ke depan, sangat moncer. Adalah perlunya keguyuban. Ia juga meningatkan pentingnya mengamalkan qonun asasi yang telah dipatri oleh Mbah Hasyim.

“Guyonannya (Gus Kikin) sangat nahdliyin. Pengurus jangan hanya dekat penguasa, tapi dekatlah kepada Yang Maha Kuasa. Sejak lahir, ormas ini berdiri di atas prinsip keadilan, keamanan, perdamaian. Maka, NU terasa manis di mulut orang baik, dan sesak di tenggorokan orang jahat. Ini menarik sekali,” ungkapnya.

Paket Lengkap

Menurut Abah Nur, Gus Kikin adalah aset besar NU. Dalam diskursus kepemimpinan PBNU, nama beliau mencuat sebagai sosok yang dinilai layak memimpin organisasi tersebut menjelang Muktamar ke 35. Tentu saja, kelayakan tersebut didasarkan pada kombinasi unik antara faktor nasab (keturunan), rekam jejak kepemimpinan, kemandirian finansial, dan pengalaman organisatoris yang matang.

“Beliau ini cicit Mbah Hasyim yang tidak akan ikhlas NU jadi bulan-bulanan. Faktor nasab memiliki nilai historis dan spiritual yang signifikan dalam tradisi pesantren dan NU. Kepemimpinan yang bersandar nasab sering kali dianggap membawa barokah dan legitimasi moral yang kuat di mata warga Nahdliyin, terutama di akar rumput,” jelasnya.

Gus Kikin tegasnya, sering mengisahkan perjuangan Mbah Hasyim dalam mendirikan pesantren dan kepeduliannya terhadap rakyat kecil, menunjukkan pemahaman mendalam akan spirit awal pendirian organisasi. Warisan spiritual ini menjadi modal sosial yang tak ternilai untuk mempersatukan elemen-elemen di NU yang beragam.

“Beliau juga mandiri dalam finansial. Ini salah satu argumen terkuat yang mendukung kelayakan Gus Kikin dalam aspek material. Apalagi beliau adalah Pengasuh Pesantren Tebuireng, Ini benteng tradisi dan intelektual yang tidak bisa diragukan. Beliau teruji dalam memimpin PWNU Jawa Timur,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry