Zahrotul Jannah menunjukkan hasil inovasi bersama lima temannya tentang pembelajaran tata surya melalui AR. DUTA/ist

Enam mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa)  membuat program pengabdian masyarakat (pengmas). Pengmas ini dengan membuat aplikasi pembelajaran tata surya yang bisa diunduh di play store sehingga bisa dipelajari secara offline dan tidak perlu lagi bergantung pada jaringan internet.

Zahrotul Jannah, Nur Fauziah, Tri Nadia Ningsih, Rr Fadila Kusumaning Ayu, Devaldi Akbar Suryadi dan Manilaturrohmah dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Teknik membuat aplikasi pembelajaran tata surya bagi siswa sekolah dasar.

Inovgasi yang mereka buat itu, mendapat hibah dari Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) karena lolos Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat.

Awalnya, ke-6 mahasiswa ini melakukan pengamatan lapangan di SD Patenteng yang ada di Dusun Tlageh, Desa Patengteng, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan. Di  sekolah itu, siswa kesulitan memahami pembelajaran tata surya. Apalagi, media pembelajaran yang ada di sekolah itu tidak mendukung siswa untuk bisa memahaminya. Hanya ada poster tata surya tanpa bisa dipahami lebih lanjut.

“Kendalanya kurangnya media  pembelajaran secara konkrit. Dan gurunya sendiri kurang kreatif. Padahal belajar sains itu dibutuhkan sebuah kreativitas agar muridnya bisa memahaminya dengan baik,” ujar Zahrotul Jannah selaku ketua tim.

Dari sanalah, enam mahasiswa ini tercetus ide untuk membuat sebuah media pembelajaran berbasis teknologi. Teknologi kata Zahrotul, penting diterapkan dalam setiap pembelajaran di masa sekarang ini, apalagi di masa pendemi Covid-19.

Namun, masalahnya, di SD Patenteng 2 itu, justru sangat terbelakang dan susah sinyal. Sehingga pembelajaran secara daring sulit diterapkan.

Akhirnya, mereka berinovasi kembali untuk membuatnya dalam bentuk aplikasi yang bisa diunduh secara gratis sehingga siswa bisa mempelajarinya secara offline. Bahkan pembelajaran ini bisa dimanfaatkan siapa saja, bahkan siswa SD di seluruh dunia.

Zahrotul dan kawan-kawan memberi nama media pembelajaran yang mereka buat itu, Planetarium Glass berbasis Augment Reality. Planetarium Glass bisa diunduh secara gratis di play store.

Di aplikasi ini, untuk sementara membahas pembelajaran tata surya. Namun, diakui Zahrotul, ke depannya akan dikembangkan dengan menambahmateri pembelajaran lainnya. Seperti rotasi dan revulisi tata surya.

“Ke depannya kami akan kembangkan pembelajaran sains – sains lainnya dan tentunya yang bermanfaat bagi siswa sekolah dasar yang baru awal belajar tentang sains,” tukas Zahrotul.

Dengan inovasi ini, diharapkan bisa menambah literasi sains bagi siswa sekolah dasar. Karena, Indonesia saat ini, angka literasi sains sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain di dunia bahkan di Asia Tenggara. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry