
SIDOARJO | duta.co — Upaya mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak cukup hanya dilakukan ketika kasus sudah ditemukan. Pencegahan perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama rumah tempat keluarga beraktivitas setiap hari.
Hal inilah yang mendorong Puskesmas Wonokasian mengembangkan GALAKSY (Gerakan Aksi Lawan Aedes aegypti) sebagai pendekatan pengendalian risiko DBD berbasis pemeriksaan langsung di lingkungan masyarakat.
Kepala Puskesmas Wonokasian, dr. Saptandia Wulan Cahyaning Lestari, M.Kes., kepada duta.co, Selasa (6/10/26), mengatakan, salah satu pelaksanaan GALAKSY berlangsung di Desa Sawocangkring pada Jumat, 25 September 2026.
Petugas dan kader turun langsung ke lingkungan masyarakat untuk memeriksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, sekaligus memberikan edukasi mengenai Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, tindakan awal terhadap titik risiko, serta pencatatan hasil pemeriksaan.
Masih lanjut dr. Saptandia, yang menarik, hasil pemeriksaan kemudian dimanfaatkan melalui GALAKSY Risk Score (G-RISC). Setiap hasil pemeriksaan dapat dipetakan dalam kategori risiko hijau, kuning, dan merah, sehingga pemantauan dan intervensi dapat dilakukan lebih terarah.
“GALAKSY kami bangun dengan semangat bahwa menemukan jentik bukanlah akhir dari pemeriksaan. Justru dari temuan tersebut kita menentukan apa yang harus dilakukan, siapa yang perlu mendapat perhatian lebih, dan bagaimana tindak lanjutnya,” ujar dr. Sapta, biasa disapa.

Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Salah seorang warga Desa Sawocangkring, Abdul Jalal (69), mengatakan pemeriksaan dari rumah ke rumah membuat keluarga lebih memahami bahwa tempat-tempat yang selama ini dianggap sepele ternyata dapat menjadi sumber perkembangbiakan nyamuk.
“Setelah diperiksa, kami jadi lebih tahu bagian mana saja di rumah yang harus diperhatikan. Ternyata bukan hanya bak mandi, tetapi barang-barang di sekitar rumah juga harus diperiksa. Sekarang kami lebih rutin melakukan PSN,” ucap Abdul Jalal.
Tidak hanya itu, dukungan juga datang dari pemerintah desa. Sekretaris Desa Sawocangkring, Kasan Muzaki, menyampaikan bahwa pencegahan DBD membutuhkan keterlibatan bersama antara pemerintah, kader, tenaga kesehatan dan masyarakat.
“Kami mendukung GALAKSY karena pendekatannya langsung menyentuh masyarakat. Data dari lapangan dapat menjadi dasar bagi desa untuk mengetahui wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih dalam pengendalian DBD,” ungkapnya.
Dr. Sapta menambahkan, hingga periode pengukuran Agustus–September 2026, GALAKSY telah menjangkau 6.360 dari 8.221 rumah, atau sekitar 77,36 persen dari sasaran yang ditetapkan.
Bagi Puskesmas Wonokasian, angka tersebut bukan sekadar capaian kunjungan. Data pemeriksaan menjadi dasar untuk melihat pola risiko hingga tingkat wilayah dan menentukan prioritas tindak lanjut.
“GALAKSY membawa pesan sederhana: ‘Temukan Risikonya, Lakukan Aksinya, Kendalikan Wilayahnya’,” pungkasnya. (loe)







































