“Ketika situasi tidak normal, pengganti Ketum PKB sangat mungkin dari “eksternal”.”

Oleh M Sholeh Basyari*

MUHAIMIN jadi “bintang” pada retreat periode kedua di Hambalang. Presiden Prabowo menyapa secara khusus ketum partai terlama di negeri ini, setelah Megawati ketum PDIP. Publik bertanya-tanya; candaan presiden tersebut konteknya seperti apa?

PKB Minim Capital Recources

Sejak 2005 era presiden SBY hingga dua periode masa pemerintahan Jokowi, PKB selalu memegang kendali kementerian teknis dengan program kerakyatan yang besar dan kuat. PKB setidaknya mendapat 3 hingga 5 kursi kementerian portofolio pada dua rezim tersebut. Sekarang, di era Prabowo, PKB “hanya” menduduki satu kementerian koordinator serta dua wakil menteri.

Meski sebagai Menko Pemberdayaan Manusia (Menko PM), Muhaimin tidak tampak berada di panggung utama program kerakyatan Prabowo. Muhaimin tampak di tepian panggung dan sepi dari cover utama media terkait: program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, juga Sekolah Rakyat.

Terkait MBG, Ketum PAN sekaligus Menko Pangan, Zulkifli Hasan, lebih powerfull. Terlebih, konstruksi ekosistem MBG, Muhaimin tampak “ditinggal” dari cetak biru maupun perencanaan strategisnya.

Minimnya pos kementerian serta hilangnya kendali atas program kerakyatan, adalah pukulan telak bagi kerja-kerja konstituen PKB. PKB minim capital recources, brangkas agak kosong, cash flow seret.

Parahnya di saat yang beriringan, Ketua Dewan Syuro sekaligus penyelamat Muhaimin dari “operasi muktamar Bali 2024”, Kiai Ma’ruf Amin, mundur dari struktur DPP. Banyak yang berspekulasi dan berharap, mundurnya Kiai Ma’ruf tidak berdampak dan bukan signal atas “prahara” bagi institusi dan saluran utama politik kaum santri ini.

Leadership Recources

Hampir dua dekade Muhaimin memegang kendali PKB, terhitung sejak muktamar Ancol 2008, sejumlah breeding ground kepemimpinan dibangun.

Menariknya hingga kini, belum ada figur pemimpin dari hasil pembibitan tersebut. Sejumlah tokoh “naik turun” mencoba mengembangkan kapasitas kepemimpinan, baik yang dalam kontrol Muhaimin maupun di luar kontrol dirinya. Tetapi; PKB, keluarga besar NU bahkan mungkin Prabowo, kebingungan menunjuk atau menyiapkan suksesor Muhaimin.

Pembiaran

Minimnya leadership recources PKB, bisa saja “disengaja”(?). Kenapa? ada sejumlah kepentingan dan perspektif untuk mengurai ini.

Pertama , PKB mau diapain? Selagi jawaban atas pertanyaan ini belum ketemu, maka corak, karakter dan apalagi figur suksesor Muhaimin, misteri, buram dan tidak lahir dari situasi normal.

Pengganti Muhaimin dalam kontek ini, tidak dari hasil pengkaderan formal semacam: Garda dan Panji Bangsa. Bisa jadi tidak juga dari struktur partai yang ada (pengurus DPP, DPW dan DPC).

Ketika situasi tidak normal, pengganti Ketum PKB sangat mungkin dari “eksternal”.

Kedua, demi kepentingan tertentu, suksesor Muhaimin adalah figur yang “tersandera”. Kemungkinan ini ada. Kalau rezim dan pemerintah menghendaki PKB “manut” dan “lemah”, langkah paling efektif adalah mendudukan kader partai yang tersandera oleh masalah hukum.

Langkah ini menarik dan mudah diekskusi. Akibat leadership recources yang tidak cukup memadai sebagai pengganti sekelas Muhaimin, jalan pintas ini menjadi pantas untuk dilakukan.

Ketiga, baik pemerintah, keluarga besar NU, dan bisa jadi Muhaimin, tengah berspekulasi melakukan pembiaran atas kepemimpinan PKB pasca dirinya.

Lagi-lagi, pembiaran mungkin terjadi, selagi belum jelas “PKB mau diapain(?), terkait politik kontemporer. Politik kontemporer yang dimaksud dibalut dengan MBG, Koperasi Merah Putih dan Sekolah Rakyat. Politik kontemporer berujung pada pilpres dan pemilu 2029. (*)

*M Sholeh Basyari adalah direktur ekskutif “center strategic on Islamic and international studies (csiis)
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry