SURABAYA | duta.co – Lia Istifhama diprediksi akan menemui jalan terjal menuju gelanggang kontestasi pemilihan wali (Pilwali) Kota Surabaya. Meskipun Lia memiliki label keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Hal ini diungkapkan pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surochim Abdussalam.

Lia yang mendaftar ke PDI Perjuangan diperkirakan akan sulit memperoleh rekom maju Pilwali Surabaya. Karena pesaingnya banyak dan kompetitif.

“Sungguh tidak mudah dan jalannya terjal. Mengapa? PDIP masih mengusung misi wajib menang sehingga akan mencari kandidat yang betul-betul unggul ke atas unggul di bawah. Unggul atas maksudnya punya akses kuat ke DPP dan bu Mega (Ketum Megawati). Unggul ke bawah punya basis signifikan suara arus bawah,” ungkapnya Kamis (19/9/2019).

Karnanya, akses ke pimpinan pusat perlu diperkuat karena bersaing juga dengan yg lain. “Jelas butuh penguatan karena butuh dukungan dan sounding tokoh influencer DPP yang bisa menembus komunikasi dengan bu mega,” tambahnya.

Label keponakan Khofifah juga dianggap tidak bisa menjadi penentu. Karena peutusan rekom PDIP mutlak ada ditangan Ketua Umum.

“Kan yang memutuskan bu Mega bukan bu Khofifah. Posisi bu Khofifah hanya bisa mbisiki dan mensounding saja. Nah apakah bu Khofifah mau dan berkehendak sounding ke bu Mega (soal) nama mbak Lia. Itu titik ktitisnya, yang bisa jawab bu Khofifah,” beber peneliti senior Surabaya Survey Center ini.

Di jalur bawah, persaingannya juga sangat ketat. Bahkan Surochim menganalogikan sebagai jalur merah. Apalagi Putri politisi senior PPP, KH. Masykur Hasyim ini bukan kader genuine organik PDIP, sehingga peluangnya juga tidak mudah.

Keunggulan ning Lia yang masih usia milenial juga representasi kalangan hijau dianggap belum cukup. Di jalur yang sama ada Dwi Astutik dari muslimat juga ikut bersaing dengan irisan yang hampir sama.

Sebelumnya, Lia Istifhama yang juga pengurus Fatayat NU Jatim mengikuti proses penjaringan Calon Walikota Surabaya di PDIP. Lia menjadi salah satu dari 15 nama kandidat yang diundang untuk mengikuti fit and proper test oleh DPD PDI Perjuangan Jatim.

Berbekal program Nawa Tirta, kandidat doktor ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu akan meyakinkan PDIP terkait keseriusannya membangun Surabaya. zal

 

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry