Oleh:  Suparto Wijoyo*

HARI ini, Jumat 10 Agustus 2018 menyelinapkan peristiwa di seluruh benak rakyat, adakah yang hendak berubah dalam selingkup harapan untuk Indonesia? Sudah hebatkah atau memang terdapat kelindan yang terus dibuncahkan memenuhi angkasa “perjanjian panjang”. Pendaftaran pasangan capres-cawapres yang dibuka-tutup sepekan ini tampak hanya menyajikan aktor-aktor unggulan yang mengulang kembali perseteruan 2014. Munculnya gelaran umat untuk membopong Ustaz Abul Somad (UAS) memberikan warna baru dengan cerah yang tertindih oleh hiruk-pikuk koalisi.

Pilpres 2019 kian meliterasikan tontonan yang amat kentara untuk dapat dibaca oleh khalayak ramai. Tokoh-tokoh parpol itu asyik dengan dirinya sendiri untuk menggiring kecenderungan rakyat ke kanan dan ke kiri serta kadang-kadang di tengah-tengah. Kalaulah boleh dikata, tontonan pilpres yang diawali dengan “ontran-ontran” berani diajak berantem adalah panggung yang membuat degub jantung semakin kencang. Menjengkelkan tetapi tidak elok kalau ditinggalkan walaupun semakin diikuti semakin membosankan, karena pilihan katanya sangat “miskin” kesantunan. Lawan dan libas menjadi kata yang muncrat ke permukaan tanpa disadari bahwa di batin pengucapnya pastilah jauh lebih menggumpal lagi tekadnya.

Sungguh pilpres semakin menjadi ajang bertandingan untuk saling mengalahkan dan bukan arena persandingan guna mementaskan kebaikan. Telenovela yang sangat sarat dengan konstruksi kebencian yang justru dimulai dari petinggi negeri. Kini sebagai rakyat saya hanya mampu melongo sambil bergumam: inilah babak baru Indonesia memiliki pengemban mandat yang hebat itu. Hebat mengaduk batin warganya yang nyaris setertindihan rupiah yang terpelanting dalam jengah dolar, harga sembako yang melambung, serta BBM yang merayap diam-diam menambah  kelamnya suasana.

Inikah rupa kehidupan sembilan bulan ke depan yang akan dipenuhi gelombang janji tanpa henti? Inikah nasib rakyat yang menonton di tepian jalan untuk menunggu “hadiah yang dilemparkan dari mobil mewah penguasa”. Tetapi tetaplah penonton tak hendak beranjak untuk tidak melihatnya karena ini adalah acara tunggal demokrasi yang diboyong dengan biaya tinggi. Cawan batinku berloncatan seperti rangkum kehidupan yang dipotret Najib Mahfuz dalam novel Khan el-Khalili (1979) yang diterjemahkan menjadi Lelaki dalam Pasungan (2003): banyak mengandung kontradiksi, ketakutan, kekalutan, kepanikan, kebencian, dan kasih sayang.

Terhadap fenomena ini, saya bergegas membuka-buka kembali karya sastra berbentuk roman L’Etranger, (Orang Asing) yang ditulis  Albert Camus di tahun 1942. Pesan Camus sangat jelas: “semua manusia pada akhirnya harus bertanggung jawab dengan keputusan dan pilihannya” meski dengan sosok “orang aneh”. Memang pilpres senantiasa merekam keanehan-keanehan yang menisbikan kehendak bebas konstituennya. Koalisi dibangun tanpa narasi ideologi apa pun kecuali “selembar kalimat orasi”. Setiap parpol memiliki “mata air” sendiri tetapi alirannya tertampung dalam “hulu yang berbeda”. Persekutuan  tingkat nasional tidak niscaya di lingkup suara umat yang terkanalisasi  serupa. Parpol berlagak seperti “bisnis angkutan online”:  armada berangkat sesuai zona operasionalnya. Para pendukung yang disebut relawan dinarasikan penuh kata-kata “perlawanan”. Melawan siapa sejatinya? Benar kata Najib Mahfuz, sastrawan Mesir, Penerima Hadiah Nobel Sastra Tahun 1988 ini: “kegilaan akan aroma cinta kadang-kadang membuat orang menjadi tergila-gila, bahkan menyebabkan sang korban nekad tanpa menghiraukan bahaya yang menghampirinya”.

Pasangan capres akan berkelebat  untuk memadati ruang-ruang pikiran para pemilih. Tiada hari dan detik waktu yang tidak diisi dengan “suapan informasi” sampai pada titik akhir hari pencoblosan April 2019. Setiap pihak yang berlaga seyogianya diunggah tanpa  menabrak aturan  agar tidak menyisakan sengketa yang diperdebatkan. Meski ada yang tahu bahwa semua melangkah: para tokoh politik sampai “rentenir suara” mengiring untuk turut merayakan “perjamuan pasangan”. Begitulah kalau mengikuti alur cerita novel bagus garapan Ally Condie, Matched (2012): pemilihan ini seberkas ultimatum yang harus ditempuh “siapa pun, antara kesempatan dan hasrat”.

Apakah yang menang nanti sebagai juaranya? Ketahuilah bahwa juaranya tetap si dia yang “berkelambu di tombol otoritas” yang membuat setiap orang “berlutut menyimpuhkan diri”. Pada tataran inilah saya terbisik lirih saja dengan bahasa Clifford Geertz dalam Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali (1980) yang semakin memperkaya bentara pusataka Indonesia sejak Desember 2017. Katanya: “negara bukanlah suatu tirani, bukan pula suatu birokrasi hidrolik, dan bahkan bukan suatu pemerintahan, melainkan sebuah pertunjukkan yang diorganisir, suatu teater yang dipakai untuk mendramatisir obsesi-obsesi kelas yang berkuasa”. Akhirnya saya menyabet catatan New York Times atas buku tipis La Casa de Papel (2002) karya Carlos Maria Dominguez yang diterjemahkan menjadi Rumah Kertas, sebuah kisah yang “bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup”.

 * Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.