SURABAYA | duta.co – Puluhan elemen kritis masyarakat Jawa Timur melakukan ijtihad politik menyambut Pilpres 2019. Dari aktivis pergerakan pemuda dan mahasiswa, jurnalis, alumni perguruan tinggi seperti Unair, ITS , Unesa, Brawijaya, dan Gajahmada,  aktivis remaja Masjid, pedagang pasar tradisional, Putra Putri ABRI serta para emak-emak, akhirnya menjatuhkan pilihan ke Prabowo-Sandi.

“Ini pilihan realistis, ijtihad politik ini untuk melawan kekuatan hitam di Indonesia. Kami berkumpul, sepakat membentuk SekBer Go Input  yang inisiasi Kelompok Pengusaha Pemula BE UNO (Beginner EntrepreneurUseful National Number One). Ini ikhtiar untuk menyelamatkan Indonesia, menangkan Prabowo-Sandi,”  demikian disampaikan Triyono Hardjono alias Jojon, yang dikenal sebagai kader Banteng Putih kepada duta.co, Sabtu (5/1/2019).

Menurut Jojon, Resolusi Jihad Putih ini sekaligus sebagai mandat rakyat yang diberikan kepada pasangan Prabowo-Sandi. Gerakan Resolusi Jihad Putih ini akan melakukan penetrasi ke desa-desa, mengabarkan sekaligus menyadarkan kepada rakyat, bahwa, negeri ini diambang kehancuran.

“Ini serius, jangan dianggap enteng. Sistem ekonomi kita sekarang sudah jungkir balik. Jangan heran kalau yang miskin semakin terinjak. Kekuasaan hanya bermanfaat kepada kelompoknya. Kita sekarang diikat keprihatinan. Ada catatan hitam di seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelas Jojon.

Ditanya soal ‘sukses’ pemerintah membangun infrastruktur jalan tol, Jojon justru menilai sebaliknya. Itu justru menjadi tanda bangkrutnya moralitas kita, hilangnya kesadaran akan pentingnya menyelamatkan rakyat kecil.

“Tol itu kebutuhan orang kaya, menengah ke atas. Ada yang jauh lebih penting untuk diperhatikan, adalah nasib rakyat yang kian terpinggirkan. Sekarang rakyat jadi korban, pertumbuhan ekonomi jeblok karena dibangun dengan sistem politik liberal, mengandalkan utang luar negeri. Sekarang tinggal menunggu waktu menunju kebangkrutan, maka, bangkitlah,” jelasnya.

Indonesia hari ini, lanjut Jojon, menggunakan demokrasi liberal, miskin kenegarawanan, marak komoditasi (jual beli) hukum dan kewenangan, buruk ketauladanan dan menguatnya kepemimpinan makelar. Lebih memprihatinkan lagi, kekuatan hitam ini berhasil menyeret kiai politik sebagai bemper kemenangan.

“Sudah begitu korupsi makin melebar. Ada gejala meluasnya fatalisme-sosial akibat frustasi melihat semua aspek kehidupan ini. Sementara pemerintah tidak bisa memberikan kepastian akan adanya perbaikan,” ujarnya.

Kondisi inilah yang menurut Jojon, menjadi sebab dirinya ikut aktif dalam Pilpres 2019. “Tidak ada pilihan lain, mandat rakyat ini harus diberikan kepada Prabowo-Sandi. Secara sistemik puluhan elemen masyarakat ini akan ikut berjuang demi kemenangan Prabowo-Sandi. Harapan berikutnya, Indonesia kembali ke UUD-1945 dan Pancasila benar-benar tegak menjadi dasar negara,” tambahnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.