Mochtar W Oetomo, Dosen Universitas Trunojoyo Madura.

“Dan terjadilah apa yang di luar sangkaan Dewata Cengkar dan seluruh rakyat pengiring. Begitu ikat kepala Aji Saka diletakkan di atas tanah, secara ajaib kain ikat kepala itu terus membesar dan mengembang ukurannya.”

Oleh: Mochtar W Oetomo*

SORE yang singup di awal abad Masehi (diperkirakan tahun 60-70M). Telapak kaki Sang Musafir Aji Saka akhirnya menapak tanah bertuah, Jawa Dwipa. Singgah di Desa Sengkeran tlatah Kerajaan Medang Kamulan (diperkirakan meliputi wilayah Batang, Kendal, Semarang, Jepara, Demak, Kudus, Pati, Pati, Rembang). Menginap dan akhirnya menetap di rumah seorang janda tua yang kelak dianggap sebagai ibu sendiri.

Beberapa waktu tinggal di Desa Sengkeran segera tersibaklah segala daya linuwih Sang Musafir Aji Saka. Keluasan ilmunya sebagai musafir yang pernah ngaglang jagad, kedalaman ilmu batinnya, kecerdasan, kegesitan, kesantunan, ketampanan dan kewibawaannya segera saja menarik banyak orang dan berbagai penjuru Medang Kamulan untuk ngangsu kawruh, nyesep ilmu dari Sang Musafir.

Segera saja Sang Musafir memahami dan merasakan derita dan duka kawula Medang Kamulan dari kisah para pengikut dan muridnya. Bahwa bertahun-tahun rakyat Desa Sengkeran dan Medang Kamulan hidup dalam teror duka dan ketakutan akibat kekuasaan sewenang-wenang Raja Medang Kamulan, Dewata Cengkar. Raja yang memiliki kegemaran aneh, suka makan daging dan darah manusia, menghisap dan memakan darah dan daging rakyatnya sendiri.

Maka, demi mengakhiri duka derita rakyat Medang Kamulan, Aji Saka memberanikan diri untuk mengorbankan dirinya sebagai santapan Raja Dewata Cengkar. Dengan diiring seluruh penduduk Desa Sengkeran Aji Saka mendatangi istana Dewata Cengkar dan menyampaikan maksudnya merelakan diri menjadi santapan Sang Raja. Dewata Cengkar terbahak girang mendapat tawaran itu. Dan tanpa berfikir panjang menyanggupi permintaan terakhir Aji Saka, yakni sebidang tanah yang seluas ikat kepalanya untuk dihadiahkan sebagai tanda bakti pada ibu angkatnya di Desa Sengkeran.

Dan terjadilah apa yang di luar sangkaan Dewata Cengkar dan seluruh rakyat pengiring. Begitu ikat kepala Aji Saka diletakkan di atas tanah, secara ajaib kain ikat kepala itu terus membesar dan mengembang ukurannya. Terus dan terus mendesak Dewata Cengkar dan pasukannya hingga ke bibir samudera.

Dan terjadilah apa yang diceritakan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi, ikat kepala Aji Saka mengembang terus hingga seluas tanah kerajaan Medang Kamulan, sementara Dewata Cengkar dan pasukannya binasa terlempar ke kedalaman samudera.

Ya ya ya. Ikat kepala Aji Saka sesungguhnya bukanlah simbol kedudukan sosial dia, baik sebagai kesatria ataupun brahmana. Bukan simbol keanggotaan sebagai kader salah satu ormas keagamaan. Bukan pula simbol sebagai anak atau cucu atau keturunan orang besar. Apalagi simbol kedudukan dan jabatan.

Ya ya ya. Bukan itu semua. Meskipun simbol-simbol itu kini tengah ramai diperdagangkan dan diperbincangkan dalam kontestasi Pilgub, Pilbup dan Pilwali di Jatim 2018. Ikat kepala Aji Saka sesungguhnya adalah simbol pengetahuan dan bakti.

Jika hanya dikenakan sendiri, hanya untuk diri sendiri, maka tidak bermakna apa-apa. Dan seorang calon pemimpin, seorang calon gubernur dan wakil, seorang calon bupati dan wakil, seorang calon wali kota dan wakil tak semestinya memiliki ikat kepala hanya seluas kepalanya dan dikenakan sendiri.

Ya ya ya. Ikat kepala Aji Saka mengajarkan pada para kandidat yang tengah berkompetisi untuk terus membesar dan mengembang. Membesar dan mengembangkan pengetahuan dan baktinya yang sekarang dan kelak akan memberi manfaat, keamanan dan kesejahteraan buat rakyatnya.

Sebagaimana ikat kepala Aji Saka, semestinya para kandidat tidak hanya menggunakan pengetahuan dan baktinya semata-mata hanya untuk kepentingan diri dan golongan, hanya seluas kepalanya sendiri. Seorang kandidat harus juga memahami apa yang ada di kepala dan hati pemilihnya, rakyatnya. Visi nya harus sebesar dan seluas daerah dimana dia bertarung untuk memperebutkan kekuasaan.

Maka seorang calon gubernur tidak boleh memiliki cara berfikir dan berbakti sebagaimana seorang bupati. Dan seorang bupati tak boleh memiliki cara berfikir dan berbakti sesempit seorang lurah.

Ikat kepala Aji Saka mengajarkan para kandidat agar berkompetisi adu gagasan dan perbuatan tentang bagaimana membuat rakyat aman, tenteram dan sejahtera. Sekaligus mengajarkan bagaimana beradu konsep dan argumen tentang cara yang paling baik dan cepat untuk menyingkirkan Dewata Cengkar-Dewata Cengkar, problem-problem, masalah-masalah, penderitaan-penderitaan dan kebijakan-kebijakan yang yang meneror rasa aman dan sejahtera rakyat.

Raja Dewata Cengkar yang gemar makan daging dan darah rakyatnya sesungguhnya adalah sebuah analogi kesewenang-wenangan seorang pemimpin yang melalui kebijakan dan keputusannya selalu hanya menguntungkan diri dan golongan serta selalu membuat rakyat menderita, bagai kehilangan daging dan darah.

Ya ya ya. Ikat kepala Aji Saka mengajak para kandidat untuk meninggalkan ego sektoral kepalanya. Memijak bumi dan membesar mengembang dengan segenap pengetahuan dan baktinya semata-mata untuk kepentingan yang tak berbilang seluas kerajaannya.

Ikat kepala Aji Saka menegur para kandidat agar menanggalkan politik simbol. Mengagung-agungkan etnis, agama, jabatan, kedudukan sosial, keturunan dan seabrek keculasan atas nama strategi pemenangan, yang sesungguhnya ke semua itu hanya menunjukkan betapa pengetahuan dan baktinya hanya seluas kepalanya sendiri, seluas kepentingan diri dan golongannya.

Ya ya ya. Bukankah ke semua itu begitu lazim dan lumrah kita jumpai dalam kontestasi Pilgub, Pilbup dan Pilwali di tlatah Jatim ini. Dimana kontestasi adu gagasan, ide, visi, misi, program kerja tentang bagaimana membuat rakyat sejahtera dan bahagia menjadi barang yang sangat langka.

Sebaliknya sirkuit wacana Pilkada serentak kita dipenuhi dengan dongeng-dongeng kejayaan orang tua, kakek-nenek dan mbah-mbah yang sudah tenang di alam baka. Menarik-nariknya kembali ke dunia persilatan Pilkada yang penuh siasat melalui berbagai gambar, ujaran dan ajarannya.

Bukan adu pengetahuan dan bakti sebagaimana ajaran ikat kepala Aji Saka, yang jamak kita jumpai justru adu klaim dukungan ormas, komunitas, parpol, penguasa dan bahkan adu dukungan kiai, bahkan hingga adu fatwa dan ayat. Lebih lagi tidak menjadi panggung bagi para kandidat melalui pengetahuan dan baktinya, justru menjadi panggung bagi para artis untuk menambah pundi-pundi kekayaannya.

Ya ya ya. Semua hal yang menjadi komoditas Pilkada serentak sejauh ini sesungguhnya masih jauh dari substansi pengorbanan Aji Saka dan masih jauh dari cerah cerianya gumuyu warga Desa Sengkeran dan Rakyat Medang Kamulan yang terbebas dari Dewata Cengkar. Semua gerak rasanya hanya diperuntukkan satu hal, ‘kemenangan’.

Padahal jika sekadar untuk menang maka lihatlah bagaimana Aji Saka yang sudi berkorban untuk rakyat, otomatis dengan tulus rakyat akan mengiringnya hingga ke istana. Mengalahkan Dewata Cengkar dan bertahta di Medang Kamulan setelahnya.

Soal teknis kemenangan, serahkan saja pada Dora dengan serangan daratnya yang menusuk langsung ke jantung pertahanan lawan. Dan percayakan pada Sembada yang mengepung tuntas dari laut dan udara. Jika tidak, maka sudah pasti hanya akan terlempar ke kedalaman samudera, sebagaimana tragika yang dialami Dewata Cengkar. Begitulah begitulah begitulah !! Jreng jreng.

* Dosen Universitas Trunojoyo Madura

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.