Meme yang beredar di medsos, tampak perkasa. Ironisnya bisa berbeda dengan fakta yang ada. (FT/IST)

JAKARTA | duta.co – Acara ‘Apa Kabar Indonesia Pagi’, TvOne, Sabtu (15/9) mendatangkan anak muda, baik yang dapuk sebagai politisi maupun pengamat. Ada politisi muda PAN (Partai Amanat Nasional), Faldo Maldini, Peneliti Institut for Development of Economics and Finance (INDEF), Abrar PG Talattov dan Juru Bicara PSI, Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis, Rizal Calvary Marimbo.

Tajuknya menarik. Infinity War, sebuah film yang didasarkan pada tim pahlawan super Marvel Comics, Avengers. Di sini Jokowi siap hadapi Thanos, sosok yang mengancam untuk memusnahkan setengah populasi bumi karena merasa sumber daya planet bumi terbatas.

Itulah Jokowi, ketika tampil sebagai jagoan alias super hero dalam pidatonya di acara pembukaan World Economic Forum on ASEAN, Rabu (12/9/2018), di National Convention Center, Hanoi. Pidato Jokowi menjadi sorotan dunia karena menyinggung beberapa tokoh fiksi dalam film Avengers: Infinity War.

Tidak cuma sekali. Pidato Jokowi kerap menjadi sensasi, masalahnya adalah, apa bisa menjadi bukti? Faldo kemudian merujuk pidato sensasi Jokowi dalam pembukaan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta tahun 2015, yang cukup mencengangkan semua pihak. Saat itu Jokowi dengan lugas mengkritik keras ketidakadilan global di bidang ekonomi.

“Pak Jokowi katakan tidak butuh World Bank (Bank Dunia), tidak butuh IMF (International Monetary Fund red.), tidak butuh ADB (Asian Development Bank red.). Tetapi, nyatanya, untuk menyambut acara nanti (IMF-World Bank Annual Meeting 8-14 Oktober 2018 di Bali red) harus menguras duit Rp 4 triliun (versis Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas sebesar Rp6,9 triliun red),” demikian Faldo.

Jadi, pidato sensiasi itu, akhirnya terkesan omong kosong. “Apalagi tidak semua orang tahu film Avengers. Avengers itu banyak, mau jadi siapa Pak Jokowi? Dalam kondisi seperti ini, bagaimana kita bicara revolusi 4.0, revolusi industri generasi keempat. Faktanya kedele impor, beras impor, bulog tak berdaya menyerap beras rakyat. Jangan-jangan generasi saya nanti malah tidak kuat bayar tol, karena kelewat mahal,” jelas Faldo.

Sementara, Peneliti Institut for Development of Economics and Finance (INDEF), Abrar PG Talattov, tidak menampik anggapan, bahwa, runtuhnya nilai rupiah terhadap dolar, berikut menurunnya fundamental ekonomi, tidak terlepas dari kondisi global.

“Terutama Amerika Serikat dan China. Kedua negara ini menerima 24% nilai ekspor Indonesia. 13% di China, 11% di Amerika Serikat. Masalahnya, ketika kondisi ekonomi kedua negara ini melemah, maka, kekuatan Indonesia juga menurun. “Ketika mereka konflik ekonomi, sama saja dengan memindahkan konflik ke Indonesia,” tegasnya.

Soal Beras Saja Polemik

Abrar menyebut runtuhnya nilai tukar rupiah. Sesungguhnya, ini sudah diprediksi sejak tahun 2011, Bank Indonesia (BI) saat itu sudah memberikan analisanya. Masalahnya apakah Pak Jokowi bersama kabinetnya kompak untuk menghadapi Thanos?

“Sementara, faktanya, soliditas kabinet saja belum selesai. Ada inkonsistensi kebijakan. Ada paradoks antarkabinet sendiri, misalnya, beda pendapat tentang ketercukupan beras. Kalau begini bagaimana kita bisa melawan Thanos,” jelasnya.

Tak kalah menarik, pembelaan dari Juru Bicara PSI, Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis, Rizal Calvary Marimbo. Ia menyebutnya pembangunan infrastuktur adalah mutlak. Selama ini, katanya, Indonesia hanya menjadi bak sampah, atau residu dari perang dagang global.

“Kebijakan pemerintah membangun infrastuktur adalah tepat. Kalau tidak, negara bagian timur akan marah. Dengan adanya infrastruktur, maka, ada persamaan harga, harga semen yang sempat jutaan sekarang sudah sama,” demikian Rizal sembari menjelaskan nihilnya pembangunan selama reformasi berjalan.

Menanggapi masalah ini, Faldo menutup dengan kalimat lumayan apik. “Pembangunan infrastruktur harus terukur, jangan sampai merusak fundamental ekonomi. Pemerintah harus memiliki visi yang jelas, jangan sampai presiden menjadi Menteri PU (Pekerjaan umum red.),” katanya. (mky,tvone)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.