SIDOARJO | duta.co – Pengajian MAHADI (Majelis Ahad Pagi) yang diasuh KH Ali KH Mustawa di Masjid Al-Ikhlas, Ahad (6/7/25) menarik dicermati. Kiai Ali menyitir ayat Alquran (At Taubah 36) yang  menerangkan adanya empat bulan haram dalam kalender hijriyah.

Keempatnya adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. “Saat ini, kita berada bulan Muharram. Bulan ini memiliki keistimewaan, karenanya dilarang melakukan peperangan di dalamnya (kecuali diserang terlebih dahulu) dan pahala serta dosa dilipatgandakan. Di bulan ini biasanya ibu-ibu membuat Bubur Suro. Sudah bikin Bu?” tanya Kiai Ali Mustawa.

Menurut Kiai Ali, Bulan Muharram (orang Jawa menyebut Suro), memang memiliki kisah tersendiri. Di bulan ini, lazimnya orang ‘ngumbah keris’. Di bulan ini pula, keluarga dan anak-anak yatim menjadi istimewa. “Inilah bulan pemecah masalah. Seluruh problem hidup, terselesaikan di bulan Muharram,” tegasnya.

Kiai Ali mengisahkan bagaimana Nabi Musa As membelah lautan yang berubah menjai ‘jalan tol’. Tetapi, begitu usai Nabi Musa lewat, rombongan Firaun pun klelep (tenggelam) di dalam laut tersebut. “Itu terjadi pada tanggal 10 Muharram seperti ini,” terangnya.

Para Nabi, dari zaman Nabi Musa hingga Rasulullah Muhammad SAW, tanggal 10 Muharram (Asyura) selalu menjadi momentum refleksi, ibadah, dan penguatan keimanan. Umat Islam di seluruh dunia memperingati Asyura dengan berbagai bentuk ibadah, terutama dengan berpuasa sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi.

Bulan Muharram juga dikenal sebagai bulan Allah (Syahrullah), Asyura menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengingat perjuangan para nabi, serta umat memperbaiki diri. Asyura sendiri bermakna sepuluh. Maka, Asyura merujuk pada hari ke-10 dari bulan Muharram dalam kalender Hijriyah. Hari ini telah dikenal dan dimuliakan sejak zaman Nabi Musa AS dan terus dilestarikan dalam ajaran Nabi Muhammad SAW.

Kiai Ali mendiskripsi peristiwa 10 Muharram di zaman Nabi Nuh As dengan apik. Saat itu, katanya, Nabi Nuh juga didera masalah. Dakwah beratus-ratus tahun, hasilnya cuma 40 keluarga yang iman. Wakila (ada yang menulis 80 orang), 40 laki-laki dan 40 perempuan. Mendekati finish, Nabi Nuh memberikan pengumuman keras kepada para penumpang kapal yang terdiri dari manusia dan binatang berpasang-pasangan.

“Nah Nuh pidato keras. Pengumumannya unik. Seluruh penumpang kapal dilarang berkumpul suami-istri. Ini penting. Kalau tidak, bisa berhaya. Karena kalau sampai ada yang hamil, atau punya anak, maka, beban kapal semakin berat. Di samping itu, persediaan bahan makanan kian menipis,” tegas Kiai Ali dengan suara khas.

Ternyata, lanjutnya, sepasang anjing tidak menggubris peringatan keras itu. “Dan kucing mengintipnya, lalu, lapor kepada Nabi Nuh. Anjing pun geregetan. Maka, saat itu, sepasang anjing berdoa, mohon kepada Allah agar kucing kalau bersetubuh menjerit. Sampai sekarang kalau kucing bercinta. selalu bikin ribut,” tegas Kiai Ali disambut tawa jamaah.

Dan, benar. Begitu banjir usai (setelah 40 hari 40 malam hidup di atas air), lalu persediaan bahan makanan menipis, kondisi ini bikin pusing Nabi Nuh As. “Maka, solusinya seluruh bahan makanan dibubur, biar cukup untuk makan bersama. Inilah awal mula bubur suro itu. Karena lepas dari masalah yang mendera,” urainya sambil berharap (di bulan Muharram ini) jamaah terus berdoa agar diringankan beban hidup ini. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry