INFRASTRUKUR : PGN gencarkan pembangunan insfrastruktur pipanisasi jargas maksimalisasi gas yang ada. (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Swasembada Energi dan mengurangi subsidi energy menjadi salah satu Asta Cita Pemerintah 2024–2029 di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran.  Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, memproyeksikan subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)  meningkat tahun 2024.

“Subsidi energi diperkirakan akan naik karena beberapa perubahan parameter, termasuk harga dan lifting minyak serta nilai tukar,” ungkap Sri Mulyani dalam Rapat Kerja Badan Anggaran (Banggar) DPR di Jakarta, Senin, (08/07/2024) beberapa waktu lalu.

Sri Mulyani merinci sejauh ini pemerintah telah mengeluarkan Rp 155,7 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi, yang mencakup subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 7,16 juta kiloliter dan LPG 3 kilogram sebanyak 3,36 juta kilogram.

Dan guna mengurangi subsidi energy khususnya penggunaan LPG 3 kg, Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai Subholding Gas Pertamina memiliki komitmen yang kuat untuk membangun energi di Indonesia, khususnya pemanfaatan energi gas bumi, yang sejalan dengan program Swasembada Energi.

PGN terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi gas. Pembangunan infrastruktur gas di berbagai wilayah, terutama di Indonesia Tengah dan Timur, merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mendukung upaya pemerintah dalam mencapai target bauran energi yang lebih baik.

PGN juga berupaya menjawab tantangan unbalance supply-demand dengan berjuang untuk mendapatkan pasokan gas yang ada di Indonesia mulai dari gas domestik hingga ke sumur marginal termasuk upaya mendapatkan pasokan LNG dari berbagai wilayah global untuk mengamankan penyediaan gas bumi ke pelanggan sehingga meningkatkan penyerapan gas bumi serta menjadikan gas sebagai energi pilihan di masa transisi energi saat ini.

Mengurangi jejak karbon dan bisnis green energy juga merupakan tujuan jangka panjang perseroan. Tak lupa upaya membuka peluang kerjasama termasuk dengan beragam instansi pemerintah terkait untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan pemanfaatan gas bumi di Indonesia juga terus dilaksanakan.

Hedi Hedianto, General Manager, Sales and Operation Region III PT Perusahaan Gas Negara Tbk mengatakan pipanisasi dan maksimalisasi penggunaan gas menjadi prioritas guna mengurangi subsidi energy penggunaan LPG 3 kg. Subholding Gas Pertamina, PT PGN Tbk bersama Anak Perusahaan yakni PT Pertamina Gas (Pertagas) mendukung pemanfaatan Pipa Transmisi Gas Cirebon – Semarang Tahap II (Pipa Cisem Tahap II) yang diresmikan pembangunannya oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Senin, 30/9/2024 lalu.

“Proyek Cisem Tahap II akan melengkapi Cisem Tahap I selesai dibangun pada tahun 2023 dan sudah beroperasi untuk memasok kebutuhan gas bumi di Kawasan Industri Kendal serta Kawasan Industri Terpadu Batang,” katanya.

Hedi menambahkan proyek Cisem tahap 2 kalau selesai dibangun akan koneksikan jaringan pipa terintegrasi dari Jatim, Jateng sampai Jabar.  Targetnya kurang 2 tahun, akhir 2025 sudah tuntas.

Dampaknya pada PGN sangat strategis, buka tidak hanya PGN semua stake holder dibidang pengembangan insratrukur pipa. Kondisi gas di Jatim yang surplus bisa kita bagi, tidak hanya Jabar, PGN juga inisisalsi bangun pipa Tegal-Cilacap, nanti dengan pengembangan ini nanti ada multipler efek.

“PGN kalau bangun pipa jaringan gas berusaha menyasar potensi yang terjangkau pipa. Yang pasti kondisi surplus gas di Jatim bisa menutupi Jateng sampai Jabar yang defisit. Untuk serapa besar perlu anchor demand besar yakni industry, pembangit listrik dan perusahaan pupuk. Sementara untuk ritel dan komersial bertahap . Di Jateng perusahaan yang sudah kontrak di kawasan Industri Kendal Batang sebesar 9 bptud,” jelasnya.

Hedi Hedianto menambahkan selain pasar eksisting di Jatim saat ini kondisi industry memiliki tantangan tersendiri, terbesar penyerapan dari industry keramik yang sedang lesu dampak kebijakan antidumping produk dari China. Harapannya rencana menkeu berlakukan tax anti dumping bisa menggairahkan kembali industry keramik terpukul.

“Begitu Cisem II Beroperasi dan tersambung, bisa bawa gas jatim kesana. Kalau sudah terkoneksi. kondisi pasokan Jateng dan Sumatera. Yang belum Dumai-Semangkai (Dusem). Kalau sudah tersambung sudah hubungkan Jawa-Sumatera, selama ini Jawa-Sumatera belum tersambung sepenuhnya.”

Pipanisasi Perluas Jargas Maksimalkan Ketersediaan Gas

MAKSIMALKAN GAS : Selain menggunakan pipa, PGN menggunakan skema Compressed Natural Gas (CNG) Clustering. (dok/duta.co)

Sampai dengan semester 1 2024, jaringan pipa dimiliki PGN adalah sepanjang 13.319 km atau bertambah 626 km. Total jumlah pelanggan PGN adalah sebanyak 821.245, terdiri atas sebanyak 3.165 pelanggan industri dan komersial, sebanyak 2.017 pelanggan kecil, dan sebanyak 816.063 rumah tangga.

Di luar dari infrastruktur transmisi gas bumi, Perseroan juga akan membangun infrastruktur untuk transportasi energi lainnya melalui pipa yaitu membangun pipa Bahan Bakar Minyak (BBM). Upaya ini dilakukan melalui sinergi anak perusahaan yaitu PT Pertamina Gas (Pertagas) dengan PT Pertamina Patra Niaga (PPN) untuk membangun pipa BBM Cikampek – Plumpang dengan skema Build Maintenance-Transfer (BMT) dengan jangka waktu 10 tahun masa pengoperasian.

Direktur Utama PGN, Arief Setiawan Handoko mengatakan pembangunan pipa merupakan salah satu pengembangan portofolio bisnis Subholding Gas dalam lingkup bisnis infrastruktur khususnya transportasi energi melalui pipa.

“Saat ini kami dalam proses penyusunan Perjanjian Penyediaan Jasa Pipanisasi BBM Cikampek – Plumpang antara Pertagas dan PPN. Infrastruktur ini akan memiliki kapasitas volume sebesar 4,6 Miliar liter per tahun dengan panjang 96 km,” jelasnya.

PT PGN Tbk terus melakukan pengembangan pemanfaatan gas bumi melalui berbagai upaya salah satunya melalui integrasi pengelolaan infrastruktur baik pipeline maupun beyond pipeline dan komoditas gas bumi untuk bisa menjawab tantangan di sektor hilir gas bumi. Integrasi pengelolaan  infrastruktur dan komoditas gas akan semakin memberikan kehandalan, fleksibilitas dan dan keterjangkauan interkoneksi pusat-pusat pasar yang semakin kuat.

“Dengan integrasi ini kami siap melakukan penyesuaian dari sisi pola operasi agar layanan gas bumi bisa lebih fleksibel, kemudian dari sisi market bisa lebih mudah mendapatkan kepastian pasokan. Tahun ini, introduksi produk LNG dan layanan beyond pipeline ke dalam market eksisting PGN menjadi enabler untuk quick win sesuai dinamika yang terjadi atas kondisi supply, demand dan lingkungan bisnis gas,” ujar Group Head, Gas and LNG Supply PGN Muhammad Anas Pradipta.

Anas melanjutkan, pemenuhan gas bumi untuk Sumatera sampai ke Jawa akan lebih sustain ke depannya melalui integrasi pipa transmisi. Sedangkan melihat tantangan geografis dan ketersediaan terminal LNG yang ada saat ini, PGN sedang mendesain small scale LNG.

“Moda transportasi LNG bisa menyediakan kebutuhan gas bumi bagi pusat-pusat market yang ada. Memang tantangan yang ada adalah kondisi demand yang tersebar, sehingga ini menjadi tantangan dari sisi suplai chain. Namun akan tetap kami lakukan sebagai solusi untuk penyaluran gas di Indonesia tengah dan timur,” jelas Anas.

Pembangunan infrastruktur LNG yang salah satunya adalah LNG Hub juga ditujukan untuk menjawab tantangan imbalance supply & demand. LNG Hub akan menjadi key enabler dalam memperkuat reliability & availability penyaluran gas bumi sebagai energi transisi.

Infrastruktur LNG yang saat ini dimiliki oleh  PGN  diseluruh Indonesia antara lain FSRU Lampung (240 MMSCFD), FSRU Jawabarat  (500 MMSCFD), LNG RT di Lhokseumawe – Aceh (400 MMSCFD) serta LNG Lamong (25-30 BBTUD).

Perencanaan LNG Hub berlokasi di Arun yang terletak di jalur perdagangan Internasional merupakan optimasi aset dan sesuai dengan rencana strategis menyesuaikan potensi pengembangan lapangan migas ke depan. Melalui Perta Arun Gas, saat ini PGN tengah melakukan revitalisasi 1 unit tangki LNG dan diperkirakan dapat beroperasi pada 2025.

PGN juga merencanakan pengembangan LNG Bunkering dibeberapa lokasi seperti Arun, Tanjung Priok dan Bontang. Target dalam jangka pendek adalah bunkering di Bontang yang dapat melayani LNG Fueled Vessel kapasitas 1.000 s/d 15.000 M3 di jalur pelayaran melalui selat makasar menuju Australia (efisiensi 2-3 hari) dengan target COD ditahun 2026.

Selain membangun LNG Hub, mekanisme untuk mengatasi imbalance supply & demand adalah melalui pengembangan bisnis retail dengan moda CNG dan LNG berdasarkan kategori pelanggan (Volume) serta jarak antara lokasi supply dan demand pelanggan. Selanjutnya adalah mapping lokasi SPBU di seluruh wilayah Indonesia (24 Unit SPBG milik PGN dan Pertamina) dengan potensi kebutuhan pelanggan diseluruh Indonesia (15.5 BBTUD) yang dapat dilayani menggunakan CNG.

Layanan CNG dan penetrasi pasar retail juga sangat memungkinan untuk menggunakan tabung Cylinder (kapasitas 24 m3 per tabung). Proyeksi kebutuhan gasnya untuk 0,5 BBTUD, membutuhkan 1.320 tabung. Sedangkan untuk supply – chain LNG menggunakan isotank. Saat ini sudah dijalankan di Bontang oleh PT Pertagas Niaga.

Hedi Hedianto, General Manager, Sales and Operation Region III PT Perusahaan Gas Negara Tbk menambahkan jika pipanisasi Dusem tersambung, sudah bisa menghubungkan Jawa dan Sumatera. PGN punya pengalaman panjang tentang siklus soal serapan gas.

“Jatim dulu kurang stok gas sekarang surplus, sebaliknya Jateng dan Jabar sehingga bisa terjadi gas balance. Harapannya menjaga gas balance supply dan demand. Nanti kita lihat ke depannya memiliki potensi cadangan,” jelasnya.

Begitu ada kondisi defisit jelas Hedi Hedianto dari hulu juga didorong pemerintah eksplorasi ditambah pengelolaan gas sendiri. Peningkatan industry di Jateng yang meningkat di Kawasan Industri di Kendal, menyebabkan kebutuhan kilang di Cilacap cukup besar. Pipanisasi Tegal-Cilacap bisa menjadi kebutuhan dan potensi industry deman baru di sekitar yang selama ini menggunakan energy lain.

PGN Pacu Investasi di Jateng Manfaatkan Pipa Cisem Tahap II 

PT PGN Tbk bersama Anak Perusahaan yakni PT Pertamina Gas (Pertagas) siap mendukung pemanfaatan Pipa Transmisi Gas Cirebon – Semarang Tahap II (Pipa Cisem Tahap II) yang diresmikan pembangunannya oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Senin, 30/9/2024 lalu. (dok/duta.co)

PT PGN Tbk bersama Anak Perusahaan yakni PT Pertamina Gas (Pertagas) siap mendukung pemanfaatan Pipa Transmisi Gas Cirebon – Semarang Tahap II (Pipa Cisem Tahap II) yang diresmikan pembangunannya oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Senin, 30/9/2024 lalu.

Proyek Cisem Tahap II akan melengkapi Cisem Tahap I selesai dibangun pada tahun 2023 dan sudah beroperasi untuk memasok kebutuhan gas bumi di Kawasan Industri Kendal serta Kawasan Industri Terpadu Batang.

Menteri ESDM Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan Pipa Cisem II upaya akselerasi pemerintah dalam menarik investasi terutama di KIT Batang.  Salah satu master plan yang dirancang bagaimana menjadikan kawasan ini menjadi keunggulan yang komparatif dibanding kawasan industri lain. Diantaranya adalah dengan jalan toll, infrastruktur harus dibangun salah satu di dalamnya adalah infrastruktur  gas untuk bahan bakar.

Pipa Cisem II, lanjut Bahlil, bentuk kolaborasi pemerintah, BUMN dan swasta. “Diharap setelah pengelelasan ini nanti akan dikelola oleh PGN.  Cisem I dan Cisem II semacam jalan toll, toll versi gas,” kata Bahlil.

Sumber gas proyek Cisem II berasal dari Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) dan Long Term Plan (LTP) yang berasal dari potensi seluruh WK yang ada di wilayah Jawa Timur (WK Agung dan WK Bulu). Sedangkan untuk penerima manfaat dari pembangunan proyek Cisem II antara lain Kilang Cilacap, Kilang Balongan, berbagai industri di wilayah Jawa Barat, Jargas rumah tangga, serta tambahan kebutuhan dari Pupuk Kujang.

“PGN dan Pertagas sebagai bagian dari Holding Migas Pertamina siap untuk mendukung pemanfaatan Pipa Cisem II. Tersambungnia Pipa Cisem I dengan Pipa Cisem II nantinya memberikan benefit yang besar terhadap pemenuhan gas bumi. Seperti yang cita-citakan oleh pemerintah, kami siap dalam hal pengelolaan, distribusi dan monetisasi gas bumi agar dapat menarik investor dan menumbuhkan perekonomian,” ujar Direktur Utama PGN Arief Setiawan Handoko.

Arief menambahkan, PGN juga akan memiliki fleksibilitas penyaluran gas bumi khususnya dari Jawa Timur menuju pusat-pusat pasar baik yang berada di Jawa Tengah maupun Jawa Bagian Barat. PGN siap melakukan pengelolaan operasi dalam rangka menyediakan kepastian pasokan bagi market baik rumah tangga, usaha kecil, komersial industri sehingga perekonomian akan tumbuh seperti yang ditargetkan oleh pemerintah.

Salah satu rencana optimalisasi pemanfaatan Pipa Transmisi Cisem II yaitu rencana gasifikasi kilang Refinery Unit IV Cilacap (RU IV Cilacap) dan sejalan dengan integrasi pipa transmisi gas bumi di Pulau Jawa. PGN akan membangun infrastruktur distribusi gas yaitu Pipa Tegal – Cilacap. Pipa ini juga direncanakan untuk memperluas jangkauan infrastruktur gas bumi di Pulau Jawa sisi selatan maupun pelanggan potensial yang berada di sepanjang jalur pipa, sehingga pemanfaatan gas bumi akan meningkat.

Proyek Pipa Tegal – Cilacap dijadwalkan dimulai pada tahun 2025 dan commissioning pada Triwulan 3 2026 dengan colume yang dialirkan menuju R IV Cilacap sebesar 51 MMSCFD. Progress saat ini, PGN dan PT Kilang Pertamina internasional (KPI) telah menandatangani Heads of Agreement (HOA) tentang jual beli gas bumi untuk Kilang RU IV Cilacap.

Jargas RT, Lebih Murah, Efisien dan Aman

JARGAS RT : Penggunaan gas RT lebih murah, efisien dan aman. (dok/duta.co)

Meski usagenya kecil, penggunaan gas rumah tangga menjadi kunci mengurangi subsidi energy penggunaan gas  LPG 3 kg. Saat ini jaringan gas (jargas) di SOR 3 sekitar 200 ribuan yang tersebar di Jateng, Jateng, Kalimantan, Sulawesi (wajo-banggai) sorong. PGN targetkan 117 ribu total pembangunan baru.  Jatim sendiri potensinya lumayan besar jargasnya.

Hedi Hedianto, General Manager, Sales and Operation Region III PT Perusahaan Gas Negara Tbk mengatakan tahun 2025 target SR baru sebesar 40-50 ribuan dengan grand plan tetap satu juta jargas meski sudah di revisi menjadi 2,5 juta Rencana Jangka Menengah-Panjang.

“Saat ini di SOR 3 ada 150 ribu SR. Tahun 2025 programnya di daerah Probolinggo, Pasuruan, Jateng dan Sulawesi. Penetrasi dan peminatan jargas ada dan besar. Tantangannya di wilayah pengembangan jargas, masih ada pilihan LPG bahkan daerah tertentu msih ada kayu bakar.”

Hedi menambahkan terus edukasi  dengan fokus daerah yang infrstruktur pipanya sudah ada. Kalaupun tidak ada jaringan pipa jargas potensial jauh dari pipa pakai beyond pipeline CNG. Di IKN juga tahap awal pakai CNG.

“Jargas IKN target hampir 10 ribu SR dan kemarin sudah gassin disana dan kita bagusnya sudah terencana. Pemerintah bangun multi Utlity tunnel, listrik, air dan diatasnya pipa gas PGN. Kita singkronkan pengembangan kawasan,” ujar Hedi.

Hedi menceritakan salah satu kota tersukses dalam jargas yakni Kota Tarakan. Dimana Kota Tarakan dengan jumlah pendudukanya tidak besar  tercatat 32 ribu SR. Hampir semua rumah di Tarakan menggunakan gas. Kunci keberhasilan Kota Tarakan dalam penggunaan gas yang dimulai tahun 2015 lalu dukungan pemerintah.

“Kota Tarakan dekat dengan sumber gas, ekosistim jargas sudah ada namun berjalan sesuai rencana karena pengurangan distribusi LPG 3 kg. Bauran energy butuh dukungan pemerintah dengan maksimalisasi ekosistim gas yang sudah ada.”

Hedi menegaskan kalau di wilayah gas masih ada LPG apalagi yang 3 kg karena subsidi, masyarakat kecenderungan masih pilih LPG.  Kalau dengan LPG 12 kg, per kg 18 ribu, sementara gas mandiri 10 ribu per m2, lebih murah menggunakan gas.

“Biaya abonemen minimum 4 m2 berarti Rp 40 ribu. Pastinya lebih, efisien dan aman. Jangan takut dengan instalasi jargas RT dijamin aman sesuai standar. Mereka yang sudah menggunakan gas pasti tidak mau direpotkan beralih ke LPG. Ini tantagan bagi PGN maksimalisasi gas di wilayah yang sudah ada jaringan pipa ataupun pengembangan yang diluar,” jelas Hedi.

Prof. Drs. Ec. Abdul  Mongid, MA, Ph,D Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unesa menekankan kunci pengurangan subsidi energy kususnya LPG 3 kg pada sinergitas dan peran aktif pemerintah. Maksimalisasi jargas PGN bisa solusi gantikan LPG 3 kg sangat mungkin bisa dilakukan asalkan keseriusan pemerintah.

“Caranya kurangi pasokan LPG 3 kg di wilayah yang masuk mapping pembangunan jargas. Klau gas belum masuk kan tidak mungkin LPG subsidi dicabut. Kalau penggunaan KTP sebagai syarat beli LPG 3 kg tetap bisa diakal dengan bebagai cara. Surplus gas harusnya menjadi momen pengurangan subsidi energy,” jelas Abdul Mongid.

Terus meningkatnya subsidi energy harus dibarengi dengan kerja keras mereduksi energi baru yang kenyataannya ada, bahkan surplus yakni gas. Edukasi penggunaan gas, dan dukungan regulasi mengurangi pasokan LPG subsidi menjadi penting dari kesuksesan pengurangan subsidi.

“Kalau tidak susah sekali, bahkan menjadi beban APBN siapapun Menkeu dan Presidennya. Bukti keberhasilan PGN kenalkan jargas di Probolinggo, Lumajang dan kabupaten lain indikasi bahwa gas menjadi solusi. Selain lebih murah pastinya, efisien dan tidak ruwet dibandingkan menggunakan LPG,” ujar Abdul Mongid.

Maksimalisasi jargas tidak hanya wilayah yang dilalui jaringan pipa, bisa juga pengembangan jaringan menggunakan skema Compressed Natural Gas (CNG) Clustering. CNG Clustering dipakai karena wilayah Kabupaten Sleman belum terjangkau oleh jaringan pipa transmisi maupun distrbusi gas bumi. Maka dari itu, gas bumi dari Blora diangkut dalam bentuk CNG menggunakan truk Gas Transport Module (GTM), kemudian dikompres untuk diturunkan tekanannya sebelum disalurkan ke rumah-rumah pelanggan.

Karenanya Direktur Utama PT PGN Tbk Arief Setiawan Handoko inspeksi pengembangan jargas untuk rumah tangga di Kabupaten Sleman, DIY. Yogyakarta. Sampai dengan saat ini, jargas rumah tangga di Sleman sudah terpasang sebanyak 3.500 sambungan Rumah (SR) dari target sebanyak 7.000 SR. Jumlah pelanggan akan terus meningkat seiring dengan infrastruktur jargas yang terus dibangun di wilayah ini.

“Layanan gas bumi untuk rumah tangga merupakan bentuk kewajiban PGN melaksanakan public service obligation. Jadi PGN berkewajiban untuk melayani masyarakat. Selain melayani masyarakat, kami menuju program net zero emission,” ujar Arief.

Program jargas juga diharapkan dapat mengurangi impor LPG, sekaligus juga mengurangi penggunaan LPG bersubsidi. “Karena LPG masih impor, maka jargas akan membantu mengurangi beban arus impor dan subsidi LPG. Mudah-mudahan penggunaan jargas semakin banyak dicontoh ibu-ibu lain agar masak lebih efisien dan cepat,” ujar Arief.

Arief juga menghimbau agar tim PGN yang bertugas di area Yogyakarta menggencarkan sosialisasi pemanfaatan jargas kepada masyarakat. Termasuk edukasi terkait keselamatan penggunaan gas bumi. Mengingat Yogyakarta merupakan wilayah pengembangan baru, maka PGN perlu memberikan edukasi ke masyarakat yang wilayahnya dilalui pipa jargas.

Arief berkesempatan mengunjungi pelanggan sekaligus melakukan gas in. “Safety adalah nomor satu bagi kita. Maka penting diinformasikan bahwa kalau gas bumi sifatnya lebih ringan udara. Kalau ada kebocoran, gas bumi mudah terdeteksi karena diberi aroma pembau, sehingga valve bisa segera ditutup oleh pelanggan,” jelasnya.

Keunggulan jargas yang lebih safety pun menjadi daya tarik bagi Maria untuk berkenan menggunakan jargas PGN. Ia juga antusias karena jargas dapat digunakan selama 24 jam. “Pembayarannya juga gampang menggunakan mobile banking, e-wallet atau di jaringan mini market terdekat,” katanya.

Senada dengan Maria, Ita juga menyambut Gas In gas bumi di rumahnya dengan antusias.  “Sebelumya kami sekeluarga menggunakan tabung gas beberapa macam ukuran. Lalu ada kabar baik dari PGN menawarkan untuk konversi ke gas bumi. Tidak perlu risau kehabisan gas karena dapat digunakan setiap saat dan pembayaran bisa via online. Saya berharap bisa PGN bisa mensosialisasikan ke ibu-ibu bahwa gas yang dipakai dari PGN lebih bagus, baik dari sisi keamanan dan efisiensi,” ujar Ita.

Integrasikan Infrastruktur Gas Bumi  Nasional Jaga Kinerja PGN

KINERJA : Sampai semster 1 tahun 2024 kinerja PGN cukup bagus. (dok/duta.co)

PGN  terus melakukan inisiatif untuk memperluas pemanfaatan gas bumi di berbagai segmen pelanggan di Indonesia. Selama 4 tahun, pendapatan konsolidasi menunjukkan tren kenaikan, dengan pertumbuhan 8% dari tahun 2020 – 2023, yang didukung oleh volume niaga gas dan transportasi gas yang merupakan kontributor utama sebesar kurang lebih 70% bagi pendapatan Perusahaan.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, mulai tahun 2021 PGN dapat mengelola dan menjaga profitabilitas konsolidasi, yang sangat penting untuk mendukung kemampuan Perseroan untuk berinvestasi dan bertumbuh secara berkelanjutan.

Sepanjang enam bulan pertama tahun 2024, volume gas bumi yang mayoritas berasal dari gas pipa atau sebesar 99,6% kontribusi masih menjadi penopang utama kinerja PGN. Sedangkan untuk komersialisasi LNG regasifikasi sebesar 0,4%. Berdasarkan sumber gas, sebesar 38% berasal dari Pertamina Grup dan sisanya dari gas supplier lainnya termasuk Corridor Block.

Pendapatan PGN pada semester I 2024 tercatat sebesar USD 1,839 miliar atau meningkat 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Year on Year/YoY). Pada saat yang sama beban pokok pendapatan meningkat hanya 1% menjadi USD 1,432 miliar pada semester 1 2024 dibandingkan USD 1,415 miliar pada semester 1 2023 sehingga laba kotor tercatat naik 11% menjadi sebesar USD 407 juta dibandingkan USD 368 juta YoY.

“Secara keseluruhan, Perseroan telah menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan profitabilitas yang meningkat. Kami percaya dengan terus menjalankan strategi bisnis yang telah ditetapkan, melakukan pengelolaan operasional secara optimal dan efisien serta penerapan Manajemen keuangan dan Manajemen risiko yang prudent, Perseroan akan mampu menghadapi tantangan dan peluang,” ujar Direktur Utama PGN, Arief Setiawan Handoko.

Untuk saat ini dan kedepannya, infrastruktur pipa dengan infrastruktur gas bumi beyond pipeline akan menjadi skema andalan PGN dalam optimalisasi pemanfaatan gas bumi. Lantaran dari sisi operasional, secara umum pencapaian segmen niaga gas bumi juga dipengaruhi oleh ketidakseimbangan supply dan demand. Terdapat penurunan volume pasokan gas pipa akibat natural decline (penurunan alami kondisi sumur) dari pemasok di wilayah Sumatera dan Jawa serta adanya libur Lebaran di kuartal 2 2024. Tantangan pasokan tersebut perlu diantisipasi dengan mulai menambah pasokan gas dari LNG.

“Perusahaan terus menjalankan strategi yang terukur dan sejalan dengan rencana pemerintah untuk terus mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi. Untuk itu perusahaan melakukan sejumlah inisiatif diantaranya dengan membangun dan menambah infrastruktur gas bumi yang terintegrasi untuk mendorong perluasan segmen pengguna,” ujar Arief.

Arief menambahkan sejumlah inisiatif tersebut akan mendorong kehandalan bisnis utama Perusahaan secara berkelanjutan dan jangka panjang. Pada saat yang sama, PGN tetap mengedepankan inovasi dan solusi untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan para pelanggan termasuk salah satunya menghadirkan LNG di tengah menurunnya pasokan alami (natural decline) gas bumi di sejumlah sumur eksisting.

Pengembangan Infrastruktur Utama tahun 2025-2027 yang telah disiapkan oleh Perseroan untuk memastikan pertumbuhan bisnis Perseroan. Di tengah situasi yang menantang, mengambil momentum perbaikan ekonomi, percepatan transisi energi, serta kebutuhan untuk mengembangkan segmen bisnis/ produk turunan di masa depan yang mendukung penurunan emisi karbon (low carbon business).

Peningkatan penggunaan LNG telah tercermin dari pencapaian regasifikasi gas LNG melalui Terminal Use Agreement (TUA) FSRU Lampung. Seiring dengan pemenuhan kebutuhan pelanggan dan optimasi FSRU Lampung, volume penyaluran gas mencapai 65 BBTUD atau meningkat 76% dibandingkan dengan periode Januari-Juni 2023. Imam ghozali

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry