Mita Kopiyah bersama sapi-sapi kesayangannya. DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Susu sapi perah menjadi produk andalan warga Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung. Termasuk bagi pasangan Mita Kopiyah dan Slamet Hariyadi.

Pasangan ini memiliki 15 ekor sapi perah. Tidak semua memproduksi susu. Hanya delapan ekor yang bisa memproduksi, sisanya ada yang masih kecil dan proses kehamilan.

Sapi-sapi itu miliknya sendiri. Padahal pada 2000 hingga 2007, keduanya memelihara sapi milik orang lain. “Alhamdulillah. Semua berkat kerja keras,” ujar Mita.

Tapi, 15 ekor sapi itu tidak dimilikinya dengan mudah. Sapi-sapi itu dimilikinya bertahap.

Justru jumlahnya bertambah banyak sejak Mita mengikuti program farmer2farmer  yang digelar Frisian Flag Indonesia (FFI). Mita mendapat pelatihan langsung di Belanda untuk program ini.

Dengan bergabung program ini pada 2018 lalu, jumlah produksi susu dari sapi-sapinya juga bertambah. Dengan bertambahnya jumlah produksi susu, secara otomatis usahanya itu terus berkembang dan jumlah sapi yang dimiliki juga ikut bertambah.

Meningkatnya jumlah produksi itu tidak lain karena Mita dan Slamet diajari tentang manajemen kandang. Serta diajarkan sistem pemeliharaan dengan standar “Good Farming Practices For Animal Production Food Safety”.

Dari pelatihan itu, Mita akhirnya sadar bahwa sistem dan konsep yang diterapkan salah besar.

Sebelumnya, Mita dan Slamet berpikiran bahwa kandang yang bersih itu selalu basah. Padahal, konsep itu membuat sapi rentan terkena bakteri. Bahkan bisa mengalami penyakit mastitis.

Penyakit ini adalah radang yang menyebabkan sapi tidak bisa diperah. Kalau sudah terkena penyakit ini, biaya operasional yang ditanggung peternak sangat tinggi, terutama biaya pakan.

Selain itu, masalah pakan yang salah. Sebelumnya mereka memberikan pakan komboran (konsentrat) sebelum diberi pakan rumput gajah dan daun jagung.

Dengan cara itu , justru sapi tidak mau makan rumput-rumput karena sudah kenyang dengan komboran. Padahal rumput adalah pakan terbaik untuk sapi-sapi itu. Jumlah pakan dari rumput itu pun ditentukan, di mana jumlahnya minimal 10 persen dari berat badan sapi dalam sehari.

Selain itu, juga masalah pemberian air untuk minum. Sebelumnya air minum diberikan terbatas hanya waktu pagi dan sore.

Padahal, harusnya air minum disediakan terus menerus. Jika sapi haus bisa dengan mudah minum. Karena air minum juga menjadi penentu kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan.

Belum lagi masalah sirkulasi udara kandang yang harus bagus, cukup sinar matahari dan tidak terlalu lembab. “Sangat bermanfaat bagi kami. Memang tidak mudah menjalaninya, tapi begitu dijalankan hasilnya luar biasa,” ujar Mita.

Dengan konsep yang lama, produksi susu hanya 10 hingga 12 liter per ekor per hari. Sekarang bisa meningkat hingga 15, 18 bahkan 25 liter per ekor per hari dari dua kali pemerahan yakni pagi pukul 05.00 dan pukul 17.00 WIB.

Dari program farmer2farmer ini, Mita merasakan manfaatnya. Karena program ini, kesejahteraan keluarganya juga terus meningkat.

Dia mengaku bisa membeli banyak lahan untuk ditanami jagung dan rumput gajah, agar bisa jadi pakan sapi-sapinya. “Kalau beli mahal,” tukasnya.

Dari program ini pula, Mita mengaku bisa  beli mobil, menyekolahkan anak-anaknya dan hidup secara layak. “Saya dan suami juga menularkan farmer2farmer ini ke masyarakat sekitar agar produktivitas mereka terus meningkat,” ungkapnya.

Fajar Setia Budi, DDP Supervisor FFI mengatakan, awalnya sulit mengubah mindset peternak di desa Penjor tersebut. Karenanya, pihak FFI akhirnya menjalin kerjasama terlebih dulu dengan koperasi setempat agar edukasi ke peternak bisa tepat sasaran.

“Kita pilih empat atau lima peternak,  dikumpulkan untuk sharing progran ini. Tiap tiga bulan sekali kita ajak diakusi. Membahas masalah antar peternak karena masing-masing memiliki permasalahan yang berbeda-beda,” jelas Fajar. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry