SURABAYA | duta.co – Persoalan klasik di dunia pertanian masih saja terjadi. Di Jawa Timur, sejumlah petani mengaku pusing dengan kelangkaan pupuk. Sedangkan di sisi lain, terjadi penurunan harga gabah saat panen raya.

Keluhan-keluhan tersebut disampaikan para petani kepada Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jawa Timur, Anwar Sadad saat menemui kalangan petani di kawasan Tambaksari Kraton, Kabupaten Pasuruan.

“Saya berharap produktivitas pertanian kita tetap terjaga seperti halnya tiga tahun terakhir ini, yaitu di kisaran angka 10 juta ton dalam setahun,” kata Sadad yang juga Wakil Ketua DPRD Jatim ini, Jumat (5/8/2022).

Menanggapi hal ini, Sadad menyatakan telah menampung semua keluhan petani.

“Banyak persoalan klasik yang selalu terulang dari tahun ke tahun, misalnya kelangkaan pupuk, harga gabah yang anjlok saat panen raya dan hama,” jelasnya.

Untuk persoalan kelangkaan pupuk, Sadad berharap pemerintah bisa memberikan edukasi kepada petani tentang pemakaian pupuk non organik.

Politisi keluarga Ponpes Sidogiri Pasuruan ini mendorong pemprov Jatim untuk mengatasi masalah ini. Lepas dari apapun penyebab gagal panen yang terindikasi di beberapa titik di kabupaten atau kota, pemprov harus turun tangan.

“Pemprov harus segera melakukan langkah antisipatif untuk melindungi pertanian di Jawa Timur,” jelasnya menambahkan.

Sebelumnya, para petani di Pasuruan sambat dan wadul pada Wakil Ketua DPRD Jatim, Anwar Sadad. Saat itu Ia bertemu tiga kelompok tani di kawasan tersebut.

Ada tiga poktan yang mengelola sawah seluas 110 hektare. Hanya saja, ada sekitar 30 hektare di antaranya mengalami gagal panen. Seperti yang disampaikan Mat Basa, salah seorang petani setempat yang mengaku mengalami gagal panen dan merugi.

Hasil penjualan gabah disebut hanya sekitar 60 persen dari modal yang dikeluarkan. Hal yang sama juga disampaikan Ketua Poktan, Abdullah yang juga mengeluh tidak seragamnya waktu tanam dari petani.

“Petani yang mulai menanam bulan Mei tidak mengalami kendala, tapi yang mulai tanam di bulan April sebagian besar gagal,” kata pria 60 tahun tersebut.

Kegagalan diperkirakan juga karena faktor cuaca yang tidak menentu dan belum memungkinkan. Apalagi, pemprov mempercepat masa tanam di bulan April lalu. Zal

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry