SIDAK: Rombongan Bulog Sub Drive Surabaya Utara, Kodim O817 Gresik dan KTNA Gresik dalam sidak, Kamis (16/3/2017). Duta/Much Shopii

GRESIK | duta.co – Petani di Gresik lebih memilih menjual hasil panennya pada tengkulak karena  berani membeli harga lebih tinggi dibandingkan Badan Urusan Logistik (Bulog).

“Justru tengkulak berani membeli dengan harga lebih tinggi. Gabah Kering Panen (GKP) dengan kadar air 32,5 persen dibeli dengan harga Rp 3.700 per kilogram. Padahal, Bulog membeli dengan harga 3.700 per kilogram kalau kadar airnya 26 sampai 30 persen,” ujar Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Gresik Hamzah Takim SP, Kamis (16/3/2017).

Sebelumnya, KTNA diajak mengikuti inspeksi mendadak (sidak) bersama Kepala Sub Divre (Kasubdivre) Bulog Surabaya Utara Cecep Panji Nadia bersama Kodim 0817 Gresik, Dinas Pertanian (Distan) Gresik ke Desa Jogodalu Kecamatan Benjeng.

Ditambahkan, Bulog melakukan sidak karena ingin melindungi agar harga GKP diitingkat petani tak jatuh. “Ini sudah menjadi hukum pasar. Petani akan menjual kepada pembeli dengan harga lebih tinggi,” imbuhnya.

Dijelaskan Hamzah Takim, sidak dilakukan karena ada informasi kalau harga  di tingkat petani dijual murah yakni sekitar Rp 3.600 perkilogram. Maka, Bulog melakukan sidak agar harga GKP petani tidak jatuh.

Berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 15 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras oleh Pemerintah menyebutkan, harga pembelian pemerintah (HPP) GKP sebesar Rp 3.700 per kilogram dan HPP beras sebesar Rp 7.300 per kilogram.

“Kami sidak bareng-bareng ke Desa Jogodalu karena sedang panen raya,” cetusnya.

Kenyataannya, hasil panen petani disana, kadar air gabah mencapai 32,5 persen. Namun, petani minta dibeli seharga Rp 3.700 perkilogram. Padahal, Bulog hanya bersedia membeli gabah panen di tingkat petani kalau kadar air maksimal 30 persen. Itupun harganya dipatok sebesar Rp 3.700 perkilogram. Praktis, Bulog Sub Drive Surabaya Utara tidak mau menyerap gabah dari petani yang harganya diatas patokan.

Lantas, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat juga menunjukkan  gabah panen dengan kadar 26 persen.”Tapi, petani tak mau kalau dibeli dengan harga Rp 3.700 per kilogram. Mereka minta harga sebesar Rp 3.900 per kilogram. Karena tengkulak berani membeli dengan harga itu,”imbuhnya.

Karena permintaan harga terlalu tinggi, otomatis Sub Divre  Bulog Surabaya Utara tidak berani untk menyerapnya. Tapi, hasil sidak menunjukkan tidak ada harga gabah yang sesuai standar tetapi Bulog dibeli dengan harga dibawah ketentuan.

Menurut Hamzah Takim, kondisi cuaca yang sudah mulai bagus dengan panas mencukupi, membawa keberuntungan pada petani. Sebab, harga dari hasil panennya ikut naik. pii

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry