Petani asal Ngnjuk yang memotivasi warga tanam Bawang merah, saat panen bersama penyuluh dan staf Sarpras Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo Selasa (3/8/21)(FT/LOETFI)

SIDOARJO | duta.co – Diperpanjangnya PPKM Level 4 dibeberapa daerah, khususnya Kabupaten Sidoarjo, membuat masyarakat harus berjuang untuk kebutuhan ekonominya. Karena, seliuruh sektor terdampak dari pandemi Covid-19 yang masih melanda ini.

Namun demikian, pemerintah melalui dinas terkait, tidak hentinya memberikan perhatian baik berupa bantuan material maupun non material. Karena, masih ditemukan keluhan warga akan dampak pandemi di Sidoarjo ini. Selain itu, juga menyebabkan salah satunya petani padi beralih ke tanam Bawang merah (holtikultura).

Hal ini disampaikan, Rasikin (57), koordinator penyuluh kecamatan Tarik Sidoarjo di sawah petani, Selasa (3/8/21), mengatakan, menanam bawang merah dinilai memiliki prospek yang sangat baik. Dirinya mengatakan, petani disini mulai menanam bawang merah dan sudah beberapa kali tanam sejak tahun 2020.

“Kebetulan penyuluh di Kecamatan Tarik memberikan bantuan seperti demontrasi plot/tanam di Desa Mergosari. Petaninya sudah mau dan melaksanakan penanaman Bawang merah. Karena, untuk padi sering serang hama tikus, jadi petani disarankan tanam Bawang merah,” terang Rasikin.

Diketahui, keuntungan tanam padi dan Bawang merah untungnya lebih banyak Bawang merah. Dirinya menganalisa bersama petani luasan setengah hektar biaya mencapai 38-40 jutaan. “Kendalanya disini hama tikus yang menyerang, tapi tidak separah tanaman padi,” imbuhnya.

Rasikin juga berharap, pemerintah Sidoarjo juga menggalakkan tanam Bawang merah seperti Nganjuk dan Brebes. “Potensi untuk Sidoarjo cuma kendala di petani, dan keterbatasan biaya dan modal yang besar,” tutup Rasikin.

Sementara, Lilis Sujiatmi, staf Sarpras Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo, yang ditemui duta di lokasi, Selasa, (3/8/21), menjelaskan, pihaknya sudah memberikan bantuan bibit 500 kilo setengah hektar.

“Dengan Dem (demontrasi) kita sosialisasi kan ke petani beralih tanam bawang merah. Karena sekarang lagi prospek. Untuk petani yang bisa berhasil bisa memberi contoh ke petani yang lain mas. Dengan budget (anggaran) yang sama pertama pupuknya mungkin kurang, tanah dari lokasi berbeda pengaruh produksi dengan PH tanah dengan yang lain cuma faktor utama tanah untuk hasil yang bagus,” ujar Lilis.

Kedua, lanjutnya, para petani supaya lebih menggunakan pupuk organik, tidak hanya kimia. Karena, yang ditanam holtikultura, dan disini begitu semua Gapoktan, dan satu kelompok tani yang sudah yakni Podorukun 1.

Salah satu petani, Purani (47), mengatakan, sejak 2016 dirinya sudah mulai tanam Bawang merah. “Alhamdulillah sudah ada pengalaman karena saya lahir (di) Nganjuk, mas,” ujarnya.

“Disini yang jadi kendala utamanya musim tanam kalau pas penghujan pasti akan tumbuh jamur. Dan kurangnya dana untuk modal bertanam Bawang merah,” ucap Purani, petani asal Nganjuk yang juga Kasun di Desa Mergosari.

“Alhamdullah di Mergosari sudah pernah menanam dan dalam setahun 6 kali panen kalau dipaksakan dimusim kemarau. Kalau penjualannya borongan di sawah 16 ribu basah dari sawah mas,” tutup Purani. (loe)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry