Oleh: Suparto Wijoyo*

KAMIS kemarin, 14 Februari 2019, berlangsung pesta penjemputan seorang gubernur perdana yang berstatus secara genderik seorang wanita. Khofifah Indar Parawansa alias Bude Khofifah menduduki singgasana kepemimpinan di Provinsi Jawa Timur untuk mengawali gas pol kerjanya dari pidato di Gedung Negara Grahadi usai dilantik pada hari sebelumnya, Rabu, 13 Februari 2019 di Istana Negara Jakarta. Emil Elestianto Dardak menjabat sebagai wakilnya untuk masa 2019-2024. Sepasang pemimpin ini tergolong muda dan memenuhi selera milenial yang kian kencang terdengar. Pesta penyambutan begitu gempita dipersiapkan dari iring-iringan yang mengambil langkah awal kaki melangkah menuruni tangga pesawat di Juanda, lanjut di Masjid Al-Akbar Surabaya. Ini merupakan segmen kegiatan yang menandakan ada ruhani spiritual. Kepemimpinan bermula dari jejakan kaki di Masjid, tempat umat menyujudkan kehendaknya atas kuasa Rabb-Nya.

Memang dinamika Pilgub Jatim 2018 dulu itu, 27 Juni 2018, telah memberikan pemahaman baru bagi saya atas buku yang telah lama kubaca, sejak 2005, karya besar Paul I Wellman, judulnya The Famale, ya soal Wanita.  Wanita yang membangun sejarahnya dengan segala keunikan dan siasat hebatnya. Wanita menjadi poros perubahan yang  mengkonstruksi peradaban sesuai dengan potensi dirinya, hingga menentukan langkah kerumun partai yang mesti dipanggungkan.  Fenomena  wanita bertahtah sangatlah bernalar historis.

Tahun 521 menjadi penanda Byzantium yang kelak bernama Konstantinopel akan diformat dalam arsitektur yang “gagah perkasa” ataukah “gemulai”, sangatlah dipengaruhi oleh “ribuan ingatan” yang berserak dalam “kolong” perkotaan yang dicitakan otoritas Romawi dengan menjalin persekutuan lintas partai. Paul I Wellman menceritakan dalam kosa kata yang intinya diwartakan bahwa hanya samar-samar sekali ingatan Theodora akan bukit-bukit yang berkabut dan laut biru Cyprus, yang kata orang adalah tempat kelahiran Aphrodite. Ketika ia berumur empat tahun, Acacius membawa keluarganya ke Konstantinopel untuk  bekerja sebagai penjaga beruang dalam sirkus milik Kaum Hijau.

Ingat warna pengusungnya yang ada adalah Hijau … dan Biru. Betapa aneh pengaruh warna-warna ini untuk kehidupan kemaharajaan Romawi dan dunia saat itu. Ini adalah warisan dari Roma purba, ketika para gladiator bertarung di Colleseum atau pengendara kereta berpacu di Circus Maximus, dengan pakaian putih, biru, merah, dan hijau. Dengan cepat Konstantinopel menirunya sambil mempolarisasi posisi para porter warna yang satu menjadi rival yang lainnya, baik di dalam maupun di luar pertandingan. Nafsu judi, hasrat berkuasa, itulah alasan permusuhan mereka. Penyakit yang menghinggapi penduduk Roma dan lebih lagi orang-orang Konstantinopel.

Memang sejak zaman kuno di Roma, Golongan Merah bergabung dengan Golongan Hijau, sedangkan Golongan Putih terserap oleh yang Biru. Jadi yang ada hanya dua golongan, dua partai pengusung koalisi. Di Konstantinopel pembagian ini tetap tak jelas. Begitu getir rasa rivalitas antara mereka, sehingga tidak jarang terjadi perkelahian dan pembunuhan (karakter). Penduduk kota terbelah dua dalam menentukan pilihannya,   bahkan di tingkat provinsi-provinsi terjadi yang demikian itu. Dua sahabat saling membenci, ayah dan anak tersulut cekcok hanya karena soal warna yang menggerombol. Suatu pertentangan yang meneror tahta kerajaan dan memutarbalikkan hukum dikira lumrah. Dalam perkembangannya, kontroversi agama terbawa “meroketkan” rivalitas para pendukung warna itu semakin liar menyebar.

Sampai pada cerita yang menyentuh titik kekuasaan, saya lanjutkan kisahnya: Ketika Theodora untuk kali pertamanya melihat Hipodrome di Konstantinopel, Golongan Hijau sedang mendapat angin. Tempat mereka duduk adalah di bagian barat yang terlindung dari terik matahari sore. Waktu itu Maharaja Anastasius menjagoi Hijau dan para pengikut Monophisite yang didukung Golongan Hijau mendapat tempat di istana. Tetapi sejak Justinus dari Golongan Biru berkuasa, situasi berubah. Kaum Hijau duduk di bagian timur, mereka memanen silau karena sinar matahari sore itu amatlah teriknya. Dengan rasa pahit mereka menantikan kesempatan untuk membalik keadaan.

Namun ketahuilah bahwa koalisi yang dimotori Hijau dan Biru di Jatim ini tidak berlaga dalam “sayap Colleseum” tetapi ada dalam “panggung besar” berpayung Ormas yang sama. Pertandingan yang berkelebat persandingan antara “anak wedok” (KIP)  lan “anak lanang” (GI) dalam trah yang bertradisi sama. Ya sama-sama ingin menduduki tahta yang  disinggahi Pakde Karwo. Dalam hal ini kita tergiring belajar bahwa meski ribuan tahun telah berlalu dari rekam jejak Theodora maupun Anastasius, tetapi soal warna tetaplah abadi melintasi zamannya.

Kemaharayaan Romawi “bermetamorfosis” di Jatim: Hijau dan Merah ada dalam satu persekutuan yang berhadapan dengan Partai Biru dengan tambahan “kunir jingga” yang turut menyerta. Soal warna “kerumun partai” yang terjadi di Roma tahun 521 itu terbersit terang di ranumnya “buah” Pilgub Jatim. Gelak tawa dan taburan gembiran dalam kolom “colleseum” Pilgub Jatim amat kentara pembatas warnanya, tetapi sangat samar gelombang massanya. Meski demikian,  pendarnya tetap ada dalam satu titik koordinat hukum per-Pilkada-an bahwa para calon nakhoda Jatim ini sama-sama meneguhkan tahta wanita, ya wanita yang bertahta. Masing-masing paslon dibalut pesona wanita dengan segala kemurahan batinnya.

Pilgub Jatim ini sejatinya memang menaburkan sparkling warna wanita dengan watak dasar yang nadanya  menggedor kesadaran warga.  Semua dapat dibaca sebagai penanda perpolitikan yang tampak  tenang, tetapi dapat pula menyembulkan gelombang. Pasangan yang digempur dengan “temaram cahaya Ken Dedes” yang pernah menghiasi “kakawin” pendirian Singosari terlihat menggelitik ketenangan para pengusungnya. Semburat “beningnya Ken Dedes” menjadi gerhana yang menggelapkan  kedai Tumapel dalam rentang 1216-1222. Pada tahun 1222-1227 amatlah penuh romantika, karena suksesi juga digelar dengan keterlibatan wanita: Ken Dedes di “bentang alam” pemerintahan.

Biarlah lembar Ken Dedes dan Ken Arok itu menjadi pembelajaran literasi sejarah yang bagus dengan bungkus yang terkadang sangat legendaris meski   inspiratif: Temon yang anak pinggiran dari Nyi Endok yang mengalami pembuaian dari “Sang Brahmana” alias Tunggul Ametung sendiri telah mampu memantapkan diri menggapai derajat Ken, hingga tersemati namanya menjadi Ken Arok, Sang Prabu Rajasa. Karir politik yang  dilalui bersumbu dari gelora  peran wanita, sekaligus produk dari tempaan “rajin sekolah”  ke Bangau Samparan (“preman tobat”) maupun Mpu Purwa, ayah dari Ken Dedes. Pergantian kekuasaan maupun perebutan tahta di Singasari pun tidak luput dari “gerakan” kaum wanita.

Tarikh 1293 saat diproklamasikannya Kemaharajaan Majapahit dengan Raden Wijaya sebagai Sang Noto, tak luput dari peran besar Gayatri, anak cerdas dan aduhai, yang mahir strategi dari trah Kertanegara, Bapak Nusantara yang sangat berkesan dalam benak kenegaraanku. Raden Wijaya mendapatkan “guru agung” justru dari permasuri yang bermahkotahkan spirit Pradnyaparamita, punjer bijaknya kebijakan yang menyamudra ilmunya. Gayatri dalam berbagai pustaka klasik yang terbit di tahun 1365-1385 sangatlah berpengaruh dalam menentukan perhelatan Majapahit, dan atas nama keluhuran budinya itulah, Perdana Menteri Gadjah Mada pada 1362 harus menggelar upacara Banawa Sekar untuk mengenang jasa-jasa besar Ibu Utama Negara yang telah memenuhi panggilan Tuhan. Kidung dari Empu Tanakung dapat dieksplorasi oleh para pembaca Tajalli. Matur nuwun Pakde Karwo atas kinerja gemilangnya bersama Gus Ipul. Kini estafet itu terjadi dan selamat bekerja Bude Khofifah dan Mas Emil.

*Esais, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.