SERANG | duta.co – Mantan Katib Aam PBNU, Prof Dr KH Malik Madani, hadir dalam halaqah ke-8 Komite Khitthah 1926 Nahdlatul Ulama (KK-26-NU) yang berlangsung Sabtu (6/4/2019) di Pondok Pesantren Tebuireng VIII, di Desa Sanding, Petir, Kab. Serang, Prov. Banten.

Kiai yang pernah menjadi pusat perhatian nahdliyin, karena tampil di ruang registrasi Muktamar ke-33 NU di kawasan GOR Jombang tahun 2015, itu kembali menegaskan pentingnya NU menegakkan khitthah 1926. Dengan begitu, organisasi ini tidak larut dalam politik praktis, politik rendahan.

“Kalau ada pengurus NU menyeret-nyeret organisasi ke politik praktis, dukung-mendukung, itu sesungguhnya sama dengan merendahkan NU,” demikian disampaikan di depan ratusan peserta halaqah ke-8.

Dalam halaqah kali ini peserta mendapat pencerahan tentang pentingnya bersama-sama menegakkan khitthah NU. Selain taushiyah dari Kiai Malik Madani, ada pencerahan dari pengasuh PP Tebuireng, Jombang KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), Prof Dr KH Nasihin Hasan (Jakarta), Prof Dr Rahmat Wahab (Jawa Tengah) dan sejumlah kiai asal Banten.

Gus Solah kemudian menjelaskan isi wejangan yang disampaikan KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo) yang kini populer tidak hanya di kalangan NU, tetapi, juga menjadi jargon nasional. Bahwa ‘NU tidak ke mana-mana, tetapi, ada di mana-mana’.

Menurut Gus Solah, NU tidak ke mana mana, artinya, struktur NU memang tidak boleh ke mana mana. Pengurus NU harus berdiri tegak. Tidak berpihak alias netral dalam politik praktis. Sementara makna ‘NU ada di mana mana’, itu artinya jamaah (warga) NU atau NU kultural realitanya, memang ada di mana-mana.

Diseret ‘Kambing’ itu Sendiri

Bicara soal partai, warga NU tidak hanya berada di satu partai, melainkan menyebar ke seluruh partai yang ada. Bicara soal profesi, warga NU berada di berbagai profesi. “Karena itu, konsekuensinya, jika pengurus NU ke mana mana, tidak berdiri tegak, maka, pasti akan benturan dengan warga NU yang ada di mana-mana,” tegasnya.

Pemahaman seperti ini, lanjut Gus Solah, amat penting khususnya bagi struktur NU. Sebab, dengan tidak ke mana mana (berdiri tegak di tengah/netral), maka, ia berfungsi sebagai patok atau tonggak yang menjadi ikatan bagi seluruh jamaah NU.

Ini yang belakangan berdeser jauh. Fenomena yang terlihat justru struktur NU sebagai patoknya berada di mana mana, ibaratnya, patok tersebut tengah diseret-seret oleh ‘kambing’ itu sendiri. Benturan pun tidak terhindarkan.

Sementara para peserta halaqah juga curhat soal pengurus NU yang dinilai kurang menjaga lisan, tidak mengatur tutur kata sebagi pengurus NU. Ada pengurus NU yang sibuk menakut-nakuti dengan khilafah dalam Pilpres 2019. Bahkan disebutnya kalau jagonya kalah, NU dan pesantren akan menjadi fosil.

“Ini justru menambah resah warga NU. Hal yang tidak mungkin terjadi, dipakai untuk menjustifikasi politik. Ini dilakukan pengurus NU,” tegas salah seorang peserta kepada duta.co. (mus)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.