ADDIS ABABA | duta.co – Pesawat Ethiopian Airlines jatuh setelah lepas landas dari Addis Ababa. Otoritas setempat melaporkan korban tewas berasal dari 35 negara plus satu orang memakai paspor PBB. Satu warga negara Indonesia (WNI) yang tewas dalam insiden jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines diketahui identitasnya bernama Harina Hafitz.
Kedutaan Besar Indonesia di Roma, Italia, sebelumnya menyatakan bahwa satu WNI yang tewas merupakan seorang perempuan yang tinggal di Roma dan bekerja untuk World Food Program atau WFP, badan pangan yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Hari ini tanpa diragukan merupakan hari tersedih yang pernah saya rasakan sebagai Eksekutif Direktur Anda. Kita semua berduka untuk mereka yang meninggal dunia pagi ini dalam tragedi Ethiopian Airlines,” ucap Direktur Eksekutif WFP, David Beasley, dalam pernyataannya, Senin (11/3/2019).
Beasly kemudian menyebut secara detail identitas para staf WFP yang tewas dalam insiden nahas di Addis Ababa, Ethiopia pada Minggu (11/3) waktu setempat.
“Harina Hafitz dari Indonesia, ditugaskan di Roma,” sebut Beasley dalam pernyataannya. Selain Harina yang seorang WNI, terdapat staf-staf WFP lainnya dari Nepal, Italia, China, Rilandia dan Serbia. Total ada tujuh staf WFP yang tewas dalam tragedi itu.
Lebih lanjut, Beasley menyatakan bahwa keluarga korban telah dihubungi dan terus mendapat dukungan dan konseling. Pihak WFP, sebut Beasley, akan melakukan semua hal yang mungkin untuk membantu keluarga korban.
“Saat kita berkabung, mari kita refleksikan bahwa setiap kolega WFP ini bersedia untuk bepergian dan bekerja jauh dari rumah-rumah mereka dan keluarga tercinta mereka untuk membuat dunia ini menjadi tempat lebih baik untuk ditinggali,” ujar Beasly dalam pernyataannya.
“Kita juga berduka untuk kepergian kolega-kolega dari lembaga-lembaga PBB lainnya,” imbuhnya.
Otoritas Ethiopia telah menyatakan 157 penumpang dan awak pesawat jenis Boeing 737 Max 8 itu tewas dalam kecelakaan yang terjadi pada Minggu (11/3) waktu setempat. Pesawat tujuan Nairobi, Kenya itu dilaporkan jatuh beberapa saat setelah lepas landas dari bandara.
Jatuhnya maskapai Ethiopian Airlines ini diliputi tanda tanya. Kabarnya, teknologi baru bernama MCAS diduga jadi penyebabnya.
Diketahui, pesawat yang jatuh merupakan produk Boeing 737 MAX 8. Sebelumnya, jenis pesawat tersebut juga diketahui bermasalah lewat tragedi Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang beberapa waktu lalu.
Ada kemiripan dari kedua tragedi tersebut, di mana pesawatnya sama-sama jatuh tak lama setelah take-off. Menurut situs flightradar24, grafik pesawat Ethiopian Airlines terlihat tak stabil dan kehilangan kecepatan secara dramatis pada detik-detik terakhirnya.
Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Senin (11/3/2019), para ahli dan pakar dunia penerbangan menduga kalau teknologi baru model MAX 8 bernama Manoeuvring Characteristics Augmentation System atau disingkat MCAS sebagai penyebabnya seperti diberitakan media News Australia.
Secara teknis, teknologi MCAS berfungsi untuk mengukur ketinggian bagian moncong pesawat saat mengudara. Apabila bagian moncong pesawat dianggap terlalu tinggi, sistem tersebut akan otomatis menurunkan hidup pesawat.
Sebenarnya, teknologi itu juga hanya akan menyala dalam mode auto-pilot. Masalah akan timbul, apabila teknologi itu menyala pada mode manual.
Namun, para pakar curiga kalau teknologi tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan malah menurunkan bagian moncong pesawat tanpa sebab. Akibatnya, kecepatan pesawat berkurang dan berakibat pada menukiknya pesawat ke daratan dari ketinggian terakhir.
“Ini pertama kalinya Boeing menaruh MCAS yang berfungsi ketika pesawat mencapai ketinggian tertentu terlalu cepat, di mana dapat dapat menghambat pesawat,” ujar pakar dunia penerbangan asal Australia, Neil Hansford.
Sejumlah serikat pekerja pilot pun berujar, kalau perubahan pada sistem kontrol penerbangan di pesawat Boeing model MAX 8 tersebut tidak dijelaskan pada pilot yang menerbangkannya.
Namun, dugaan itu dianggap masih terlalu dini. Perlakuan pilot pada pesawat dengan model berbeda juga memegang faktor penting. Terlebih, terkait teknologi atau sistem pesawat yang harus disetting secara manual.
“Ketika Anda melakukan latihan konversi dari satu model pesawat ke lainnya, bagaimana membenarkan MCAS harus dilakukan secara manual,” tambah Neil.
Fakta lainnya, pihak Boeing langsung mengeluarkan buku manual baru terkait cara menerbangkan pesawat model MAX 8 untuk para pilot paska tragedi Lion Air.
Masalahnya, apakah pihak maskapai Ethiopian Airlines telah melakukan training terkait cara menerbangan model MAX 8 pada para pilotnya. Itu yang menjadi pertanyaan tambahan. (det/wis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.