Bangkai pesawat terbang Bangladesh yang jatuh di Kathmandu, Nepal, 12 Maret 2018. (FT/REUTERS)

KATHMANDU | duta.co – Pesawat maskapai Bangladesh yang membawa 71 penumpang jatuh di Kathmandu, Nepal, Senin (12/3) waktu setempat. Sebanyak 49 orang dilaporkan meninggal dan sekitar 22 orang lainnya mengalami luka-luka. Saat ini, korban luka masih menjalani perawatan medis di rumah sakit setempat, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.

“Sedikitnya 40 orang tewas seketika di lokasi dan sembilan orang lainnya meninggal di dua rumah sakit di Kathmandu,” sebut juru bicara Kepolisian Nepal, Manoj Neupane, kepada AFP, Selasa (13/3/2018).

Otoritas setempat menyatakan ada 71 orang, yang terdiri atas 67 penumpang dan empat awak, dalam pesawat milik maskapai Bangladesh, US Bangla-Airlines, ini. Insiden terjadi saat pesawat yang terbang dari Dhaka ini hendak mendarat di Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu.

Pesawat jenis Bombardier Dash 8 400 turboprop yang berusia 17 tahun ini, menghantam bagian timur landasan dan tergelincir hingga masuk ke lapangan sepakbola dekat bandara. Usai menghantam daratan, pesawat ini terbakar hebat hingga hangus.

Petugas penyelamat terpaksa memotong beberapa bagian badan pesawat untuk mengevakuasi para penumpang. Beberapa korban ditemukan terkubur di bawah reruntuhan pesawat yang tersebar di lokasi jatuhnya pesawat.

Sejumlah saksi mata menyebut pesawat itu menghantam daratan saat melakukan percobaan pendaratan kedua di Bandara Internasional Tribhuvan. Pesawat disebut bergetar hebat saat kehilangan ketinggian dan akhirnya menghantam daratan lalu terbakar.

“Pesawat seharusnya bergerak lurus tapi bergerak ke arah lainnya… kemudian pesawat jatuh ke arah lapangan,” sebut petugas kebersihan bandara, Sushil Chaudhary, yang melihat langsung kecelakaan itu.

Penyebab jatuhnya pesawat ini belum diketahui pasti. Namun menurut pernyataan dari otoritas Bandara Internasional Tribhuvan, pesawat ini ‘kehilangan kendali’ saat akan mendarat. CEO US-Bangla Airlines, Imran Asif, menyalahkan operator menara lalu lintas udara (ATC) Kathmandu dengan menyebut mereka ‘ceroboh’ menangani pendaratan pesawat itu.

“Pilot kami merupakan instruktur pesawat Bombardier ini. Jam terbangnya di atas 5 ribu jam. Ada kecerobohan dari menara kendali,” tuding Asif. Sumber bandara setempat yang enggan disebut namanya menyebut ada kebingungan antara ATC dan pilot pesawat soal ujung landasan bandara Kathmandu, yang disebut sebagai ‘Runway 02’ dan ‘Runway 20’.

Juru bicara bandara setempat, Kamrul Islam, menyebut sebanyak 33 penumpang berkewarganegaraan Nepal, 32 penumpang lainnya berkewarganegaraan Bangladesh dan masing-masing satu penumpang berasal dari China dan Maladewa. Media lokal melaporkan kebanyakan penumpang asal Nepal merupakan mahasiswa yang mudik untuk liburan.

Salah satu korban selamat, Sanam Shakya menuturkan bagaimana dirinya tidak menyadari jika pesawat yang ditumpanginya bermasalah, hingga pesawat menghantam daratan. Shakya menyelamatkan diri dengan memanjat keluar jendela pesawat yang terbakar.

“Pesawat bergerak turun, ke kanan dan ke kiri, naik lalu turun… jadi saya pikir ini hanya masalah lalu lintas udara. Tapi saya baru menyadari pesawat mengalami masalah ketika pesawat mendarat secara paksa,” tutur Shakya (33) dari ranjang rumah sakit, seperti dilansir AFP, Selasa (13/3/2018).

Seorang korban selamat lainnya, Basanta Bohara (27) yang masih bingung, mengaku tidak ingat bagaimana dirinya bisa selamat dari pesawat yang terbakar. “Saya ingat kecelakaannya. Tapi tidak hal lainnya. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa keluar,” ucap Bohara dari ranjang rumah sakit. (afp/dtc)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.