
“Saat Pak Karno kedodoran hadapi agresi militer, justru dunia pesantren menjadi kekuatan inti.”
Oleh Mukhlas Syarkun*
M Natsir tokoh penting dalam sejarah pemikiran dan politik bangsa dan bersama NU dalam paket MIAI yang selanjutnya melahirkan Masyumi.
Ketika Bung Karno mengkritik tradisi pesantren dengan istilah populer Islam sontoloyo yang dianggap menjadi penghambat kemajuan dan kemerdekaan, saat itu Bung Karno sedang gandrung dengan Kamal Tataturk yang dianggap berhasil menumbangkan hegemoni agama atas negara dan melakukan nasionalisasi sampai menyasar cara cara ibadah.
Saat itu Pak Natsir memberikan pembelaan sehingga terjadi polemik panjang antara Bung Karno dan Pak Natsir.
Menurut Pak Natsir justru pesantren lah menjadi benteng terakhir disaat penjajah melakukan dominasi politik, penetrasi kebudayaan dan eksploitasi sumber alam nusantara.
:Hampir semua kekuatan sosial politik ambruk oleh penjajah hanya tinggal kelompok masyarakat pesantren yang berhasil menjadi benteng,” ujar Natsir.
Dunia pesantren secara perlahan membangun kekuatan di tempat terpencil, menumbuhkan kesadaran dan konsolidasi anti penjajah seperti haramnya memakai dasi adalah perlawanan kultural terhadap penjajah.
Saat Pak Karno kedodoran hadapi agresi militer, justru dunia pesantren menjadi kekuatan inti mempertahankan kemerdekaan dengan resolusi jihadnya.
Pemikiran Pak Natsir soal peran pesantren menjadi perhatian perdana menteri Malaysia Anwar Ibrahim, bahkan beberapa kali disampaikan di forum kenegaraan di Malaysia, dan selanjutnya membuat kebijakan memartabatkan dunia pesantren (meningkatkan anggaran dll ) yang sempat ditenggelamkan oleh Mahathir Muhamad.
Perdana Menteri Anwar yang punya latar belakang aktivis Islam melihat dunia pesantren dengan khazanah ilmu dan tradisinya tetap relevan untuk dipertahankan menjadi kekuatan khususnya di alam Melayu menghadapi arus perubahan zaman..
*KH Mukhlas Syarkun, adalah tokoh NU.





































