
Oleh Syarif Thayib (Dosen Sociopreneurship UINSA, Co Founder SEFT)
DISKUSI mendalam tentang HoPES (holistic person empowerment system) atau peta jalan menuju insan kamil, langsung bersama penemunya (founder) Ahmad Faiz Zainuddin sontak membuat banyak peserta Webinar Pendaftaran Beasiswa Santri ASA tercengang.
Sang founder menegaskan, kalau kita ingin hidup bahagia paripurna dan sukses secara menyeluruh, kita tidak bisa mengandalkkan satu dimensi kecerdasan saja. Setidaknya, ada 7 kecerdasan yang harus diberdayakan, termasuk kepada santri Pesantren ASA (Almadina SEFT Academy), pesantren model yang sedang digagas bersama dan launching tahun ajaran 2026-2027 ini.
7 (tujuh) kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual, fisik, finansial, dan estetika yang kemudian menjadi kekuatan kurikulum lokal ASA. Ketujuh kecerdasan ini dalam raport santri tiap semester harus lulus semua (minimal score 7), dan tiga diantaranya harus excellent (score >9).
Kita sepakat, bahwa dimensi spiritual untuk santri adalah yang paling penting diberdayakan, tetapi bukan berarti dimensi lain dianggap tidak penting. Banyak pesantren menekankan dimensi spiritual, kemudian lupa dimensi finansial, akhirnya, begitu lulus dari pesantren, banyak santri bingung urusan finansial.
Seringkali di pesantren masalah uang tabu untuk didiskusikan, begitu keluar dari pesantren, justru masalah finansial menjadi dimensi yang paling mangganggu hidupnya, bahkan mengancam spiritualnya.
Bisa jadi santri-santri alumni itu punya banyak hafalan Qur’an, tetapi gara-gara bingung bagaimana caranya menghasilkan finansial, akhirnya hafalannya hilang gara-gara sibuk mencari uang.
Seandainya skill financial quotient digembleng sejak santri dini, seharusnya begitu keluar dari pesantren sudah punya skill bagaimana menghasilkan uang, mengelola uang, dan melipatgandakan uang.
Berikut penjelasan singkat satu persatu tujuh kecerdasan yang akan diberdayakan pada santri pondok pesantren ASA yang terletak di Jl. Bratang Binangun IX No. 25-27 Surabaya.
Pertama, spiritual, dimensi ini tentu yang menjadi perhatian utama karena menyangkut skill bagaimana membangun hubungan dengan Tuhan. Berbeda dengan religiusitas yang mengatur ketaatan beribadah, spiritualitas seperti ruh, sedangkan religuisitas itu badannya. Spiritualitas merupakan kemampuan beribadah dengan sepenuh cinta, bukan sekedar ritualitas sakral, tetapi benar-benar dilakukan karena cinta, loving God. Kalau cintanya sudah muncul, maka ritualnya bisa lebih istiqamah.
Religiusitas tanpa spiritualitas jadi hampa. Banyak orang yang ibadah haji dan umrahnya rutin tiap tahun, tetapi korupsinya juga jalan terus, seperti tidak nyambung antara ibadah dengan kelakuannya. Maka perlu diberdayakan semangat spiritualitas pada santri dengan kurikulum yang soft, porsi remaja, pra dewasa.
Kedua, dimensi emosional, yaitu bagaimana santri memiliki penguasaan emosi yang cerdas. Dalam kondisi apapun, sebisanya santri bisa mengendalikan emosinya, mereka bisa membangkitkan motivasi internal dalam dirinya, dan seterusnya. Ini yang sedang dikembangkan ASA melalui kurikulum detail, sehingga bisa dipraktekkan santri sehari-hari.
Ketiga, dimensi sosial, yaitu mengatur hubungan dengan orang lain, sesama santri, dengan guru, masyarakat, dan lain-lain dirumuskan dalam kurikulum social skill, hingga terlatih jiwa leadershipnya.
Keempat, dimensi intelektual atau lebih dikenal dengan IQ (intellectual quotient). Kecerdasan ini mengalami pergeseran signifikan setelah adanya AI (artificial intelligent) atau kecerdasan buatan. Sekarang, IQ sudah diambil alih oleh AI. Artinya, orang pinter itu bukan orang yang pandai memberi jawaban, tetapi orang pinter zaman AI adalah orang yang pandai bikin pertanyaan. Karena jawaban bisa diperoleh dengan Chatgbt.
Skill intellectual zaman now itu skill bikin pertanyaan yang tepat, bukan menemukan jawaban yang pas. Sekali lagi, jawaban yang pas bisa diperoleh di Chatgbt, gemini, claude, dan lain-lain. Tetapi membuat pertanyaan yang tepat butuh critical thinking (berpikir kritis) dan kemampuan memberikan solusi yang mudah diterapkan.
Doeloe, knowledge is power, orang yang punya banyak pengetahuan itu yang hebat, tetapi sekarang, dosen bergelar profesor sekalipun sangat mungkin pengetahuannya dikalahkan oleh siswa SD yang terampil mengelola internet dan AI. Inilah mengapa pesantren ASA terus berupaya menemukan another kind of intelligent yang lebih pas untuk santri zaman now.
Kelima, dimensi fisik, yaitu bagaimana santri bisa mengelola fisik menuju tubuh yang prima: tidak mudah sakit, kuat, lentur, dan panjang umur. Santri tidak boleh loyo walaupun dalam penerapannya santri ASA tidak harus seperti siswa SMA Taruna Nusantara yang tubuhnya tegap, kekar seperti tentara.
Keenam, finansial. Dimensi yang di awal tulisan ini sudah dijelaskan. Kurikulumnya menyesuaikan usia santri, bagaimana mereka memahami the value of money, bagaimana praktek skill menghasilkan uang, bisa mengelolanya, serta bisa melipatgandakannya, sehingga bisa lebih banyak berbagi kepada sesama.
Ketujuh, dimensi estetika, yaitu bagaimana santri bisa menciptakan dan merawat lingkungan pesantren awet bersih, rapih, dan wangi, walaupun faktanya di pesantren hal ini paling sulit diterapkan.
Penerapan kurikulum HoPES di atas menjadikan Pesantren ASA sebagai pesantren performance, bukan pesantren tirakat yang mengedepankan latihan lapar (banyak praktek puasa Sunnah) dan menahan kantuk dengan sering bangun malam untuk shalat tahajud, berdzikir, dan seterusnya.
Pesantren performance menuntut santri untuk disiplin mengatur waktu, makan bergizi cukup, istirahat bisa 7 – 8 jam sehari, olahraga cukup, dan pandai mengelola stres.
Penerapan kurikulum HoPES pada pesantren ASA membutuhkan manajemen waktu yang mandiri. Artinya, santri tidak lagi banyak keluar pondok untuk mengikuti pembelajaran sekolah formal maupun ekskul. Pesantren ASA menyelenggarakan pendidikan formal MTs dan MA (setingkat SMP-SMA) di dalam pondok.(*)



































