Muhammad Syaikhon, SHI, MHI – Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

ISLAM adalah agama yang mendambakan akan sebuah perdamaian. Hal ini dapat dipahami dari makna Islam itu sendiri yang berarti selamat dan damai.

Selain itu, ucapan salam (assalamu’alaikum) yang dianjurkan dalam setiap pertemuan individu atau kelompok dengan lainnya juga menunjukkan harapan untuk bisa hidup damai, meskipun di tengah-tengah keberagaman.

Salam yang biasa diucapkan sebagai sebuah sapaan oleh umat Islam tersebut bermakna keselamatan bagi anda. Dengan demikian, perdamaian yang dicita-citakan dalam Islam tidak hanya untuk kehidupan diri pribadi melainkan juga untuk pihak lain.

Istilah Islam yang mengajarkan perdamaian bagi seluruh makhluk adalah suatu hal yang seharusnya diperjuangkan. Tidak dipungkiri bahwa dalam Alquran sendiri memang terdapat beberapa ayat yang memerintahkan untuk berperang.

Keadaan ini mengharuskan umat Islam untuk mempersiapkan kekuatan guna melawan kekuatan musuh. Namun perlu diperhatikan bahwa mempersiapkan diri untuk berperang dan menggunakan cara kekerasan dalam Islam ini adalah salah satu cara untuk menakut-nakuti mereka yang bertujuan untuk membuat kekacauan dan disintegrasi.

Seandainya peperangan tidak dapat dihindari, maka keadaan itu hanya boleh dilakukan untuk menyingkirkan penganiayaan dan itupu dalam batas-batas tertentu. Anak-anak, perempuan, orang yang lanjut usia, kaum lemah, bahkan pepohonan harus dilindungi. Apabila pihak lawan sudah berubah sikap untuk menginginkan perdamaian, maka harus diikuti pula kecenderungan untuk berdamai tersebut.

Hal ini sesuai dengan perintah yang tercantum dalam al-Qur’an surat al-Anfal ayat 61 (kalau mereka cenderung kepada perdamaian, maka sambutlah kecenderungan itu dan berserah dirilah kepada Allah).Nurkholis Madjid mengungkapkan bahwa perang yang benar (perang di jalan Allah) adalah perang yang menghasilkan kelestarian agama-agama dan budaya-budaya sebagaimana yang dilambangkan dalam ketuhanan pranata-pranata keagamaan.

Apabila muncul ancaman untuk menghancurkan suatu agama, termasuk budaya yang benar dan bermanfaat untuk manusia, maka Allah akan turun tangan memenangkan pihak yang benar dan membela kebenaran, yaitu mereka yang membela Allah.

Dengan demikian, nilai-nilai yang dikembangkan oleh ajaran agama Islam adalah menghindari gerakan-gerakan radikalisme atau kekerasan. Apabila cara radikal atau kekerasan tidak dapat dihindarkan, maka perlu diperhatikan sesungguhnya cara kekerasan hanya digunakan untuk menghindari kekerasan dan penindasan atau penganiayaan.

Dengan demikian, sikap radikal atau kekerasan sebenarnya adalah untuk menghidupkan suasana damai dalam masyarakat yang tercermin dalam sikap saling menghormati dan menghargai meskipun berbeda perspektif keagamaan.

Alquran telah mengajarkan perdamaian kepada umat Islam secara universal. Hal ini dapat dipahami dalam surat al-Hajj ayat 40 (seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah).

Menanggapi ayat ini , Ibnu ‘Asyur menyatakan bahwa seandainya tidak ada pembelaan manusia terhadap tempat ibadah kaum muslimin, niscaya kaum musyrikin akan melampui batas, sehingga mereka akan melakukan agresi pula terhadap negeri-negeri tetangga mereka yang penduduknya menganut agama selain Islam yang juga bertentangan dengan kaum musyrikin dalam rangka menghilangkan ajaran tauhid.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Sedangkan Thabathaba’i mengungkapkan bahwa meskipun konteks ayat init adalah penjelasan tentang sebab disyari’atkannya jihad atau perang yang bertujuan memelihara masyarakat agamis dari agresi musuh agama yang berupaya memadamkan nur ilahi. Akan tetapi cakupan makna yang dapat digali adalah semua upaya pembelaan terhadap kemanfaatan manusia serta kemaslahatan hidupnya.

Pembelaan ini menurut Thabathaba’i adalah sunnah fithriyah yang tertancap dalam jiwa manusia.Berdasarkan uraian di atas, perang adalah upaya terakhir yang harus ditempuh apabila jalan lain mengalami jalan buntu. Manusia harus merelakan dirinya untuk berkurban guna mewujudkan tatanan sosial masyarakat yang berkeadilan dan menghilangkan penindasan atau penganiayaan.

Anjuran berperang dalam sejarah perjuangan Rasulullah adalah untuk menghindari agresi dan penyiksaan yang dilakukan orang-orang musyrik terhadap pengikut-pengikut Rasulullah. Seperti yang tertuang dalam surat al-Baqarah ayat 193 (Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zalim). Semoga bermanfaat. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry