
“Gus Islah Bahrawi mengutip kata-kata menarik. “Agar Gus Yahya mau mundur (dari Ketum PBNU) dan jika tidak maka adiknya (Gus Yaqut) di-tersangkakan”. Kok bisa?”
Oleh Mukhlas Syarkun*
MENDENGAR pernyataan Gus Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), bulu kuduk ini, terasa berdiri. merinding mendengar. “Manusia Macam Apa Ini?” tanya Gus Islah di podcast Akbar Faizal Uncensored.
Kira-kira begitulah ekspresi Gus Islah. Lalu siapa yang dimaksud? Tentu mereka yang menyebabkan Gus Yaqut menjadi tersangka. Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut sendiri, mengaku terkaget melihat dua orang mengantarkan surat KPK yang men-tersangkakan dirinya.
Siapa mereka itu? Dari rangkuman podcast itu dapat kita pahami. Pertama, kemungkinan yang dimaksud Presiden Jokowi. Sebab ialah yang loby kouta (tambahan) haji. Ia juga yang menyetujui 50:50. Bahkan konon yang teken kuota tambahan itu bukan Menteri Agama RI (Gus Yaqut) kala itu. Kabarnya ia yang sekaligus perintahkan untuk dijalankan, sementara Menteri Agama justru ditilap alias tidak diajak. Kok bisa? Ini manusia macam apa!!!
Kedua, manusia macam apa itu? Bisa saja tertuju kepada penggerak Pansus DPR RI terkait kuota tambahan haji. Hal ini bisa kita putar ulang peristiwa, yaitu dimulai dari Pansus haji. Padahal mereka jelas tahu siapa yang bermain di tanbahan kuota haji ini.
Pertanyaan berikutnya: Siapa yang menggerakan Pansus? Kata Gus Islah ya PKB. Mengapa? Apakah benar Gus Yaqut berpotensi maju menjadi Ketua Umum PKB? Lalu apa yang salah jika ia ingin maju menjadi Ketum PKB? Lalu mengapa harus di-Pansus-kan kalau dia ternyata tidak tahu soal kuota tambahan haji?
Kalau dicermati, ini tidak lepas dari ‘pertikaian’ politik sesama warga NU. Atau karena Cak Imin tidak mau melepas PKB. Bukankah sudah hampir 20 tahun Cak Imin menahkodai PKB?
“Manusia macam ini,” kata Gus Islah.
Ketiga, dalam podcast itu, Gus Islah Bahrawi mengutip kata-kata menarik. “Agar Gus Yahya mau mundur (dari Ketum PBNU) dan jika tidak maka adiknya di-tersangkakan”. Kok bisa? Apakah ini terkait dengan posisi politik, ada yang ingin menguasai PBNU.
Mengapa mau kuasai PBNU? Apa untungnya? Ternyata NU bisa dan biasa, dikapitalisasi untuk kepentingan politik dan bisnis. Dulu NU hanya punya potensi elektoral, kini ada potensi ghonima tambang, dan itu lebih menggiurkan.
Lalu siapa mereka itu…? Tentu yang menyerang Gus Yahya agar segera mundur dari PBNU. “Manusia macam apa ini…?” Demikian yang tertangkap dari penjelasan Gus Islah tentang, “Manusia macam ini….”?(*)





































